Ia memandang linimasa dengan malas, entah kenapa Ia tak bisa menikmati semua permainan ini lagi. Sebaris keluhan telah Ia lontarkan, tapi saat yang lain bertanya mengapa Ia hanya berkata "aku baik-baik saja." Kebohongan seperti ini sudah biasa.
Tampilkan postingan dengan label FlashFict. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FlashFict. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Desember 2012
Selasa, 30 Oktober 2012
Lullaby and Good Night
“Jangan... jangan bunuh saya...”
Label:
#FFHalloween,
#YUI17Melodies,
FlashFict,
Horror
Sabtu, 08 September 2012
P. S. I Love You
“Delay...”
Aku melirik jam besar yang menggantung di dinding dekat salah satu loket check-in lalu mengalihkan pandanganku pada jadwal kedatangan pesawat pada hari ini. Waktu kedatangannya sudah lewat. Seharusnya pesawat jenis Boeing 737 yang bertolak dari Narita itu sudah mendarat sejak 45 menit yang lalu, tapi tentu saja penundaan seperti ini memang sering terjadi.
Aku melirik jam besar yang menggantung di dinding dekat salah satu loket check-in lalu mengalihkan pandanganku pada jadwal kedatangan pesawat pada hari ini. Waktu kedatangannya sudah lewat. Seharusnya pesawat jenis Boeing 737 yang bertolak dari Narita itu sudah mendarat sejak 45 menit yang lalu, tapi tentu saja penundaan seperti ini memang sering terjadi.
Label:
#30harilagukubercerita,
Cinta,
FlashFict
Minggu, 02 September 2012
The "Role" (I Left Now)
Sign in.
Dia memilih untuk mengarahkan kursor pada tulisan tersebut, pada bagian atas dari halaman social network yang baru saja dibukanya. Dengan ragu-ragu mengetikkan sebuah username dan password, lalu menekan ‘Enter’. Dia tersenyum tipis saat melihat tampilan layar yang berubah, memperlihatkan sederetan nama yang akan membuat orang lain bingung bila baru pertama kali tersesat di tempat ini, lalu mulai menilai. Topik apa yang sedang dibahas oleh linimasanya sekarang ini?
Dia memilih untuk mengarahkan kursor pada tulisan tersebut, pada bagian atas dari halaman social network yang baru saja dibukanya. Dengan ragu-ragu mengetikkan sebuah username dan password, lalu menekan ‘Enter’. Dia tersenyum tipis saat melihat tampilan layar yang berubah, memperlihatkan sederetan nama yang akan membuat orang lain bingung bila baru pertama kali tersesat di tempat ini, lalu mulai menilai. Topik apa yang sedang dibahas oleh linimasanya sekarang ini?
Label:
#30harilagukubercerita,
FlashFict,
Sebuah Cerita
Sabtu, 25 Februari 2012
Ramalan
Lala
memandang langit yang terbentang di atasnya melalui sela-sela jari miliknya. Langit
pada pukul 04.30 benar-benar masih terlihat gelap, padahal sebentar lagi fajar
akan segera tiba. Ia selalu menyukai aktivitas tersebut. Mengendap-endap ke
atas loteng di saat semuanya sudah terlelap, lalu merebahkan tubuhnya ke atas
genting yang keras dan mulai menebak nama rasi bintang yang tertangkap oleh
matanya.
Kali ini ia ingin
berlama-lama menghitung bintang sampai bosan, namun ia tak akan pernah tidur. Karena
ia takut, kalau matanya tertutup nanti, bisa-bisa ia tak akan pernah bangun
lagi. Dan semuanya karena ramalan sial itu.
…
1 bulan yang lalu…
“Ayo
ke stand peramal!” teriak Lala bersemangat pada Sonya. Mereka baru saja
memasuki liburan semester, dan hari ini mereka memutuskan untuk menghabiskannya
di salah satu taman bermain di kota mereka.
“Kau
percaya pada hal seperti itu?” tanya Sonya dengan tatapan tak percaya. Namun saat
ia melihat binar yang muncul pada mata Lala, ia hanya bisa menurut saja saat
Lala menarik dirinya menuju antrean di depan sebuah tenda tempat seorang wanita
tua dengan penampilan eksentrik menebar kartu tarotnya di atas meja.
Antrean
tersebut tak cukup panjang, Lala dan Sonya mendapat giliran setelah menanti
selama kurang lebih 15 menit. Lalu tiba-tiba hal aneh terjadi. Peramal tersebut
seperti kerasukan saat Lala duduk di hadapannya. Ia lalu menarik sebuah kartu,
menatap Lala dari sudut matanya yang memerah, dan berbisik…
“Kau akan mati… sebulan dari
sekarang…” bisiknya lalu membanting sebuah kartu tarot bertuliskan ‘Death’ ke
atas meja.
…
Lala
menggelengkan kepalanya keras-keras saat ingatan tersebut hinggap lagi di
pikirannya. Hari ini adalah sebulan setelah peristiwa tersebut, dan kalau ia
tak salah ingat, peramal tersebut berkata ia akan mati di saat dua jam sebelum
matahari mencapai posisinya yang paling tertinggi. Yang berarti pukul 10 pagi.
“Apakah tak ada kesempatan untuk
merubah ramalan tersebut?” Lala bertutur pada udara kosong di depannya, walau
ia tahu semuanya sia-sia saja.
Tiga
puluh menit sudah lewat sejak pukul 04.30, angin dingin yang berhembus membuat
Lala mulai mengantuk.
‘Kau tak boleh tidur, Lala! Kau tak boleh mati!’ batinnya berseru. Tapi
rasa kantuknya tak bisa ia lawan. Matanya terpejam tepat saat bintang-bintang
yang dilihatnya mulai menghilang. Apakah bintang tersebut akan kembali esok? Ia
tak tahu.
***
“Lala…
Bangun…”
Sayup-sayup
terdengar sebuah suara memanggil namanya. ‘Apakah
aku sudah berada di surga?’ ia membatin. Saat ia membuka mata, cahaya yang
menyilaukan menyerang kedua matanya. Ia melihat langit, mendengar kicau burung
bersahut-sahutan, lalu suara deru mobil.
Tunggu!
Mana mungkin di surga ada mobil?
“Lala!
Bangun! Mau sampai kapan tiduran di atas genting?”
Tiba-tiba Lala
tersadar lalu bangun dari tempat ia terbaring tadi. “Itu suara Ibu!” teriaknya kemudian
berlari mendapatkan Ibunya yang sedang sibuk menyiram tanaman di halaman rumah.
Ia sempat melirik ke arah jam dinding di ruang tamu lalu berteriak semakin
keras saat jam itu menunjukkan pukul 10.23.
“Aku masih hidup, Bu! Aku masih
hidup!” seru Lala sambil memeluk Ibunya.
Ramalan
tersebut ternyata keliru. Tak ada manusia yang bisa menebak tentang masa depan,
karena takdir tak bisa diprediksi. Hari esok tak ada yang tahu… it’s happy
line.
Rabu, 22 Februari 2012
Warna Kebohongan
Kenapa kau tidak mengatakan apapun?
Aku bilang, “Jika ini kebohongan, maka hentikanlah.” YUI - Swing of Lie
Aku bilang, “Jika ini kebohongan, maka hentikanlah.” YUI - Swing of Lie
Awalnya aku tak tahu seperti apa warna dari sebuah kebohongan. Tapi kini kebohongan itu nyata di depanku. Warnanya biru.
"Kita mau makan di mana,
nih?" Ya, kebohongan itu tidak hanya memiliki warna, tapi juga bisa
berbicara bahkan bermanja. Kalau saja sosok yang berada di sampingnya bukan
kamu, aku pasti tak akan merasa semuak ini.
"Terserah kamu saja,
Sayang..." katamu sambil mempererat genggaman kalian. Ada senyuman yang
jujur dari bibirmu, senyum yang dulu sempat kau beri untukku tapi kini sudah
menguap entah ke mana.
Sejak kapan
aku terhimpit di tengah-tengah seperti ini? Atau mungkin aku bahkan tak berada
di antara kalian, malah sudah didepak keluar dari cerita ini. Hanya bisa
menduga-duga, aku benci dengan keterbatasan seperti ini.
Kalian masih
larut dalam bumi yang kalian ciptakan. Kalian bahkan tidak menyadari saat aku
berjalan ke meja kalian dan siap menampar dirimu. Namun, ternyata kebohongan
tak hanya memiliki satu warna. Kali ini bahkan lebih variatif, ada warna kuning
lalu hijau, bahkan ada gambar tokoh kartun di atasnya.
"Papa! Mama!" anak
kecil itu menghambur ke arah kalian, kamu dan gadis dengan terusan biru itu,
lalu kalian tertawa bersama.
Awalnya aku
tak tahu seperti apa warna dari sebuah kebohongan. Tapi hari ini kamu
menunjukkan berbagai warna untukku.
Kurasa aku tak
butuh warna yang lain lagi.
Selasa, 21 Februari 2012
'Memasak'
![]() |
| Minestrone |
Sierra
mengecek persediaan bahan makanan yang masih tersisa. Ia berencana untuk
memasak Minestrone1 untuk
makan malam, tapi persediaan tomat, wortel, buncis, dan jagung di kulkasnya
sudah habis.
“Sepertinya aku harus pergi berbelanja…”
gumam Sierra sambil mengusap-usap dagunya tanda sedang berpikir. Setelah menimbang
tentang membeli bahan makanan yang kurang untuk membuat Minestrone atau membuat
makanan lain dengan bahan yang tersedia, akhirnya Sierra pun menenteng
keranjang belanjaannya lalu bergegas menuju Quickmart yang berada di seberang
rumahnya.
Kehangatan
musim semi menyambut Sierra saat ia melangkah di jalanan sekitar kompleks
rumahnya. Dedaunan yang bergerak mengikuti tiupan angin begitu enak dipandang
mata. Jalanan pun terlihat lenggang, artinya ia tak perlu banyak-banyak
menghirup asap kendaraan bermotor yang berpotensi merusak paru-parunya. Di
kejauhan terlihat danau yang berada di taman kota yang sedang dipenuhi oleh
orang-orang yang sedang asyik memancing. ‘Hmm…
Mungkin aku akan memancing hari minggu nanti,’ kata Sierra dalam hati.
Akhirnya
sebuah gedung bercat kuning dan beratap merah menyambutnya. Buru-buru ia
membeli semua bahan makanan yang dibutuhkannya, lalu kembali ke rumah.
“Minestrone… Minestrone… Malam
ini makan Minestrone…” Sierra bernyanyi asal di perjalanan menuju rumah. Ia terus
bernyanyi sampai akhirnya ia tiba di depan kompor dengan panci di tangannya.
“Ayo
memasak!” serunya bersemangat.
***
‘Your Sim failed to get a skill
increase.’
“Ahh! Sial!”
Sierra berteriak sambil membanting handphonenya di atas kasur.
“Kenapa kamu?”
tiba-tiba Ibunya muncul di balik pintu dengan tampang kaget. Jelas saja ia
kaget, mana ada anak gadis yang teriak-teriak tengah malam begini.
Sierra
nyengir, diraihnya handphone yang tergeletak di atas kasur lalu menunjuk ke
arah layar benda tersebut dengan tampang bersalah.
“Lagi main
game The Sims, Ma. Hehe…” katanya sambil terkekeh.
“Kamuuuuuuuuu…!
Yang benar saja… Anak gadis teriak-teriak malam begini! Bikin seisi rumah bangun!
Ternyata cuma gara-gara game! Sini hp kamu Mama sita!” omel Mamanya lalu
merebut handphone yang berada di genggamannya. Tamat sudah riwayatnya.
Dan akhirnya
Sierra hanya bisa memasang tampang kesal, seperti Sim2 dalam game di handphonenya yang kesal karena
Minestronenya hangus.
Note : Minestrone : Sup kental asal Italia
yang dibuat dengan sayuran, sering dengan penambahan pasta atau nasi.
Sim : Istilah dalam game The Sims untuk
tokoh yang dimainkan. Dalam cerita ini, Sierra menamai Simnya sesuai dengan
namanya.
Jumat, 17 Februari 2012
Re-"Summer Song"
Mataku menyipit saat menangkap
cahaya matahari yang menyilaukan di atas sana. Secara refleks aku mengangkat
tangan kananku sekedar menahan cahaya matahari yang menerpa, tapi mataku malah
kelilipan pasir yang menempel pada telapak tanganku.
“Akh!” aku
menjerit saat pasir tersebut memberikan efek kesakitan pada mataku. Baru
beberapa menit kemudian mataku bisa melihat dengan jelas lagi dan menangkap
warna biru pada laut di depanku. Laut pada pukul dua belas siang memang
terlihat paling berkilau. Siapa bilang bintang hanya ada di malam hari? Ada begitu
banyak kilauan yang menyerupai bintang di laut sana.
Selasa, 14 Februari 2012
Kelereng
Nama : Stany Cecilia
Judul : Kelereng
Judul lagu : YUI - Shake My Heart
Warna biru kehitaman mulai muncul di
kaki langit. Hari ini hampir berakhir tapi aku sama sekali tak mendapat kabar
darimu. Apa kau sedang berada di daerah yang terpencil sehingga tak dapat
menelepon? Aku kehilangan ide untuk menebak kemungkinan yang lain.
“Shake my heart, yeah!
Shake your heart, baby!”
Ponselku melantunkan sebuah potongan
lagu ‘YUI – Shake My Heart’ yang kupilih khusus untuk nomormu. Ada keraguan
saat ingin mengangkat teleponmu. Tapi, tubuhku selalu mengikuti hatiku. Aku
menjawab teleponmu.
“Hai…” sebuah sapaan terdengar dari
seberang sana. Terdengar suara motor yang lewat serta bunyi klakson mobil. ‘Apa kau sedang berada di luar?’ tanyaku
dalam hati.
“Hai…”
aku menjawab sapaanmu dengan kaku. Entah sejak kapan aku mulai menjadi seperti
ini, mungkin sejak semuanya mulai berubah.
“Kau…”
suaramu terhenti tiba-tiba, aku mendengar sebuah desahan panjang sebelum
akhirnya kau berkata lagi, “… kau sudah memikirkan soal itu?”
Deg!
Sebenarnya aku sudah tahu kau akan menanyakan hal tersebut. Tapi sepertinya
jantungku belum bisa beradaptasi dengan hal tersebut.
Suara klakson mobil tetanggaku
tiba-tiba terdengar, dan betapa kagetnya diriku saat mendengar suara yang sama
dari telepon yang kugenggam.
“Di
mana posisimu sekarang?” tanyaku tanpa basa-basi.
Tak ada jawaban, hanya tawa kecil yang terdengar. Dan benar
saja, saat aku bergegas membuka jendela kamarku, ada dirimu yang melambaikan
tangan di bawah sana.
***
“Kau sudah gila…” desisku, namun lagi-lagi
kau hanya tertawa.
“Apa
maksudmu mengataiku gila? Aku memang pulang karena ada hal yang harus kuurus.
Bukan untuk…” kau menghentikan kalimatmu lalu menatapku dengan tatapan
menggoda, yang langsung kuhadiahi sebuah jitakan.
“Ah!
Ada hadiah untukmu,” katamu lalu sibuk mengacak-acak ransel.
Sepertinya kuliah di luar negeri sudah membuat otakmu jadi
tidak beres. Mana ada seorang pria yang memberi hadiah seperti ini di hari
Valentine? Atau mungkin saja uangmu sudah terkuras habis karena biaya hidup di
sana yang cenderung tinggi?
“Kelereng?”
tanyaku sambil melotot. “Hadiahnya kelereng?”
“Ya,
memangnya kenapa?”
Aku baru saja ingin menjejalkan kelereng itu di dalam
mulutmu jika saja kau tak memberikan isyarat bahwa ada alasan di balik hadiah
ini.
“Kelereng,
bola kecil yang terbuat dari kaca,” katamu memulai. “Di dalamnya terdapat
lapisan unik dengan warna yang berbeda untuk setiap biji kelereng. Lihat! Kau
bisa dengan mudah melihat lapisan itu, kan? Tapi sayang…”
“Apanya
yang sayang?” aku memiringkan kepala, bingung dengan perkataanmu yang
setengah-setengah. Tapi kau tak bergeming dan terus menatap kelereng itu dengan
murung.
“Kenapa
hatimu tak seperti kelereng ini? Kenapa aku tak bisa melihat isi hatimu dengan
mudah?”
Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku
tahu sandiwara ini harus segera diakhiri. Tapi aku takut, apa kita akan
baik-baik saja setelah ini?
“Tentang
pertanyaanmu tempo hari… aku tak bisa menjawab…” desahan panjang terdengar
lagi. Apa kau kecewa? Tapi aku tahu kau akan tersenyum setelah ini. Karena
kalimat tersebut belum selesai. Lanjutannya adalah, “aku tidak bisa menjawab…
tidak.”
Ada senyum tak percaya yang muncul
di wajahmu. Namun saat senyum itu berubah menjadi tawa, seiring dengan
genggaman erat yang kau beri pada tanganku, aku tahu semuanya akan baik-baik
saja.
Senin, 13 Februari 2012
LIFE is...
Nama : Stany Cecilia
Judul : LIFE is...
Judul lagu : YUI - LIFE
Judul lagu : YUI - LIFE
“Lalu…
Katakanlah padaku apa itu hidup…”
Sam sedang menggerutu tentang
anak-anak yang mengamen di depan restoran ketika Doni tiba. Ia terus
mengucapkan, “Kenapa mereka tidak sekolah?” dan “Merusak penglihatanku saja!” bahkan
setelah Doni sudah selesai mengecek keadaan dapur. Ia juga menghina cara mereka
menyambung hidup yang menurutnya tidak bermutu. “Hidup itu tentang mencari
sesuatu yang menguntungkan bagimu, bukannya menghabiskan waktu di jalan dengan
menyanyi seperti itu,” begitu katanya. Ia baru berhenti setelah Doni memberi isyarat
untuk masuk ke ruangan mereka, ruangan pemilik
restoran, tanda ada yang mau dibicarakan dengan partnernya itu. Sebuah keberuntungan
bagi para pegawai restoran karena akhirnya mereka bisa terbebas dari si kaktus –
julukan para pegawai untuk Sam – pemarah itu.
“Apa
yang mau kau bicarakan?” ujar Sam tanpa basi-basi, tapi yang ditanyai malah
menuang Espresso pada cangkir kesayangannya lalu menghirupnya perlahan. “Hei,
apa kau mendengar pertanyaanku?” tambahnya lagi saking tidak sabar.
Doni tersenyum, diletakkannya
cangkir tersebut di atas meja lalu beranjak ke arah satu-satunya jendela yang
terdapat di ruangan ini. Di belakangnya Sam memperhatikan gerak-gerik Doni
dengan wajah bosan. Tak lama kemudian ia melihat Doni mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Handphone?
“Jadi
kau memanggilku ke sini hanya untuk memamerkan handphonemu? Kau benar-benar
membuang waktuku, Don,” Sam berbalik dan hendak meninggalkan ruangan tersebut,
namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat sebuah lagu mengalun dari handphone
tersebut. Lagu berjudul “LIFE” yang dinyanyikan oleh YUI, seorang soloist
wanita dari Jepang, yang menjadi lagu kebangsaan mereka saat merintis usaha di
bidang kuliner.
Setelah melalui semua hari yang
panjang,
Inilah diriku yang sekarang…
Semenjak segala sesuatu menjadi
sulit, begitulah mengapa aku tetap hidup.
Bait terakhir pada lagu tersebut
membuat keduanya menarik nafas panjang sambil menatap langit-langit ruangan
ini. Dulu tak ada restoran mewah dengan pengunjung yang banyak, hanya ada
warung kecil beratap terpal plastik dengan pelanggan yang hanya bisa dihitung
dengan jari. Dulu tak ada penerangan yang “wah!”, hanya ada lampu pijar yang
tergantung di dekat gerobak mereka di kala malam. Dulu Donilah yang harus
memasak, sedangkan Sam membantu sebisanya. Sekarang? Mereka punya koki yang
hebat dengan masakan yang selalu dipuji oleh pengunjung yang datang. Masa-masa
itu memang tak terlupakan. Saat mereka memutuskan untuk membuka usaha
kecil-kecilan, mereka memang menghadapi banyak kesulitan. Apalagi orang tua
mereka sama sekali tidak mendukung usaha mereka tersebut. Jadilah mereka
berusaha sendiri dari nol.
“Kenapa
kau marah-marah tadi?” akhirnya Doni mengeluarkan kalimat pertamanya setelah
beberapa menit berlalu. Sam, menatap pandangan penuh arti dari Doni, lalu
akhirnya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa…”
Doni meraih secangkir Espresso di
atas meja yang sudah dingin lalu menyesapnya. Dari jendela ia bisa melihat Sam yang berjalan menghampiri
anak-anak pengamen tadi lalu memberikan beberapa lembar rupiah pada mereka. Dan
akhirnya ia tersenyum saat anak-anak itu berlari sambil meneriakkan kata terima
kasih pada Sam. Sam sudah mengingat kembali makna hidup yang mereka alami
selama ini, yang tercermin pada wajah polos para pengamen cilik tadi. Hidup
adalah… tentang berusaha.
Kamis, 09 Februari 2012
[Amerta] Best Friend Forever
"Kan bersama selamanya. Menjelajahi rumitnya dunia. Berkelana kita bernaung cakrawala. Kita, abadi."
Senandung merdu memenuhi sebuah kamar yang minim cahaya. Sepasang kaki berjalan menyusuri deretan foto yang tersusun rapi di atas meja. Ada senyuman yang membeku di sana, hal yang hanya bisa dimiliki karena selembar foto.
Sabtu, 04 Februari 2012
Macchiato
Bila cinta bisa diumpamakan sebagai secangkir kopi?
Mataku
berkeliling ke seluruh sudut cafe ini. Sepi, hanya ada sepasang muda-mudi yang
duduk dekat pintu dengan dua gelas es kopi, seorang pria di meja sebelah
dengan penampilan ala pebisnis muda yang bersembunyi di balik koran, dan ada
aku, gadis yang duduk di sudut cafe dengan dahi yang saling bertaut.
Selasa, 31 Januari 2012
Pawang Hujan
“Kalau memang setiap manusia bisa
memilih, kenapa aku tak bisa memilih untuk berada di sisimu?”
Kopi Tubruk
Uap yang
mengepul dari gelas di hadapanku mulai menghilang. Hampir tiga puluh menit aku
menanti di tempat ini, untuk seseorang yang bahkan tak ku ketahui rupanya. Modalku
hanyalah sebuah nama, Ridwan, yang tak sengaja terucap dari mulut Ayah saat
bertengkar dengan Ibu dua hari yang lalu. Tapi sepertinya sekarang aku tak bisa
menyebutnya Ayah lagi, karena nyatanya ia bukan Ayah kandungku.
Kamis, 26 Januari 2012
Menikahlah denganku...
"Kau... menipuku..."
Aku menatap gadis di depanku ini dengan bingung? Menipu? Apa maksudnya?
"Kenapa... Kau pikir hal seperti ini lucu, begitu? Kau pikir mempermainkan perasaan orang lain itu menyenangkan? Kau hebat, Jeremy. Sangat hebat..." lanjutnya lagi dengan nada sinis lalu berusaha untuk melepaskan genggamanku di tangannya dan hendak pergi dari tempat ini, tapi aku semakin mengeratkan genggamanku sehingga ia tak bisa pergi dari sini.
"Sepertinya kau salah paham, Grace..." kataku mencoba tenang.
"Salah paham? Salah paham apa lagi, Jer? Semuanya sudah jelas! Kau meneleponku pagi-pagi dan bicara tentang pernikahan. Lalu akhirnya apa? Ternyata yang menikah bukan kau, tapi saudara kembarmu. Apa-apaan ini?" dengan tatapan tak percaya, Grace mulai menyerangku lagi dengan asumsinya yang sudah jelas keliru. Ya, aku memang meneleponnya pagi ini karena Johan, saudara kembarku, memintaku untuk memberitahu Grace tentang pernikahannya hari ini. Memaksa sebenarnya, karena ia tahu bahwa aku dan Grace sedang saling tidak bicara setelah kejadian Grace yang menolak cintaku. Salahku juga mungkin karena terlalu gugup saat mendengar kata 'Halo...' darinya dan hanya bisa merespon dengan kalimat 'Itu... Pernikahan...'
Ya, sepertinya ini memang salahku.
Sah!
“Jujur dengan perasaan kita lebih baik. Kalau cinta, katakan saja terus
terang…”
Grace berlari
tergesa-gesa keluar rumahnya. Dengan tidak sabaran ia menyalakan mesin mobil lalu
melaju dengan kecepatan tinggi ke sebuah tempat. Masa bodoh dengan rambu lalu
lintas sekarang, yang harus ia lakukan adalah secepatnya menyadarkan pria bodoh
yang mungkin saat ini sudah memasangkan cincin ke jari gadis lain, tanpa tahu
bahwa sebenarnya gadis yang lebih bodoh ini juga mencintainya.
Rabu, 25 Januari 2012
Ini bukan judul terakhir
Jemariku menari
dengan lincah di atas piano yang kumainkan. ‘Melodies of the wind’, begitulah
lagu ini kami namakan. Kami, aku dan Alena. Judul lagu yang pertama sekaligus terakhir
yang sempat kami ciptakan bersama-sama.
Alena adalah gadis yang periang. Pertemuan
kami berawal dari orang tua Alena yang memintaku untuk menjadi guru les piano
untuk Alena. Pembawaan Alena yang menyenangkan dan suka bercanda membuat kami
cepat akrab. Terlalu akrab sampai akhirnya membuatku melakukan sebuah
kesalahan. Menjadikannya kekasih.
Selasa, 24 Januari 2012
Kalau Odol lagi Jatuh Cinta
“Dinoooo…!”
Seorang
gadis berseragam putih abu-abu, berdiri di depan pintu kamar abangnya dengan
muka ditekuk. Dengan kasar ia melempar odol yang sedari tadi digenggamnya
erat-erat ke wajah abangnya.
“Kenapa sih,
Mimi? Pakai acara lempar-lempar odol segala. Kan sakit…” protes Dino, abangnya,
sambil mengusap wajahnya. Namun ternyata Mimi belum berhenti sampai
di situ. Secara tiba-tiba ia menarik majalah olah raga yang baru dibaca
setengah oleh abangnya.
“Sikat gigi
sana! Malu tahu diledek sama teman-teman. Masa punya abang malas sikat gigi?!”
teriak Mimi dengan tampang jijik.
Ya, Dino,
abangnya ini, memang malas sikat gigi. Terakhir kali ia sikat gigi saja ia
sudah lupa. Jelas saja Mimi diledek habis-habisan sama temannya.
“Ayo sikat
gigi! Nanti kuman-kumannya bersarang di mulut bla bla bla…” kata Mimi lagi
menirukan salah satu iklan yang pernah dilihatnya.
“Males, Mi. Lagian
ga ngaruh juga…” jawab abangnya enteng.
“Eh? Kenapa?”
“Kan odolnya
lagi jatuh cinta sama kuman-kuman di mulut abang. Jadinya dia ga tega ngebasmi
kumannya…”
Dan kali ini
bukan odol saja yang mengenai wajah Dino, tapi guling, majalah, dan
barang-barang lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.
(Note : FF tergaje yang pernah saya bikin -_- )
When I Look into Your Eyes...
"Seperti sebuah kotak indah yang
dihadiahkan Zeus pada seorang gadis... itulah dirinya. Kotak indah yang terus menyeret
rasa penasaran setiap insan yang melihat untuk membukanya..."
Tania melirik
pria disampingnya secara sembunyi-sembunyi. Setelan kemeja putih dengan dasi
biru tua dan celana panjang hitam terlihat sangat pas di tubuhnya. Tangan
kanannya menenteng tas ala pegawai kantoran yang berwarna hitam, warna yang
senada dengan sepatu vantouvel yang sedang dikenakannya. Sudah hari ketiga
sejak Tania memperhatikan pria yang selalu menunggu bus di halte ini. Awalnya
Tania memang tak pernah menunggu bus di halte tersebut karena tempatnya yang
agak jauh dari rumahnya. Biasanya ia lebih memilih taksi karena bisa lebih
cepat tiba ke kantor. Tapi setelah melihat pria tersebut, akhirnya ia memilih
untuk beralih ke bus.
Minggu, 22 Januari 2012
Merindukanmu itu seru!
Aku memandang deretan foto yang terdapat dalam folder berjudul 'On Vacation' di laptopku. Wajah-wajah gembira, melongo karena belum siap di foto, kepolosan anak pribumi yang berseru keheranan saat melihat wajah asing yang tak pernah mereka lihat, atau cuma memperlihatkan indahnya laut dan pulau. Sudah setahun lebih ternyata.
Label:
#15HariNgeblogFF,
FlashFict,
Jalan-jalan,
Saya dan dunia. :D,
Tobelo
Langganan:
Postingan (Atom)

