Tampilkan postingan dengan label FlashFict. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FlashFict. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

Harus Terpisah (?)

Ia memandang linimasa dengan malas, entah kenapa Ia tak bisa menikmati semua permainan ini lagi. Sebaris keluhan telah Ia lontarkan, tapi saat yang lain bertanya mengapa Ia hanya berkata "aku baik-baik saja." Kebohongan seperti ini sudah biasa.

Selasa, 30 Oktober 2012

Sabtu, 08 September 2012

P. S. I Love You

Delay...”

Aku melirik jam besar yang menggantung di dinding dekat salah satu loket check-in lalu mengalihkan pandanganku pada jadwal kedatangan pesawat pada hari ini. Waktu kedatangannya sudah lewat. Seharusnya pesawat jenis Boeing 737 yang bertolak dari Narita itu sudah mendarat sejak 45 menit yang lalu, tapi tentu saja penundaan seperti ini memang sering terjadi.

Minggu, 02 September 2012

The "Role" (I Left Now)

Sign in.

Dia memilih untuk mengarahkan kursor pada tulisan tersebut, pada bagian atas dari halaman social network yang baru saja dibukanya. Dengan ragu-ragu mengetikkan sebuah username dan password, lalu menekan ‘Enter’. Dia tersenyum tipis saat melihat tampilan layar yang berubah, memperlihatkan sederetan nama yang akan membuat orang lain bingung bila baru pertama kali tersesat di tempat ini, lalu mulai menilai. Topik apa yang sedang dibahas oleh linimasanya sekarang ini?

Sabtu, 25 Februari 2012

Ramalan


                Lala memandang langit yang terbentang di atasnya melalui sela-sela jari miliknya. Langit pada pukul 04.30 benar-benar masih terlihat gelap, padahal sebentar lagi fajar akan segera tiba. Ia selalu menyukai aktivitas tersebut. Mengendap-endap ke atas loteng di saat semuanya sudah terlelap, lalu merebahkan tubuhnya ke atas genting yang keras dan mulai menebak nama rasi bintang yang tertangkap oleh matanya.
Kali ini ia ingin berlama-lama menghitung bintang sampai bosan, namun ia tak akan pernah tidur. Karena ia takut, kalau matanya tertutup nanti, bisa-bisa ia tak akan pernah bangun lagi. Dan semuanya karena ramalan sial itu.
1 bulan yang lalu…
                “Ayo ke stand peramal!” teriak Lala bersemangat pada Sonya. Mereka baru saja memasuki liburan semester, dan hari ini mereka memutuskan untuk menghabiskannya di salah satu taman bermain di kota mereka.
                “Kau percaya pada hal seperti itu?” tanya Sonya dengan tatapan tak percaya. Namun saat ia melihat binar yang muncul pada mata Lala, ia hanya bisa menurut saja saat Lala menarik dirinya menuju antrean di depan sebuah tenda tempat seorang wanita tua dengan penampilan eksentrik menebar kartu tarotnya di atas meja.
                Antrean tersebut tak cukup panjang, Lala dan Sonya mendapat giliran setelah menanti selama kurang lebih 15 menit. Lalu tiba-tiba hal aneh terjadi. Peramal tersebut seperti kerasukan saat Lala duduk di hadapannya. Ia lalu menarik sebuah kartu, menatap Lala dari sudut matanya yang memerah, dan berbisik…
“Kau akan mati… sebulan dari sekarang…” bisiknya lalu membanting sebuah kartu tarot bertuliskan ‘Death’ ke atas meja.
                Lala menggelengkan kepalanya keras-keras saat ingatan tersebut hinggap lagi di pikirannya. Hari ini adalah sebulan setelah peristiwa tersebut, dan kalau ia tak salah ingat, peramal tersebut berkata ia akan mati di saat dua jam sebelum matahari mencapai posisinya yang paling tertinggi. Yang berarti pukul 10 pagi.
“Apakah tak ada kesempatan untuk merubah ramalan tersebut?” Lala bertutur pada udara kosong di depannya, walau ia tahu semuanya sia-sia saja.
                Tiga puluh menit sudah lewat sejak pukul 04.30, angin dingin yang berhembus membuat Lala mulai mengantuk.
‘Kau tak boleh tidur, Lala! Kau tak boleh mati!’ batinnya berseru. Tapi rasa kantuknya tak bisa ia lawan. Matanya terpejam tepat saat bintang-bintang yang dilihatnya mulai menghilang. Apakah bintang tersebut akan kembali esok? Ia tak tahu.
***
                “Lala… Bangun…”
                Sayup-sayup terdengar sebuah suara memanggil namanya. ‘Apakah aku sudah berada di surga?’ ia membatin. Saat ia membuka mata, cahaya yang menyilaukan menyerang kedua matanya. Ia melihat langit, mendengar kicau burung bersahut-sahutan, lalu suara deru mobil.
                Tunggu! Mana mungkin di surga ada mobil?
                “Lala! Bangun! Mau sampai kapan tiduran di atas genting?”
Tiba-tiba Lala tersadar lalu bangun dari tempat ia terbaring tadi. “Itu suara Ibu!” teriaknya kemudian berlari mendapatkan Ibunya yang sedang sibuk menyiram tanaman di halaman rumah. Ia sempat melirik ke arah jam dinding di ruang tamu lalu berteriak semakin keras saat jam itu menunjukkan pukul 10.23.
“Aku masih hidup, Bu! Aku masih hidup!” seru Lala sambil memeluk Ibunya.
                Ramalan tersebut ternyata keliru. Tak ada manusia yang bisa menebak tentang masa depan, karena takdir tak bisa diprediksi. Hari esok tak ada yang tahu… it’s happy line.

Rabu, 22 Februari 2012

Warna Kebohongan


Kenapa kau tidak mengatakan apapun?
Aku bilang, “Jika ini kebohongan, maka hentikanlah.” YUI - Swing of Lie

Awalnya aku tak tahu seperti apa warna dari sebuah kebohongan. Tapi kini kebohongan itu nyata di depanku. Warnanya biru.
"Kita mau makan di mana, nih?" Ya, kebohongan itu tidak hanya memiliki warna, tapi juga bisa berbicara bahkan bermanja. Kalau saja sosok yang berada di sampingnya bukan kamu, aku pasti tak akan merasa semuak ini.
"Terserah kamu saja, Sayang..." katamu sambil mempererat genggaman kalian. Ada senyuman yang jujur dari bibirmu, senyum yang dulu sempat kau beri untukku tapi kini sudah menguap entah ke mana.
Sejak kapan aku terhimpit di tengah-tengah seperti ini? Atau mungkin aku bahkan tak berada di antara kalian, malah sudah didepak keluar dari cerita ini. Hanya bisa menduga-duga, aku benci dengan keterbatasan seperti ini.
Kalian masih larut dalam bumi yang kalian ciptakan. Kalian bahkan tidak menyadari saat aku berjalan ke meja kalian dan siap menampar dirimu. Namun, ternyata kebohongan tak hanya memiliki satu warna. Kali ini bahkan lebih variatif, ada warna kuning lalu hijau, bahkan ada gambar tokoh kartun di atasnya.
"Papa! Mama!" anak kecil itu menghambur ke arah kalian, kamu dan gadis dengan terusan biru itu, lalu kalian tertawa bersama.
Awalnya aku tak tahu seperti apa warna dari sebuah kebohongan. Tapi hari ini kamu menunjukkan berbagai warna untukku.
Kurasa aku tak butuh warna yang lain lagi.

Selasa, 21 Februari 2012

'Memasak'

Minestrone

                Sierra mengecek persediaan bahan makanan yang masih tersisa. Ia berencana untuk memasak Minestrone1 untuk makan malam, tapi persediaan tomat, wortel, buncis, dan jagung di kulkasnya sudah habis.
“Sepertinya aku harus pergi berbelanja…” gumam Sierra sambil mengusap-usap dagunya tanda sedang berpikir. Setelah menimbang tentang membeli bahan makanan yang kurang untuk membuat Minestrone atau membuat makanan lain dengan bahan yang tersedia, akhirnya Sierra pun menenteng keranjang belanjaannya lalu bergegas menuju Quickmart yang berada di seberang rumahnya.
                Kehangatan musim semi menyambut Sierra saat ia melangkah di jalanan sekitar kompleks rumahnya. Dedaunan yang bergerak mengikuti tiupan angin begitu enak dipandang mata. Jalanan pun terlihat lenggang, artinya ia tak perlu banyak-banyak menghirup asap kendaraan bermotor yang berpotensi merusak paru-parunya. Di kejauhan terlihat danau yang berada di taman kota yang sedang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang asyik memancing. ‘Hmm… Mungkin aku akan memancing hari minggu nanti,’ kata Sierra dalam hati.
Akhirnya sebuah gedung bercat kuning dan beratap merah menyambutnya. Buru-buru ia membeli semua bahan makanan yang dibutuhkannya, lalu kembali ke rumah.
“Minestrone… Minestrone… Malam ini makan Minestrone…” Sierra bernyanyi asal di perjalanan menuju rumah. Ia terus bernyanyi sampai akhirnya ia tiba di depan kompor dengan panci di tangannya.
                “Ayo memasak!” serunya bersemangat.
***
‘Your Sim failed to get a skill increase.’
“Ahh! Sial!” Sierra berteriak sambil membanting handphonenya di atas kasur.
“Kenapa kamu?” tiba-tiba Ibunya muncul di balik pintu dengan tampang kaget. Jelas saja ia kaget, mana ada anak gadis yang teriak-teriak tengah malam begini.
Sierra nyengir, diraihnya handphone yang tergeletak di atas kasur lalu menunjuk ke arah layar benda tersebut dengan tampang bersalah.
“Lagi main game The Sims, Ma. Hehe…” katanya sambil terkekeh.
“Kamuuuuuuuuu…! Yang benar saja… Anak gadis teriak-teriak malam begini! Bikin seisi rumah bangun! Ternyata cuma gara-gara game! Sini hp kamu Mama sita!” omel Mamanya lalu merebut handphone yang berada di genggamannya. Tamat sudah riwayatnya.
Dan akhirnya Sierra hanya bisa memasang tampang kesal, seperti Sim2 dalam game di handphonenya yang kesal karena Minestronenya hangus.


Note : Minestrone : Sup kental asal Italia yang dibuat dengan sayuran, sering dengan penambahan pasta atau nasi.
Sim : Istilah dalam game The Sims untuk tokoh yang dimainkan. Dalam cerita ini, Sierra menamai Simnya sesuai dengan namanya.

Jumat, 17 Februari 2012

Re-"Summer Song"


                Mataku menyipit saat menangkap cahaya matahari yang menyilaukan di atas sana. Secara refleks aku mengangkat tangan kananku sekedar menahan cahaya matahari yang menerpa, tapi mataku malah kelilipan pasir yang menempel pada telapak tanganku.
“Akh!” aku menjerit saat pasir tersebut memberikan efek kesakitan pada mataku. Baru beberapa menit kemudian mataku bisa melihat dengan jelas lagi dan menangkap warna biru pada laut di depanku. Laut pada pukul dua belas siang memang terlihat paling berkilau. Siapa bilang bintang hanya ada di malam hari? Ada begitu banyak kilauan yang menyerupai bintang di laut sana.

Selasa, 14 Februari 2012

Kelereng

Nama : Stany Cecilia
Judul : Kelereng
Judul lagu : YUI - Shake My Heart

            Warna biru kehitaman mulai muncul di kaki langit. Hari ini hampir berakhir tapi aku sama sekali tak mendapat kabar darimu. Apa kau sedang berada di daerah yang terpencil sehingga tak dapat menelepon? Aku kehilangan ide untuk menebak kemungkinan yang lain.
“Shake my heart, yeah!
Shake your heart, baby!”
            Ponselku melantunkan sebuah potongan lagu ‘YUI – Shake My Heart’ yang kupilih khusus untuk nomormu. Ada keraguan saat ingin mengangkat teleponmu. Tapi, tubuhku selalu mengikuti hatiku. Aku menjawab teleponmu.
“Hai…” sebuah sapaan terdengar dari seberang sana. Terdengar suara motor yang lewat serta bunyi klakson mobil. ‘Apa kau sedang berada di luar?’ tanyaku dalam hati.
“Hai…” aku menjawab sapaanmu dengan kaku. Entah sejak kapan aku mulai menjadi seperti ini, mungkin sejak semuanya mulai berubah.
“Kau…” suaramu terhenti tiba-tiba, aku mendengar sebuah desahan panjang sebelum akhirnya kau berkata lagi, “… kau sudah memikirkan soal itu?”
Deg! Sebenarnya aku sudah tahu kau akan menanyakan hal tersebut. Tapi sepertinya jantungku belum bisa beradaptasi dengan hal tersebut.
            Suara klakson mobil tetanggaku tiba-tiba terdengar, dan betapa kagetnya diriku saat mendengar suara yang sama dari telepon yang kugenggam.
“Di mana posisimu sekarang?” tanyaku tanpa basa-basi.
Tak ada jawaban, hanya tawa kecil yang terdengar. Dan benar saja, saat aku bergegas membuka jendela kamarku, ada dirimu yang melambaikan tangan di bawah sana.
***
            “Kau sudah gila…” desisku, namun lagi-lagi kau hanya tertawa.
“Apa maksudmu mengataiku gila? Aku memang pulang karena ada hal yang harus kuurus. Bukan untuk…” kau menghentikan kalimatmu lalu menatapku dengan tatapan menggoda, yang langsung kuhadiahi sebuah jitakan.
“Ah! Ada hadiah untukmu,” katamu lalu sibuk mengacak-acak ransel.
Sepertinya kuliah di luar negeri sudah membuat otakmu jadi tidak beres. Mana ada seorang pria yang memberi hadiah seperti ini di hari Valentine? Atau mungkin saja uangmu sudah terkuras habis karena biaya hidup di sana yang cenderung tinggi?
“Kelereng?” tanyaku sambil melotot. “Hadiahnya kelereng?”
“Ya, memangnya kenapa?”
Aku baru saja ingin menjejalkan kelereng itu di dalam mulutmu jika saja kau tak memberikan isyarat bahwa ada alasan di balik hadiah ini.
“Kelereng, bola kecil yang terbuat dari kaca,” katamu memulai. “Di dalamnya terdapat lapisan unik dengan warna yang berbeda untuk setiap biji kelereng. Lihat! Kau bisa dengan mudah melihat lapisan itu, kan? Tapi sayang…”
“Apanya yang sayang?” aku memiringkan kepala, bingung dengan perkataanmu yang setengah-setengah. Tapi kau tak bergeming dan terus menatap kelereng itu dengan murung.
“Kenapa hatimu tak seperti kelereng ini? Kenapa aku tak bisa melihat isi hatimu dengan mudah?”
            Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku tahu sandiwara ini harus segera diakhiri. Tapi aku takut, apa kita akan baik-baik saja setelah ini?
“Tentang pertanyaanmu tempo hari… aku tak bisa menjawab…” desahan panjang terdengar lagi. Apa kau kecewa? Tapi aku tahu kau akan tersenyum setelah ini. Karena kalimat tersebut belum selesai. Lanjutannya adalah, “aku tidak bisa menjawab… tidak.”
            Ada senyum tak percaya yang muncul di wajahmu. Namun saat senyum itu berubah menjadi tawa, seiring dengan genggaman erat yang kau beri pada tanganku, aku tahu semuanya akan baik-baik saja.

Senin, 13 Februari 2012

LIFE is...


Nama : Stany Cecilia
Judul : LIFE is...
Judul lagu : YUI - LIFE

“Lalu… Katakanlah padaku apa itu hidup…”

            Sam sedang menggerutu tentang anak-anak yang mengamen di depan restoran ketika Doni tiba. Ia terus mengucapkan, “Kenapa mereka tidak sekolah?” dan “Merusak penglihatanku saja!” bahkan setelah Doni sudah selesai mengecek keadaan dapur. Ia juga menghina cara mereka menyambung hidup yang menurutnya tidak bermutu. “Hidup itu tentang mencari sesuatu yang menguntungkan bagimu, bukannya menghabiskan waktu di jalan dengan menyanyi seperti itu,” begitu katanya. Ia baru berhenti setelah Doni memberi isyarat untuk masuk ke ruangan mereka, ruangan  pemilik restoran, tanda ada yang mau dibicarakan dengan partnernya itu. Sebuah keberuntungan bagi para pegawai restoran karena akhirnya mereka bisa terbebas dari si kaktus – julukan para pegawai untuk Sam – pemarah itu.
“Apa yang mau kau bicarakan?” ujar Sam tanpa basi-basi, tapi yang ditanyai malah menuang Espresso pada cangkir kesayangannya lalu menghirupnya perlahan. “Hei, apa kau mendengar pertanyaanku?” tambahnya lagi saking tidak sabar.
            Doni tersenyum, diletakkannya cangkir tersebut di atas meja lalu beranjak ke arah satu-satunya jendela yang terdapat di ruangan ini. Di belakangnya Sam memperhatikan gerak-gerik Doni dengan wajah bosan. Tak lama kemudian ia melihat Doni mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Handphone?
“Jadi kau memanggilku ke sini hanya untuk memamerkan handphonemu? Kau benar-benar membuang waktuku, Don,” Sam berbalik dan hendak meninggalkan ruangan tersebut, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat sebuah lagu mengalun dari handphone tersebut. Lagu berjudul “LIFE” yang dinyanyikan oleh YUI, seorang soloist wanita dari Jepang, yang menjadi lagu kebangsaan mereka saat merintis usaha di bidang kuliner.
Setelah melalui semua hari yang panjang,
Inilah diriku yang sekarang…
Semenjak segala sesuatu menjadi sulit, begitulah mengapa aku tetap hidup.
            Bait terakhir pada lagu tersebut membuat keduanya menarik nafas panjang sambil menatap langit-langit ruangan ini. Dulu tak ada restoran mewah dengan pengunjung yang banyak, hanya ada warung kecil beratap terpal plastik dengan pelanggan yang hanya bisa dihitung dengan jari. Dulu tak ada penerangan yang “wah!”, hanya ada lampu pijar yang tergantung di dekat gerobak mereka di kala malam. Dulu Donilah yang harus memasak, sedangkan Sam membantu sebisanya. Sekarang? Mereka punya koki yang hebat dengan masakan yang selalu dipuji oleh pengunjung yang datang. Masa-masa itu memang tak terlupakan. Saat mereka memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan, mereka memang menghadapi banyak kesulitan. Apalagi orang tua mereka sama sekali tidak mendukung usaha mereka tersebut. Jadilah mereka berusaha sendiri dari nol.
“Kenapa kau marah-marah tadi?” akhirnya Doni mengeluarkan kalimat pertamanya setelah beberapa menit berlalu. Sam, menatap pandangan penuh arti dari Doni, lalu akhirnya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa…”
            Doni meraih secangkir Espresso di atas meja yang sudah dingin lalu menyesapnya. Dari jendela  ia bisa melihat Sam yang berjalan menghampiri anak-anak pengamen tadi lalu memberikan beberapa lembar rupiah pada mereka. Dan akhirnya ia tersenyum saat anak-anak itu berlari sambil meneriakkan kata terima kasih pada Sam. Sam sudah mengingat kembali makna hidup yang mereka alami selama ini, yang tercermin pada wajah polos para pengamen cilik tadi. Hidup adalah… tentang berusaha.

Kamis, 09 Februari 2012

[Amerta] Best Friend Forever

"Kan bersama selamanya. Menjelajahi rumitnya dunia. Berkelana kita bernaung cakrawala. Kita, abadi."
Senandung merdu memenuhi sebuah kamar yang minim cahaya. Sepasang kaki berjalan menyusuri deretan foto yang tersusun rapi di atas meja. Ada senyuman yang membeku di sana, hal yang hanya bisa dimiliki karena selembar foto.

Sabtu, 04 Februari 2012

Macchiato

Bila cinta bisa diumpamakan sebagai secangkir kopi?



Mataku berkeliling ke seluruh sudut cafe ini. Sepi, hanya ada sepasang muda-mudi yang duduk dekat pintu dengan dua gelas es kopi, seorang pria di meja sebelah dengan penampilan ala pebisnis muda yang bersembunyi di balik koran, dan ada aku, gadis yang duduk di sudut cafe dengan dahi yang saling bertaut.

Selasa, 31 Januari 2012

Pawang Hujan


“Kalau memang setiap manusia bisa memilih, kenapa aku tak bisa memilih untuk berada di sisimu?”

Kopi Tubruk

Uap yang mengepul dari gelas di hadapanku mulai menghilang. Hampir tiga puluh menit aku menanti di tempat ini, untuk seseorang yang bahkan tak ku ketahui rupanya. Modalku hanyalah sebuah nama, Ridwan, yang tak sengaja terucap dari mulut Ayah saat bertengkar dengan Ibu dua hari yang lalu. Tapi sepertinya sekarang aku tak bisa menyebutnya Ayah lagi, karena nyatanya ia bukan Ayah kandungku.

Kamis, 26 Januari 2012

Menikahlah denganku...

"Kau... menipuku..."
Aku menatap gadis di depanku ini dengan bingung? Menipu? Apa maksudnya?
"Kenapa... Kau pikir hal seperti ini lucu, begitu? Kau pikir mempermainkan perasaan orang lain itu menyenangkan? Kau hebat, Jeremy. Sangat hebat..." lanjutnya lagi dengan nada sinis lalu berusaha untuk melepaskan genggamanku di tangannya dan hendak pergi dari tempat ini, tapi aku semakin mengeratkan genggamanku sehingga ia tak bisa pergi dari sini.
"Sepertinya kau salah paham, Grace..." kataku mencoba tenang.
"Salah paham? Salah paham apa lagi, Jer? Semuanya sudah jelas! Kau meneleponku pagi-pagi dan bicara tentang pernikahan. Lalu akhirnya apa? Ternyata yang menikah bukan kau, tapi saudara kembarmu. Apa-apaan ini?" dengan tatapan tak percaya, Grace mulai menyerangku lagi dengan asumsinya yang sudah jelas keliru. Ya, aku memang meneleponnya pagi ini karena Johan, saudara kembarku, memintaku untuk memberitahu Grace tentang pernikahannya hari ini. Memaksa sebenarnya, karena ia tahu bahwa aku dan Grace sedang saling tidak bicara setelah kejadian Grace yang menolak cintaku. Salahku juga mungkin karena terlalu gugup saat mendengar kata 'Halo...' darinya dan hanya bisa merespon dengan kalimat 'Itu... Pernikahan...'
Ya, sepertinya ini memang salahku.

Sah!


“Jujur dengan perasaan kita lebih baik. Kalau cinta, katakan saja terus terang…”

Grace berlari tergesa-gesa keluar rumahnya. Dengan tidak sabaran ia menyalakan mesin mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi ke sebuah tempat. Masa bodoh dengan rambu lalu lintas sekarang, yang harus ia lakukan adalah secepatnya menyadarkan pria bodoh yang mungkin saat ini sudah memasangkan cincin ke jari gadis lain, tanpa tahu bahwa sebenarnya gadis yang lebih bodoh ini juga mencintainya.

Rabu, 25 Januari 2012

Ini bukan judul terakhir


Jemariku menari dengan lincah di atas piano yang kumainkan. ‘Melodies of the wind’, begitulah lagu ini kami namakan. Kami, aku dan Alena. Judul lagu yang pertama sekaligus terakhir yang sempat kami ciptakan bersama-sama.
Alena adalah gadis yang periang. Pertemuan kami berawal dari orang tua Alena yang memintaku untuk menjadi guru les piano untuk Alena. Pembawaan Alena yang menyenangkan dan suka bercanda membuat kami cepat akrab. Terlalu akrab sampai akhirnya membuatku melakukan sebuah kesalahan. Menjadikannya kekasih.

Selasa, 24 Januari 2012

Kalau Odol lagi Jatuh Cinta


“Dinoooo…!”
Seorang gadis berseragam putih abu-abu, berdiri di depan pintu kamar abangnya dengan muka ditekuk. Dengan kasar ia melempar odol yang sedari tadi digenggamnya erat-erat ke wajah abangnya.
“Kenapa sih, Mimi? Pakai acara lempar-lempar odol segala. Kan sakit…” protes Dino, abangnya, sambil mengusap wajahnya. Namun ternyata Mimi belum berhenti sampai di situ. Secara tiba-tiba ia menarik majalah olah raga yang baru dibaca setengah oleh abangnya.
“Sikat gigi sana! Malu tahu diledek sama teman-teman. Masa punya abang malas sikat gigi?!” teriak Mimi dengan tampang jijik.
Ya, Dino, abangnya ini, memang malas sikat gigi. Terakhir kali ia sikat gigi saja ia sudah lupa. Jelas saja Mimi diledek habis-habisan sama temannya.
“Ayo sikat gigi! Nanti kuman-kumannya bersarang di mulut bla bla bla…” kata Mimi lagi menirukan salah satu iklan yang pernah dilihatnya.
“Males, Mi. Lagian ga ngaruh juga…” jawab abangnya enteng.
“Eh? Kenapa?”
“Kan odolnya lagi jatuh cinta sama kuman-kuman di mulut abang. Jadinya dia ga tega ngebasmi kumannya…”
Dan kali ini bukan odol saja yang mengenai wajah Dino, tapi guling, majalah, dan barang-barang lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.

(Note : FF tergaje yang pernah saya bikin -_- )

When I Look into Your Eyes...


"Seperti sebuah kotak indah yang dihadiahkan Zeus pada seorang gadis... itulah dirinya. Kotak indah yang terus menyeret rasa penasaran setiap insan yang melihat untuk membukanya..."

Tania melirik pria disampingnya secara sembunyi-sembunyi. Setelan kemeja putih dengan dasi biru tua dan celana panjang hitam terlihat sangat pas di tubuhnya. Tangan kanannya menenteng tas ala pegawai kantoran yang berwarna hitam, warna yang senada dengan sepatu vantouvel yang sedang dikenakannya. Sudah hari ketiga sejak Tania memperhatikan pria yang selalu menunggu bus di halte ini. Awalnya Tania memang tak pernah menunggu bus di halte tersebut karena tempatnya yang agak jauh dari rumahnya. Biasanya ia lebih memilih taksi karena bisa lebih cepat tiba ke kantor. Tapi setelah melihat pria tersebut, akhirnya ia memilih untuk beralih ke bus.

Minggu, 22 Januari 2012

Merindukanmu itu seru!

Aku memandang deretan foto yang terdapat dalam folder berjudul 'On Vacation' di laptopku. Wajah-wajah gembira, melongo karena belum siap di foto, kepolosan anak pribumi yang berseru keheranan saat melihat wajah asing yang tak pernah mereka lihat, atau cuma memperlihatkan indahnya laut dan pulau. Sudah setahun lebih ternyata.