Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 September 2012

P. S. I Love You

Delay...”

Aku melirik jam besar yang menggantung di dinding dekat salah satu loket check-in lalu mengalihkan pandanganku pada jadwal kedatangan pesawat pada hari ini. Waktu kedatangannya sudah lewat. Seharusnya pesawat jenis Boeing 737 yang bertolak dari Narita itu sudah mendarat sejak 45 menit yang lalu, tapi tentu saja penundaan seperti ini memang sering terjadi.

Selasa, 04 September 2012

A Letter from a... Stalker

“@You : @He Dia memang hiatus dari sini, tapi dia ga pernah hiatus nge-stalk.”

Dia mengerjapkan matanya perlahan, membiasakan diri dengan sinar matahari yang masuk dari ventilasi kamarnya dan tanpa kasihan menyerang indera penglihatannya. Pagi kelima di bulan September, masih dengan rasa gerah yang diberi musim panas, dia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di rumah saja hari ini. Dengan posisi yang masih meringkuk dengan selimut yang sudah tak beraturan posisinya, dia mulai meraba-raba di sekitar tempat tidurnya, lalu tersenyum.

Jumat, 09 Maret 2012

A Room in Our Hearts


Credit to : www.shutterstock.com

“Kau tak akan pernah tahu kapan cinta datang dan menetap dalam ruang kecil di hatimu,
Sampai akhirnya ruang tersebut terlanjur menjadi semakin besar.”

                “Aku akan menjemputmu di kantor…”
                Kalimat yang dibacanya lewat pesan pendek yang dikirim pria yang akhir-akhir ini mondar-mandir dalam hidupnya membuat Diandra mendengus. Kalau saja pesan singkat tersebut dibacanya beberapa hari yang lalu, saat Tian belum mengakui kebohongannya, mungkin Diandra akan tersenyum sepanjang hari sampai ia berhasil bertemu dengan Tian. Namun sekarang semuanya berbeda. Sekarang Diandra malah membenci pria itu setengah mati dan sempat bersumpah untuk tidak bertemu dengan Tian lagi.
                Namun Diandra selalu lemah dengan hal-hal yang berhubungan dengan Tian. Ia malah mengiyakan saat Tian berkata ia akan datang ke kantornya.
Diandra merogoh dalam isi tas kerjanya dan menemukan headphone. Seperti yang sudah-sudah saat sedang stress, ia pasti akan mendengarkan musik. Perlahan sebuah lagu mengalir di kedua telinganya.
Aku tak bisa membencimu
Aku anak yang cengeng
Kau berpura-pura tidak tahu
Oh, caramu licik, kan?*
Sekelebat bayangan melintas dalam pikirannya. Pria itu, pria yang selama ini mengaku sebagai pengagum rahasianya sejak masa SMA, ternyata tak lebih dari seorang pembohong.
“Pria itu pembohong, Diandra… Lupakan dia…” batinnya terus menyuarakan kalimat yang sama. Namun seperti kaset rusak yang selalu mengulang bagian yang sama, ingatan tentang pria itu terus berputar dalam pikirannya. Tanpa disadarinya pria itu sudah mendominasi sebagian besar ruang di hatinya. Otaknya ingin membuang jauh-jauh ingatan tentang Tian, tapi ia tahu hatinya tak berkata seperti itu.
Ingatan Diandra kini beralih pada kejadian setahun yang lalu. Reuni sekolah yang diadakan setelah lima tahun kelulusan mereka yang berhasil mempertemukannya dengan pria itu lagi. Saat itu Diandra baru saja pulang dari kantor dan Vera dengan teganya berhasil menyeret Diandra untuk ikut dalam reuni itu. Walau sebenarnya Diandra merasa tak perlu ikut.

Satu tahun yang lalu…
                “Eh, lihat di sana!”
                Sepasang mata milik gadis yang mengenakan blazer biru muda itu mengikuti arah yang ditunjuk oleh sahabatnya, lalu akhirnya memiringkan kepalanya sambil memasang tampang bosan, seolah sosok yang dipandanginya tadi tak menarik sama sekali. Di ujung sana berdiri seorang pria dengan penampilan ala pegawai kantoran namun saat ini kemejanya sudah digulung ke atas sehingga memberi kesan yang lebih santai. Pria itu, Tian, sepertinya belum bisa menanggalkan status pria pujaan yang disandangnya semasa sekolah dulu. Terbukti dari gerombolan wanita yang berdiri di sekelilingnya dan secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan mereka pada pria tersebut.
                “Kamu masih ngefans sama dia? Ya ampun, Vera! Sudah berapa tahun sejak kita lulus SMA dan kamu masih tetap suka sama Tian? Ternyata kamu nggak berubah, ya…” gadis berblazer biru muda itu menatap sahabatnya Vera dengan tatapan tak percaya, sementara Vera hanya bisa membalasnya dengan sebuah dengusan. Hari ini mereka memang sedang menghadiri reuni yang diadakan oleh SMA mereka, dan Vera – entah bisa dikatakan beruntung atau tidak – akhirnya bisa bertemu lagi dengan senior yang sempat diincarnya dulu semasa mereka masih sekolah.
                “Aku nggak habis pikir bisa-bisanya ada cewek yang nggak ngefans sama si Tian. Dasar Alien!”
                “Dan Alien itu sahabatmu, kan?”
                Lagi-lagi Vera mendengus saat mendengar balasan dari sahabatnya – yang menurutnya lebih pantas disejajarkan dengan kaum Alien – sambil menggelengkan kepalanya. Sahabatnya Diandra memang seperti itu. Saat semua gadis di SMA mereka dulu belomba-lomba untuk merebut perhatian Tian, Diandra malah tidak ingat siapa Tian itu. Yang ia ingat adalah ia memang pernah bertemu satu kali dengan Tian di ruang guru saat hari pertama ia pindah ke SMA mereka. Tian sedang dimarahi bersama seorang murid laki-laki lain karena berkelahi dan Diandra tak begitu peduli untuk mengingat wajah Tian beserta murid lain yang ada di sebelahnya. Hari-hari selanjutnya sama saja. Diandra lebih memilih untuk menuju perpustakaan sekolah di saat Vera dan gadis-gadis lainnya dengan hebohnya menyoraki Tian saat jam istirahat. Cara yang berhasil untuk tidak mengingat wajah pria pujaan gadis satu sekolahan. Ia baru tahu siapa itu Tian saat hari kelulusan dan Tian diundang untuk maju ke depan untuk menerima penghargaan karena prestasinya di bidang olah raga.
                “Ya, sudah. Aku pergi dulu, ya?” Diandra beranjak dari meja tempat ia dan Vera duduk tadi, hendak melangkah ke arah pintu. Namun belum sempat ia melangkah lebih jauh, Vera sudah menarik tangannya lalu menatapnya dengan pandangan curiga.
                “Jangan bilang kamu masih penasaran sama pengagum rahasia yang selalu memasukkan surat ke dalam tas kamu waktu kita masih SMA! Kamu mau nyari dia sekarang, kan?” Vera memicingkan matanya sambil menatap Diandra lekat-lekat.
                “Siapa bilang? Aku harus pulang, Bodoh. Kasihan Mama di rumah sendirian,” Diandra tersenyum kecil pada sahabatnya itu lalu melangkah lagi ke arah pintu. Pesta mungkin masih panjang, tapi ia tahu ada sosok yang lebih penting yang tengah menunggunya saat ini. Ia tak bisa berlama-lama meninggalkan Ibunya sendirian di rumah. Terakhir kali Diandra meninggalkan Ibunya untuk tugas luar, Ia malah mendapati Ibunya yang meringkuk di tempat tidur sambil memeluk bingkai foto keluarga dan masih menggunakan baju yang sama seperti saat Diandra berpamitan.
Sebenarnya dugaan Vera tak sepenuhnya keliru, Diandra memang masih penasaran dengan pengagum rahasianya itu. Ia pun sempat menoleh ke arah taman yang dulunya sempat ditulis dalam surat yang dikirim oleh pengagum rahasia itu sebagai tempat pertemuan mereka. Tapi sayangnya baik hari saat perjanjian itu dilakukan, hingga reuni sekolah mereka setelah lima tahun terlewati, Diandra bahkan tak pernah bisa melihat bayangan pria tersebut.
Bus yang dinaikinya melaju menembus kelap-kelip lampu kota yang mulai bermunculan seiring datangnya malam. Bulan yang masih bersembunyi di balik awan membuat Diandra bertanya-tanya; sedang bersembunyi dari siapakah bulan itu? Tapi belum sempat pertanyaannya terjawab, bus tersebut sudah terlanjur berhenti pada halte dekat rumahnya. Poster-poster yang ditempel di tiang halte beberapa bulan yang lalu kini sudah berganti dengan poster yang baru. Ditimpa begitu saja pada tempat yang sama hanya karena poster tersebut sudah tidak menarik dan mulai terkelupas. Begitulah, yang lama, yang sudah tak berharga dan terlihat jelek sesegera mungkin akan digantikan oleh sesuatu yang baru. Sungguh menyedihkan jika ada manusia yang memiliki pola pikir seperti itu, tapi sayangnya itulah yang terjadi dalam keluarganya. Ayahnya pergi meninggalkan Ibunya karena tergoda pada wanita lain yang umurnya lebih muda. Apakah Ayahnya akhirnya masuk dalam kumpulan manusia yang berpola pikir seperti di atas? Sepertinya, iya.
                Diandra baru saja menutup pintu rumah ketika ia menangkap sebuah sosok wanita paruh baya yang tertidur di sofa dari sudut matanya. Ia bisa melihat bekas air mata yang belum mengering di pipi Ibunya. Sebuah bingkai foto berada dalam pelukannya, sebuah foto keluarga.
 “Ma…” Ia mengusap pipi Ibunya secara perlahan lalu mengambil posisi duduk pada lantai sambil merebahkan kepalanya di atas sofa. Ia bisa melihat kerutan di wajah Ibunya yang menua pada jarak sedekat itu. Sudah lewat empat tahun sejak peristiwa itu terjadi, namun Ibunya belum bisa merelakan Ayahnya yang berselingkuh dengan wanita lain.
Diandra menatap Ibunya lagi lalu membiarkan matanya yang mengantuk menutup begitu saja. Satu hari yang sibuk berhasil dilewatinya lagi. Entah apa yang akan dibawa oleh hari esok, ia tak mau memikirkannya.
***
Diandra adalah tipe orang yang tak suka membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang tidak penting. Bagi orang lain mungkin dunia ini seperti sebuah taman bermain, tapi baginya? Dunia ini adalah medan perang. Tak ada waktu untuk bersantai-santai.
Tapi akhirnya Diandra yang begitu menghargai waktu harus rela membuang beberapa menit berharga dalam hidupnya dengan mematung karena sebuah surat yang menyembul dari kotak posnya pagi ini.
Dear Diandra,
        Aku tak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian lama. Dulu aku sempat berpikir bahwa tak ada lagi kesempatan bagiku untuk mengejarmu lagi, tapi saat aku melihatmu sosokmu di malam reuni itu, aku tahu aku tak bisa mundur lagi…
                “Apa maksud…” ujar Diandra lalu membolak-balik surat tersebut dengan wajah bingung. Ia tak menyangka pengagum rahasia yang dulu selalu menyisipkan surat ke dalam tasnya kini beraksi kembali. Bedanya saat ini ia langsung menyambangi rumah Diandra dan menyelipkan suratnya ke dalam kotak pos.
                Diandra masih sibuk membolak-balik surat tanpa nama pengirim tersebut dan tak menyadari kehadiran seseorang yang telah berdiri di depannya.
                “Diandra?”
                Diandra terkesiap mendengar namanya disebut. Dan saat ia mengangkat kepalanya, seorang pria telah menatap dirinya dengan tatapan penuh minat. Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut pria itu malah menambah kekagetannya.
                “Akhirnya aku menemukan rumahmu.”
                Pria itu Tian.
***
“Ruang di hati ini… Hanya tersedia untuk satu nama saja.”

“Kopi?” Tian menyodorkan segelas kopi yang dibelinya dari mesin minuman di kantor Diandra. Sudah sepuluh menit ia berada di situ, tapi Diandra sepertinya belum mau membuka mulutnya sama sekali.
                Ia tahu ini sepenuhnya kesalahannya. Dirinya tak bisa berpikir jernih saat Diandra dengan bersemangat bertanya padanya tentang pengagum rahasia yang dulu sering menyelipkan sebuah surat ke dalam tas Diandra dan langsung mengaku sebagai pengagum rahasia itu. Padahal hari itu ia hanya ingin melihat rumah Diandra saja dan berpikir tentang cara mendekati gadis tersebut. Diandra memang berbeda dengan gadis lainnya. Entah kenapa Tian tak pernah mendapat celah untuk mendekati Diandra. Bahkan sampai hari kelulusannya, ia tak pernah berhasil untuk mengajak Diandra berkenalan.
                “Diandra… Maaf…” Tian masih berusaha membujuk Diandra, tapi Diandra tak bergeming. Diandra terus menatap ke arah lain dan tak mau menatap Tian.
“Kamu tau, kan? Aku benci dibohongi…”
Tian mengangkat kepalanya lalu menyadari sorot mata Diandra yang menghunjam padanya.
“Ya, karena itu…”
“Kamu juga tau, kan? Bagaimana pria itu… Papaku… mengkhianati Mama?”
Tian tak bisa menemukan kata-kata untuk membela dirinya. Diandra benar, hatinya sudah terlalu sakit untuk menerima kebohongan lagi. Tapi Tian tak bisa melepas Diandra begitu saja.
                “Diandra…” Tian meraih sepasang tangan milik Diandra ke dalam genggamannya, “lihat ke dalam hatimu. Kamu pasti tau apa yang lebih penting.”
                “Aku nggak tau… sama sekali nggak tau…”
                Keheningan merayap di antara mereka. Tian memilih untuk menatap langit yang mulai gelap dari jendela kantor Diandra sedangkan Diandra mulai menyesap kopi yang dibelikan oleh Tian tadi. aroma Latte memenuhi ruangan saat Diandra membuka tutup dari gelas plastik tersebut.
                “Berjanjilah…” Diandra membuka mulutnya setelah kopi dalam gelasnya habis, “berjanjilah untuk menjadi diri sendiri mulai sekarang. Berhenti menggunakan embel-embel pengagum rahasia itu. Cintai aku sebagai Septian Rajasa, bukan yang lain…”
                Binar kebahagiaan muncul di mata Tian. Ia dan Diandra memang tak pernah bertengkar dalam jangka waktu yang lama, tapi ia tak menyangka kalau Diandra bisa memaafkannya kali ini.
                “Kira-kira apa yang akan terjadi besok, ya?” Diandra memutar posisi duduknya lalu menatap langit yang memerah saat senja tiba.
                “Entahlah… Tapi sepertinya semua akan baik-baik saja bila kita melewatinya bersama.”
                Tian menggenggam tangan Diandra dengan lembut lalu ikut menatap langit di luar sana. Matahari mulai menghilang di kaki langit. Ia tak peduli tentang apa yang akan dibawa oleh hari esok, namun ia tahu ruang di hatinya hanya ada untuk Diandra.
Buktikanlah cinta ini
Dan kita berdua kembali membicarakan tentang masa depan
Menghabiskan setiap hari tanpa peduli.*
                Ya, semua akan baik-baik saja bila mereka bersama.
***
                “Ada surat.”
                Tian mengikuti arah yang ditunjukkan oleh telunjuk Diandra lalu melihat ujung amplop yang menyembul dari kotak pos. Mereka baru saja pulang dari kantor Diandra dan tiba-tiba dikagetkan oleh sebuah surat yang berada dalam kotak pos dengan ciri-ciri yang sama dengan yang sering dikirimkan oleh pengagum rahasia itu.
                “Coba lihat apa lagi yang dia tulis sekarang?” Tian menarik surat tersebut dengan tidak sabaran lalu membaca isi surat tadi bersama Diandra. Dan mata mereka melotot hampir bersamaan saat membaca nama pengirim yang tertera di bagian akhir surat itu.
"Hah?!"
***
“Believe… Love will find a way.”

Seorang anak kecil bersayap tersenyum saat melihat sepasang manusia berlainan jenis terkejut menatap surat terakhir yang diletakkannya di kotak pos gadis tersebut.
Dear Diandra dan Tian,
        Aku sempat ragu saat mendapat tugas untuk menautkan benang merah di antara kalian. Apa kalian tahu? Sudah lama aku melihat benang merah antara kalian yang selalu menegang layaknya terkena sengatan listrik ketika kalian berpapasan. Tapi sayangnya entah kenapa benang tersebut tak kunjung bertaut. Aku tak tahu apa yang salah, sepertinya seluruh prosedur sudah kulaksanakan dengan benar.
        Aku mulai menulis surat untuk Diandra. Aku tahu mungkin ini agak konyol. Mana mungkin Cupid mengirim surat untuk manusia? Tapi begitulah, aku sudah putus asa dengan ketidakpedulian antara kalian berdua, jadi aku memilih untuk menempuh cara ini.
        Jadi, selamat! Akhirnya kalian menjadi pasangan. Aku berharap hubungan kalian akan awet (aku menjamin keawetan hubungan kalian. Aku Cupid, ingat?) sampai seterusnya.
        Selamat berbahagia, Diandra dan Tian. Tetaplah untuk saling menjaga cinta dalam ruang di hati kalian.

Sincerely,    

Cupid         
"Yang benar saja! Surat ini dari Cupid?!"
Anak kecil bersayap itu tersenyum saat mendengar namanya disebut lalu terbang menjauh dari dua manusia tadi. Akhirnya pasangan yang selama ini begitu sulit untuk disatukannya kini bisa saling mencintai dan ia sangat bahagia saat melihat benang merah antara keduanya saling bertaut dengan erat. Sepasang manusia berhasil menemukan takdirnya lagi. Who’s next?

Note : * : Lirik lagu YUI – a room

Jumat, 17 Februari 2012

Re-"Summer Song"


                Mataku menyipit saat menangkap cahaya matahari yang menyilaukan di atas sana. Secara refleks aku mengangkat tangan kananku sekedar menahan cahaya matahari yang menerpa, tapi mataku malah kelilipan pasir yang menempel pada telapak tanganku.
“Akh!” aku menjerit saat pasir tersebut memberikan efek kesakitan pada mataku. Baru beberapa menit kemudian mataku bisa melihat dengan jelas lagi dan menangkap warna biru pada laut di depanku. Laut pada pukul dua belas siang memang terlihat paling berkilau. Siapa bilang bintang hanya ada di malam hari? Ada begitu banyak kilauan yang menyerupai bintang di laut sana.

Selasa, 14 Februari 2012

Kelereng

Nama : Stany Cecilia
Judul : Kelereng
Judul lagu : YUI - Shake My Heart

            Warna biru kehitaman mulai muncul di kaki langit. Hari ini hampir berakhir tapi aku sama sekali tak mendapat kabar darimu. Apa kau sedang berada di daerah yang terpencil sehingga tak dapat menelepon? Aku kehilangan ide untuk menebak kemungkinan yang lain.
“Shake my heart, yeah!
Shake your heart, baby!”
            Ponselku melantunkan sebuah potongan lagu ‘YUI – Shake My Heart’ yang kupilih khusus untuk nomormu. Ada keraguan saat ingin mengangkat teleponmu. Tapi, tubuhku selalu mengikuti hatiku. Aku menjawab teleponmu.
“Hai…” sebuah sapaan terdengar dari seberang sana. Terdengar suara motor yang lewat serta bunyi klakson mobil. ‘Apa kau sedang berada di luar?’ tanyaku dalam hati.
“Hai…” aku menjawab sapaanmu dengan kaku. Entah sejak kapan aku mulai menjadi seperti ini, mungkin sejak semuanya mulai berubah.
“Kau…” suaramu terhenti tiba-tiba, aku mendengar sebuah desahan panjang sebelum akhirnya kau berkata lagi, “… kau sudah memikirkan soal itu?”
Deg! Sebenarnya aku sudah tahu kau akan menanyakan hal tersebut. Tapi sepertinya jantungku belum bisa beradaptasi dengan hal tersebut.
            Suara klakson mobil tetanggaku tiba-tiba terdengar, dan betapa kagetnya diriku saat mendengar suara yang sama dari telepon yang kugenggam.
“Di mana posisimu sekarang?” tanyaku tanpa basa-basi.
Tak ada jawaban, hanya tawa kecil yang terdengar. Dan benar saja, saat aku bergegas membuka jendela kamarku, ada dirimu yang melambaikan tangan di bawah sana.
***
            “Kau sudah gila…” desisku, namun lagi-lagi kau hanya tertawa.
“Apa maksudmu mengataiku gila? Aku memang pulang karena ada hal yang harus kuurus. Bukan untuk…” kau menghentikan kalimatmu lalu menatapku dengan tatapan menggoda, yang langsung kuhadiahi sebuah jitakan.
“Ah! Ada hadiah untukmu,” katamu lalu sibuk mengacak-acak ransel.
Sepertinya kuliah di luar negeri sudah membuat otakmu jadi tidak beres. Mana ada seorang pria yang memberi hadiah seperti ini di hari Valentine? Atau mungkin saja uangmu sudah terkuras habis karena biaya hidup di sana yang cenderung tinggi?
“Kelereng?” tanyaku sambil melotot. “Hadiahnya kelereng?”
“Ya, memangnya kenapa?”
Aku baru saja ingin menjejalkan kelereng itu di dalam mulutmu jika saja kau tak memberikan isyarat bahwa ada alasan di balik hadiah ini.
“Kelereng, bola kecil yang terbuat dari kaca,” katamu memulai. “Di dalamnya terdapat lapisan unik dengan warna yang berbeda untuk setiap biji kelereng. Lihat! Kau bisa dengan mudah melihat lapisan itu, kan? Tapi sayang…”
“Apanya yang sayang?” aku memiringkan kepala, bingung dengan perkataanmu yang setengah-setengah. Tapi kau tak bergeming dan terus menatap kelereng itu dengan murung.
“Kenapa hatimu tak seperti kelereng ini? Kenapa aku tak bisa melihat isi hatimu dengan mudah?”
            Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku tahu sandiwara ini harus segera diakhiri. Tapi aku takut, apa kita akan baik-baik saja setelah ini?
“Tentang pertanyaanmu tempo hari… aku tak bisa menjawab…” desahan panjang terdengar lagi. Apa kau kecewa? Tapi aku tahu kau akan tersenyum setelah ini. Karena kalimat tersebut belum selesai. Lanjutannya adalah, “aku tidak bisa menjawab… tidak.”
            Ada senyum tak percaya yang muncul di wajahmu. Namun saat senyum itu berubah menjadi tawa, seiring dengan genggaman erat yang kau beri pada tanganku, aku tahu semuanya akan baik-baik saja.

Rabu, 08 Februari 2012

Cinta Bikin Galau


Semilir angin sore membuat sepasang mata terkantuk-kantuk. Joko, tengah duduk di serambi kost-kostannya sambil bersiul. Sore-sore begini biasanya jadwal si Marni bergosip dengan Ibu kostnya, dan Joko tak mau ketinggalan satu moment pun untuk menggoda si pembantu sebelah rumah itu.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Tiba-tiba terdengar bunyi pagar yang ditutup dari rumah sebelah. 'Itu pasti Marni!' Joko bersorak dalam hati.

Sabtu, 04 Februari 2012

Star Sapphire... (Listen to My Dream)

Judul : Star Sapphire (Listen to My Dream)
Key word : Salju, pasar malam, polkadot, rasi, jelantah.


Kutatap refleksi diriku yang terlihat pada cermin. Cantik, ya semua pengantin memang akan terlihat cantik pada hari pernikahannya. Tapi entah kenapa semua ini terasa tidak nyata. Sejak benda itu hadir dalam hidupku, benda yang kini berada dalam genggamanku dan tak bisa menyembunyikan kilaunya. Dengan hati-hati aku membuka kedua tanganku dan benda itu semakin berpendar dengan indah. Perlahan kedua mataku terpejam kemudian melakukan gerakan seperti berbisik pada benda tersebut.
“Dengar mimpiku…” bisikku, dan pola bintang pada benda itu semakin memancar lalu tiba-tiba seperti meloncat keluar dari tempatnya. Memenuhi diriku dengan cahaya yang hanya bisa terlihat olehku.

Macchiato

Bila cinta bisa diumpamakan sebagai secangkir kopi?



Mataku berkeliling ke seluruh sudut cafe ini. Sepi, hanya ada sepasang muda-mudi yang duduk dekat pintu dengan dua gelas es kopi, seorang pria di meja sebelah dengan penampilan ala pebisnis muda yang bersembunyi di balik koran, dan ada aku, gadis yang duduk di sudut cafe dengan dahi yang saling bertaut.

Selasa, 31 Januari 2012

Pawang Hujan


“Kalau memang setiap manusia bisa memilih, kenapa aku tak bisa memilih untuk berada di sisimu?”

Kopi Tubruk

Uap yang mengepul dari gelas di hadapanku mulai menghilang. Hampir tiga puluh menit aku menanti di tempat ini, untuk seseorang yang bahkan tak ku ketahui rupanya. Modalku hanyalah sebuah nama, Ridwan, yang tak sengaja terucap dari mulut Ayah saat bertengkar dengan Ibu dua hari yang lalu. Tapi sepertinya sekarang aku tak bisa menyebutnya Ayah lagi, karena nyatanya ia bukan Ayah kandungku.

Kamis, 26 Januari 2012

Menikahlah denganku...

"Kau... menipuku..."
Aku menatap gadis di depanku ini dengan bingung? Menipu? Apa maksudnya?
"Kenapa... Kau pikir hal seperti ini lucu, begitu? Kau pikir mempermainkan perasaan orang lain itu menyenangkan? Kau hebat, Jeremy. Sangat hebat..." lanjutnya lagi dengan nada sinis lalu berusaha untuk melepaskan genggamanku di tangannya dan hendak pergi dari tempat ini, tapi aku semakin mengeratkan genggamanku sehingga ia tak bisa pergi dari sini.
"Sepertinya kau salah paham, Grace..." kataku mencoba tenang.
"Salah paham? Salah paham apa lagi, Jer? Semuanya sudah jelas! Kau meneleponku pagi-pagi dan bicara tentang pernikahan. Lalu akhirnya apa? Ternyata yang menikah bukan kau, tapi saudara kembarmu. Apa-apaan ini?" dengan tatapan tak percaya, Grace mulai menyerangku lagi dengan asumsinya yang sudah jelas keliru. Ya, aku memang meneleponnya pagi ini karena Johan, saudara kembarku, memintaku untuk memberitahu Grace tentang pernikahannya hari ini. Memaksa sebenarnya, karena ia tahu bahwa aku dan Grace sedang saling tidak bicara setelah kejadian Grace yang menolak cintaku. Salahku juga mungkin karena terlalu gugup saat mendengar kata 'Halo...' darinya dan hanya bisa merespon dengan kalimat 'Itu... Pernikahan...'
Ya, sepertinya ini memang salahku.

Sah!


“Jujur dengan perasaan kita lebih baik. Kalau cinta, katakan saja terus terang…”

Grace berlari tergesa-gesa keluar rumahnya. Dengan tidak sabaran ia menyalakan mesin mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi ke sebuah tempat. Masa bodoh dengan rambu lalu lintas sekarang, yang harus ia lakukan adalah secepatnya menyadarkan pria bodoh yang mungkin saat ini sudah memasangkan cincin ke jari gadis lain, tanpa tahu bahwa sebenarnya gadis yang lebih bodoh ini juga mencintainya.

Rabu, 25 Januari 2012

Ini bukan judul terakhir


Jemariku menari dengan lincah di atas piano yang kumainkan. ‘Melodies of the wind’, begitulah lagu ini kami namakan. Kami, aku dan Alena. Judul lagu yang pertama sekaligus terakhir yang sempat kami ciptakan bersama-sama.
Alena adalah gadis yang periang. Pertemuan kami berawal dari orang tua Alena yang memintaku untuk menjadi guru les piano untuk Alena. Pembawaan Alena yang menyenangkan dan suka bercanda membuat kami cepat akrab. Terlalu akrab sampai akhirnya membuatku melakukan sebuah kesalahan. Menjadikannya kekasih.

Minggu, 22 Januari 2012

Tentangmu yang Selalu Manis


“Ini apa?”
Kau terkejut saat melihat semua koleksi lukisan yang akan kupamerkan di pameran lukisan pertamaku.
“Ehh? Lukisan tentu saja…” aku, gugup secara total mencoba untuk tidak menatapmu dan mulai mengusap-usap hidungku. Kebiasaan yang kulakukan bila aku sedang gugup.
“Lalu kenapa semuanya wajahku?”
Nah loh! Tentu saja ia akan bertanya seperti ini.
“Karena tema pamerannya kan memang seperti itu. Kau belum membacanya ya?” kataku lagi sambil menunjuk brosur pameran yang sudah kuberikan padanya sejak dua hari yang lalu. Sedangkan pameran itu sendiri akan diadakan seminggu lagi.
“Tentu saja aku sudah membacanya. Temanya kan ‘Tentangmu yang Selalu Manis’…” protesmu lalu akhirnya tersenyum mengerti.
Ya, ini semua tentangmu. Tentangmu yang selalu manis. Yang selamanya akan selalu begitu.

Rabu, 18 Januari 2012

Sepucuk surat (bukan) dariku

Aku sedang sibuk di dapur ketika Rony datang. Kuabaikan klakson mobil Rony yang berbunyi beberapa kali untuk dibukakan pintu. Toh dia punya kunci sendiri.
"Kok pintunya tak dibukakan?" katanya dengan nada kesal yang dibuat-buat, tapi lagi-lagi aku lebih memilih menekuni masakan yang berada di depanku.
Lalu tiba-tiba Ia memelukku dari belakang. Kurasakan kedua tangannya mendekap erat pinggangku dan hembusan nafasnya yang menyapu rambutku. Sangat menyenangkan rasanya disayangi seperti ini. Rony memang semakin perhatian sejak kami menikah setahun yang lalu.
"Terima kasih, sayang. Suratnya sudah aku baca..." ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Surat?"
"Ya. Ini..." katanya lagi sambil menunjukkan sebuah amplop putih tanpa nama pengirim. Hanya tertulis 'Untuk Rony yang kusayangi...'
"Aku bahagia sekali. Akhirnya kita dikaruniai seorang anak. Tuhan sudah menjawab doa kita."
"I... Itu..."
"Awalnya kukira kau hanya ingin menjahiliku dengan mengirim surat yang hanya bertuliskan 'aku hamil!' tapi tak tahunya di dalam amplop masih ada ini..." katanya lagi sambil menunjukkan sebuah test pack. Positif.
Dan Ronypun meninggalkanku yang berdiri terdiam, terlanjur gembira dengan kenyataan bahwa Ia telah menjadi Ayah walau nyatanya yang mengandung anak itu, wanita itu dan pengirim surat itu... bukan aku.

Senin, 16 Januari 2012

Ada dia di matamu...


“Aku tak bisa membaca matamu, itu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Ingin kukatakan bahwa cinta itu tidak buta, cinta itu tidak menyesatkan, tapi nyatanya aku tersesat…”

Rin menatap status di salah situs pertemanan yang baru saja muncul di layar handphonenya. Sebaris kalimat yang biasa, hanya menulis tentang sebuah nama tempat. Tapi sosok yang menulisnya lah yang tidak biasa. Seorang pria, yang pernah dijulukinya sebagai ‘Si Manis’ tapi akhirnya dibencinya karena perbuatan pria itu.
Berawal dari sebuah perkenalan pada umumnya, tak ada yang istimewa sebenarnya. Sampai akhirnya Rin sadar ada sesuatu yang lebih. Hatinya tak dapat berbohong.
“Be mine?”
Sebaris kalimat yang sempat terucap dari pria itu kembali terngiang. Dan mau tak mau ingatan itu muncul lagi dalam pikirannya, membuat kedua matanya terpejam, lalu mengingat kepingan peristiwa yang dulu sempat ingin dibuangnya jauh-jauh. Tapi nyatanya Ia tak bisa.
“Tapi kenapa?” Rin, menatap lurus ke arah kedua mata pria itu. Tak bisa terbaca.
“Entahlah…” jawab pria itu penuh misteri.
Ya, entahlah. Semua dimulai dengan kata itu. Sebuah harapan, lalu rasa rindu, dan akhirnya sepi.
Rin menatap status itu lagi, dan akhirnya tersenyum. Dan Ia tahu senyum kali ini bukanlah senyuman pahit. Sesuatu yang terjadi antara mereka, bahkan sebenarnya belum dimulai sama sekali, adalah sebuah pelajaran. Cinta, genggaman tangan, bahkan bayangan yang ada di kedua mata pria itu bukanlah miliknya. Karena…
“Karena hanya ada dia di matamu, kan?” Rin berujar pada udara kosong di depannya, dan membiarkan kata-kata itu terbawa oleh angin, lalu akhirnya menghilang.

“… nyatanya aku tersesat. Ya, aku sempat. Tapi apakah kau tahu? Ternyata aku masih bisa menemukan jalanku lagi dan tersenyum. Karena cinta yang sebenarnya telah memanggilku, dan cinta itu bukan kau.”

Sabtu, 14 Januari 2012

AKU MAUNYA KAMU TITIK!


Laut yang biru menyambut kami. Ombak yang terbawa sampai ke pantai membasahi kedua kakiku. Sejuk sekali rasanya. Ahh… Aku sangat suka laut.
“Kau bahagia?” tanyanya sambil tersenyum padaku. Tangannya sedari tadi tak mau melepas genggamannya pada tanganku. Jemari kami saling bertaut, layaknya pasangan pada umumnya yang sedang jatuh cinta.
“Tentu saja,” jawabku dan membalas senyumannya. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia. Pergi ke tempat kesukaanku, bersama orang yang kusukai pula. Sempurna!
“Tapi aku tak bisa terus bersamamu. Aku harus pergi.” Ia berkata lirih lalu memandangku sedih. Matanya berkaca-kaca saat mengatakan hal tersebut.
“Kenapa? Aku salah apa?”
“Kamu tak salah apa-apa. Ini sepenuhnya salahku.”
Air mata perlahan menetes di kedua pipiku. Kenapa semuanya harus berakhir secepat ini? Padahal kami baru saja memulai. Aku benar-benar tidak rela.
“Kurasa ini adalah pertemuan terakhir kita,” lanjutnya lagi. Dengan enggan Ia melepas jemari kami yang saling bertaut. “Kamu pasti bisa bahagia dengan pria lain…” katanya lagi sebelum berbalik meninggalkanku.
“Tapi… Tapi… AKU MAUNYA KAMU! TITIK!”
Aku berdiri dan tiba-tiba sadar. Aku ada di kelas, ternyata tadi cuma mimpi. OH-MY-GOD.
“Kenapa kamu teriak-teriak? Mau saya usir?” tegur dosen yang sedang mengajar di mata kuliah ini.
Dan aku hanya tertawa cengengesan lalu menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. “Tidak, Pak.”
“Ya sudah. Duduk!” perintahnya galak. Dan tak perlu hitung sampai tiga aku sudah duduk lagi ke kursiku.
“Aku maunya kamu… Titik…” bisik teman sekelasku yang duduk di belakang lalu tertawa cekikikan.
Hahaha… Rasanya aku ingin sembunyi dalam gua sekarang.

Kamu manis, kataku...


"Hei, boleh duduk di sini?"
Suara seorang pria mengagetkanku. Dengan cepat aku menyeka air mata yang masih menggantung di pelupuk mata lalu mengangkat kepala. Aku mencoba melihat siapa yang menyapa, tapi wajahnya silau terhalang cahaya matahari.
"Boleh..." kataku sambil bergeser untuk memberinya tempat di sebelahku.
"Terima kasih." katanya pendek. Ia lalu duduk di sampingku dalam diam. Kedua tangannya diletakkan di samping tubuhnya dan bertumpu pada bangku yang kami duduki. Ia bukan tipikal orang yang bisa diam sepertinya. Sedari tadi Ia sering mengayunkan kakinya dan mengetuk-ngetukkan jari-jari tangannya pada bangku, menimbulkan kegaduhan yang jujur saja sangat mengganggu.
“Bisa diam sedikit?”
“Hah?” Ia menolehkan kepalanya padaku sambil mencabut headset yang menancap di telinganya. Ahh… pantas saja.
“Tidak, lupakan saja.”
Kami kembali sibuk dengan dunia kami masing-masing. Tapi itu tak berlangsung lama karena pria itu lagi-lagi menimbulkan bunyi berisik saat membuka bungkusan plastik yang dibawanya. Es krim?
"Kamu mau?"
Sejenak aku menatapnya dengan bingung. Siapa orang ini? Tiba-tiba datang lalu meminta untuk duduk di sampingku, dan sekarang malah menawarkan es krim.  Kutolehkan kepalaku ke kanan dan kiri. Bangku di sebelahku kosong, kenapa orang ini memilih duduk di sebelahku?
“Apa aku mengenalmu?” tanyaku curiga.
“Tidak.”
“Lalu? Kenapa kamu bisa bersikap sok akrab seperti ini padaku?”
“Suka saja. Es krim? Tapi makan sisi yang coklat saja. Yang Strawberry punyaku,” katanya lagi sambil menunjuk batas yang menunjukkan jatah es krim ku dan miliknya.
Satu kotak besar es krim, dengan dua rasa dan dua sendok, sungguh sesuatu yang tidak wajar. Tapi aku seakan lupa nasehat Ibu untuk berhati-hati pada orang asing. Entah kenapa tapi aku merasa nyaman di sampingnya. Aku malah menerima tawarannya untuk berbagi headset. Dan kami berdua pun menyendok es krim yang menjadi jatah masing-masing sambil mendengarkan lagu yang mengalun.
“Ternyata begitu…” kataku tiba-tiba.
“Apanya?”
“Jatuh cinta. Seperti lirik lagu yang tadi, jatuh cinta itu biasa saja…” sambungku lagi sambil menyenandungkan salah satu kalimat dari lagu yang tadi kami dengar.
“Ohh, ya. Kalau begitu cepatlah jatuh cinta padaku.”
“Eh?”
Ia tersenyum lebar sampai gusinya terlihat lalu berkata lagi, “Kan jatuh cinta itu biasa saja. Nanti kalau sakit hatimu sudah hilang, kau jatuh cinta padaku saja, ya?” dan aku hanya bisa terbengong-bengong dibuatnya.
“Ya sudah. Aku pulang… jangan lupa untuk jatuh cinta padaku, ya?” katanya sambil bangkit berdiri lalu mengulurkan jari kelingkingnya padaku. “Ya?”
Dan aku tertawa. Entah terhipnotis atau apa, aku menjulurkan jari kelingking dan menjawab, “Ya.”
Lalu Ia pun melambaikan tangannya sambil tertawa lagi dan berlari meninggalkanku. Sayup-sayup aku masih mendengar sorakannya dan mendadak tersenyum. Patah hati lalu jatuh cinta, apakah ini bisa terjadi hanya dalam hitungan jam? Walau semua masih tanda tanya, tapi kurasa itu mungkin saja terjadi, karena kamu manis. Karena kamu manis, kataku.

Minggu, 01 Januari 2012

The Future has Its Own Promise


“Genggam tanganku dan kau akan melihat
Dunia yang kucintai dan lagu yang mengiringinya
Resapkan setiap kata, maknai setiap nada
Kau akan tahu… oleh siapa lagu itu bernyawa.”

“Ivy, apa kau sudah siap?”
Sebuah suara yang familiar menghentikan aksiku yang meremas-remas gaun karena gelisah, muncul di saat yang tepat sebelum aku merusak gaun pengantin yang sedang kupakai. Seorang pria berumur enam puluhan berdiri di depan pintu sambil menatapku lembut. Sekilas kulihat ada tatapan khawatir yang muncul dari wajahnya, yang langsung hilang beberapa detik setelahnya. Pria ini memang hebat dalam hal penguasaan diri.
“Ayah…” aku berlari menuju pria yang berdiri di depan pintu lalu memeluknya. Perlahan air mataku menetes.
“Jangan menangis…” katanya sambil mengusap puncak kepalaku lalu menghapus air mata yang jatuh dari kedua mataku.
Rasanya aku ingin tertawa saat mendengar ucapan Ayah yang mirip scene pernikahan pada film-film yang kutonton. Scene saat sang mempelai wanita menangis pada Ayahnya yang akan mengiringnya ke depan altar. Yang akan selalu dijawab…
“Mempelai wanita selalu menangis saat pernikahannya, Ayah…” jawabku yang akhirnya merasa begitu bodoh karena dulu sempat menertawakan adegan film yang seperti ini.
“Baiklah kalau begitu. Pegang tangan, Ayah.”
Ku anggukkan kepalaku dan mengenyahkan semua pikiran negatif yang melayang di otakku sejak tadi. Dan di saat kedua sisi pintu kayu itu terbuka, jantungku serasa ingin melompat dari tempatnya.
Oh Tuhan… Jangan biarkan aku mati saat ini.
***
Januari, 31.
Ya… Aku menulis di atas kertasmu lagi. Aku tahu ini tak lazim bagi seorang wanita seumuranku, apalagi wanita yang akan segera menikah. Karena itu aku tak lagi memakai embel-embel ‘Dear Diary’ yang biasa kutulis di umur belasan.
Apa aku menulis kata ‘menikah’ tadi? Ya… Ya… Ya… Menikah. Sampai hari ini aku masih tak bisa mempercayai kenyataan bahwa aku akan segera menikah dengan Tom, dan kami sudah mendaftarkan diri sebagai calon pengantin di gereja.
Tapi, entahlah. Ada beberapa hal yang membuatku takut akhir-akhir ini. Karena itulah aku membuka lembaranmu lagi dan menulis, karena setiap keluhan yang kukeluarkan saat ini hanya akan ditanggapi sebagai sindroma pra-nikah oleh semua orang di sekitarku.
Ia sempurna… sangat. Tak ada pria lain yang kuinginkan bersanding denganku di depan altar selain dirinya. Memang ada begitu banyak perbedaan. Aku percaya mitos, Tom lebih memilih untuk menertawakannya. Aku senang menghabiskan waktuku dengan menulis, Tom lebih suka naik gunung. Aku suka makan cereal dengan banyak susu, Tom lebih suka memakannya langsung dari kotaknya.
Begitu banyak perbedaan lainnya yang tak bisa ku sebutkan satu persatu. Dan kurasa hal-hal lain akan menyusul setelah aku mengenalnya lebih dekat lagi sebagai pendamping hidupku. Aku pernah mendiskusikan hal ini dengan Tom, tapi Ia hanya menjawabnya dengan senyuman dan kecupan yang menenangkan di dahiku.
Tom senang memanggilku dengan nama tengahku, Ivy. Sama dengan cara Ayah dan Ibuku memanggilku. Saat kutanya alasannya, Ia hanya menjawab, “karena aku suka nama itu…” Aku juga menyukai namamu Tom, dan kupikir aku tak akan menyukai nama pria lain lagi selain namamu, Tomas Agustinus.
Jadi… Apa yang harus kulakukan? Pernikahanku tinggal dua minggu lagi… Apa yang harus kulakukan?
***
“Berawal dari sebuah tanda tanya, lalu koma yang menggantung. Ada ‘titik-titik’ yang tak bisa dijawab, tanda seru yang meledak-ledak, lalu akhirnya tiba hari dimana aku bisa membubuhkan tanda titik… pada hatimu.”

Lantunan lagu Ave maria mengalun seiring dengan langkahnya menuju altar ini, altar tempatku berdiri menantinya dengan tatapan terpukau. Aku terlalu khawatir beberapa hari ini. Apa Ia baik-baik saja? Apa Ia makan tepat waktu? Tapi kekhawatiranku kini lenyap seketika saat melihatnya melangkah menuju altar yang sama denganku.
Sebuah ingatan singgah di otakku, menampilkan kilasan peristiwa dua minggu yang lalu yang seperti terulang kembali di depan mataku. Aku dan Ivy duduk di bangku depan gereja ini, mengikuti misa seperti minggu-minggu sebelumnya. Hubungan kami sudah berlangsung selama tiga tahun, dan minggu lalu akhirnya Aku memberanikan diri untuk melamarnya.
Agak lucu memang jika mengingat bagaimana caraku melamarnya. Ivy yang hobi bersih-bersih berbaik hati untuk membersihkan apartemenku, dan aku yang serampangan lupa bahwa cincin yang kubeli hari sebelumnya untuk melamarnya tergeletak begitu saja di meja ruang tamu.
“Ini… Cincin?”
Random, kacau, gagal total. Semua rencana cara melamar yang paling romantis hasil begadang semalaman hancur sudah karena sifatku yang berantakan ini. Dan yang terjadi selanjutnya menjadi sumber kelucuan dari prosesi pelamaran ini. Ahirnya dengan wajah bingung, aku berlutut di hadapannya lalu melamar Ivy. Tak ada makan malam romantis, tak ada lantunan piano atau biola, hanya ada seorang pria dengan kaus putih kusut bertuliskan ‘I Believe My Self!’ dipadu dengan celana pendek biru serta gadis dengan terusan rumah berwarna baby pink yang dibalut oleh celemek karena sedang bersih-bersih. Dan jawabannya adalah “Iya”.
“Akan masuk dalam pernikahan yang suci, Saudara Tomas Agustinus dengan Saudari Imanuella Ivy . Apabila kedua mempelai hadir saat ini, dimohonkan untuk bangkit berdiri.”
Aku menatap pantulan diriku yang terlihat begitu bahagia saat nama kami disebut. Sambil berpegangan tangan, kami berdiri dan tersenyum kepada orang-orang yang menghadiri misa pagi itu. Dan tepukan riuh menyambut kami berdua. Bahagia sekali rasanya saat itu.
Kupikir hari itu adalah hari yang paling membahagiakan, tapi ternyata perkiraanku salah saat melihat dirinya yang kini sudah berjalan mendekatiku. Ivy menyeret langkahnya yang terlihat kaku, membiarkan ujung gaun putih berbahan satin yang membalut tubuhnya bergesekan dengan ubin gereja yang bercorak klasik. Tangannya terus mendekap lengan Ayahnya, sementara tangan yang lainnya memegang sebuket bunga Daisy yang dirangkai dengan bunga Ivy di sekelilingnya. Senada dengan rangkaian bunga Ivy yang menghiasi tiang penyangga gereja serta bangku yang berjejer rapi lengkap dengan para manusia yang mendudukinya dengan mata tertuju pada sang pengantin wanita. Sama seperti namanya, Ivy. Nama yang kusukai karena memiliki arti cinta yang tak pernah berakhir, sama seperti cintaku padanya.
“Di hadapan imam dan para saksi, saya, Tomas Agustinus menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa Imanuella Ivy yang hadir di sini sejak saat ini menjadi istri saya. Saya berjanji akan tetap setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup…”
“Saudari Imanuella Ivy, bersediakah Saudari menikah dengan Saudara Tomas  Agustinus yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?”
“Ya, saya bersedia…”
***
“Jadi… Apa yang kau lihat?!” tanya Rudi antusias saat Tom melepas topi aneh dengan lampu warna-warni di sisi depannya dan kawat kecil dengan kabel-kabel yang membentuk susunan tak beraturan.
“Tak ada…” jawab Tom, Ia menatap Rudi dengan tatapan tanpa ekspresi lalu melempar topi aneh (yang kata Rudi akan jadi penemuan terbaik di akhir abad ke-21) tepat ke wajah penciptanya.
“Hei! Kau pasti bohong! Mana mungkin alat ini tidak berfungsi? Kemarin saat kupakai berhasil kok! Di masa depan aku jadi ilmuwan hebat, punya perusahaan pencipta barang-barang dengan teknologi paling mutakhir dan… ubbhhhhhh… aabbpphhhh!”
Tom tertawa puas melihat Rudi yang akhirnya berhenti bicara panjang lebar setelah mulutnya Ia bungkam dengan roti. Lagipula mana ada omong kosong seperti melihat masa depan dengan sebuah topi? Dan kenapa masa depan yang Ia lihat adalah sebuah pernikahan?
“Hei… Kau menjatuhkan topimu…” sebuah suara dari arah belakang menghentikan tawa Tom. Mau tak mau membuatnya berbalik.
“Ahh, bukan itu topi Ru…”
“Ini topimu kan? Ini ku kembalikan…”
Ia tercengang melihat gadis yang berdiri di depannya. “Ivy…” panggilnya dengan nada tak yakin.
“Ya? Itu memang nama tengahku. Tapi teman-teman di kampusku dulu lebih sering memanggil nama depanku, Imanuella. Bagaimana kau tahu? Apa kau punya indera keenam atau sejenisnya?” tanyanya dengan nada tertarik yang tak bisa disembunyikan.
“Ahh… Tidak. Ngomong-ngomong namaku Tom. Salam kenal…”
“Ya. Salam kenal…” balas gadis itu lalu tersenyum.
Dan kedua insan manusia itu saling tersenyum, seorang pria muda yang belum percaya pada masa depan yang Ia lihat dan seorang gadis yang belum tahu bahwa Ia akan menjadi bagian dalam masa depan si Pria. Tak peduli akan apa yang akan terjadi di masa depan, namun akan terus berharap. Karena mereka tahu, “masa depan memiliki janjinya sendiri”.