Tampilkan postingan dengan label #YUI17Melodies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #YUI17Melodies. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2012

Jumat, 09 Maret 2012

A Room in Our Hearts


Credit to : www.shutterstock.com

“Kau tak akan pernah tahu kapan cinta datang dan menetap dalam ruang kecil di hatimu,
Sampai akhirnya ruang tersebut terlanjur menjadi semakin besar.”

                “Aku akan menjemputmu di kantor…”
                Kalimat yang dibacanya lewat pesan pendek yang dikirim pria yang akhir-akhir ini mondar-mandir dalam hidupnya membuat Diandra mendengus. Kalau saja pesan singkat tersebut dibacanya beberapa hari yang lalu, saat Tian belum mengakui kebohongannya, mungkin Diandra akan tersenyum sepanjang hari sampai ia berhasil bertemu dengan Tian. Namun sekarang semuanya berbeda. Sekarang Diandra malah membenci pria itu setengah mati dan sempat bersumpah untuk tidak bertemu dengan Tian lagi.
                Namun Diandra selalu lemah dengan hal-hal yang berhubungan dengan Tian. Ia malah mengiyakan saat Tian berkata ia akan datang ke kantornya.
Diandra merogoh dalam isi tas kerjanya dan menemukan headphone. Seperti yang sudah-sudah saat sedang stress, ia pasti akan mendengarkan musik. Perlahan sebuah lagu mengalir di kedua telinganya.
Aku tak bisa membencimu
Aku anak yang cengeng
Kau berpura-pura tidak tahu
Oh, caramu licik, kan?*
Sekelebat bayangan melintas dalam pikirannya. Pria itu, pria yang selama ini mengaku sebagai pengagum rahasianya sejak masa SMA, ternyata tak lebih dari seorang pembohong.
“Pria itu pembohong, Diandra… Lupakan dia…” batinnya terus menyuarakan kalimat yang sama. Namun seperti kaset rusak yang selalu mengulang bagian yang sama, ingatan tentang pria itu terus berputar dalam pikirannya. Tanpa disadarinya pria itu sudah mendominasi sebagian besar ruang di hatinya. Otaknya ingin membuang jauh-jauh ingatan tentang Tian, tapi ia tahu hatinya tak berkata seperti itu.
Ingatan Diandra kini beralih pada kejadian setahun yang lalu. Reuni sekolah yang diadakan setelah lima tahun kelulusan mereka yang berhasil mempertemukannya dengan pria itu lagi. Saat itu Diandra baru saja pulang dari kantor dan Vera dengan teganya berhasil menyeret Diandra untuk ikut dalam reuni itu. Walau sebenarnya Diandra merasa tak perlu ikut.

Satu tahun yang lalu…
                “Eh, lihat di sana!”
                Sepasang mata milik gadis yang mengenakan blazer biru muda itu mengikuti arah yang ditunjuk oleh sahabatnya, lalu akhirnya memiringkan kepalanya sambil memasang tampang bosan, seolah sosok yang dipandanginya tadi tak menarik sama sekali. Di ujung sana berdiri seorang pria dengan penampilan ala pegawai kantoran namun saat ini kemejanya sudah digulung ke atas sehingga memberi kesan yang lebih santai. Pria itu, Tian, sepertinya belum bisa menanggalkan status pria pujaan yang disandangnya semasa sekolah dulu. Terbukti dari gerombolan wanita yang berdiri di sekelilingnya dan secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan mereka pada pria tersebut.
                “Kamu masih ngefans sama dia? Ya ampun, Vera! Sudah berapa tahun sejak kita lulus SMA dan kamu masih tetap suka sama Tian? Ternyata kamu nggak berubah, ya…” gadis berblazer biru muda itu menatap sahabatnya Vera dengan tatapan tak percaya, sementara Vera hanya bisa membalasnya dengan sebuah dengusan. Hari ini mereka memang sedang menghadiri reuni yang diadakan oleh SMA mereka, dan Vera – entah bisa dikatakan beruntung atau tidak – akhirnya bisa bertemu lagi dengan senior yang sempat diincarnya dulu semasa mereka masih sekolah.
                “Aku nggak habis pikir bisa-bisanya ada cewek yang nggak ngefans sama si Tian. Dasar Alien!”
                “Dan Alien itu sahabatmu, kan?”
                Lagi-lagi Vera mendengus saat mendengar balasan dari sahabatnya – yang menurutnya lebih pantas disejajarkan dengan kaum Alien – sambil menggelengkan kepalanya. Sahabatnya Diandra memang seperti itu. Saat semua gadis di SMA mereka dulu belomba-lomba untuk merebut perhatian Tian, Diandra malah tidak ingat siapa Tian itu. Yang ia ingat adalah ia memang pernah bertemu satu kali dengan Tian di ruang guru saat hari pertama ia pindah ke SMA mereka. Tian sedang dimarahi bersama seorang murid laki-laki lain karena berkelahi dan Diandra tak begitu peduli untuk mengingat wajah Tian beserta murid lain yang ada di sebelahnya. Hari-hari selanjutnya sama saja. Diandra lebih memilih untuk menuju perpustakaan sekolah di saat Vera dan gadis-gadis lainnya dengan hebohnya menyoraki Tian saat jam istirahat. Cara yang berhasil untuk tidak mengingat wajah pria pujaan gadis satu sekolahan. Ia baru tahu siapa itu Tian saat hari kelulusan dan Tian diundang untuk maju ke depan untuk menerima penghargaan karena prestasinya di bidang olah raga.
                “Ya, sudah. Aku pergi dulu, ya?” Diandra beranjak dari meja tempat ia dan Vera duduk tadi, hendak melangkah ke arah pintu. Namun belum sempat ia melangkah lebih jauh, Vera sudah menarik tangannya lalu menatapnya dengan pandangan curiga.
                “Jangan bilang kamu masih penasaran sama pengagum rahasia yang selalu memasukkan surat ke dalam tas kamu waktu kita masih SMA! Kamu mau nyari dia sekarang, kan?” Vera memicingkan matanya sambil menatap Diandra lekat-lekat.
                “Siapa bilang? Aku harus pulang, Bodoh. Kasihan Mama di rumah sendirian,” Diandra tersenyum kecil pada sahabatnya itu lalu melangkah lagi ke arah pintu. Pesta mungkin masih panjang, tapi ia tahu ada sosok yang lebih penting yang tengah menunggunya saat ini. Ia tak bisa berlama-lama meninggalkan Ibunya sendirian di rumah. Terakhir kali Diandra meninggalkan Ibunya untuk tugas luar, Ia malah mendapati Ibunya yang meringkuk di tempat tidur sambil memeluk bingkai foto keluarga dan masih menggunakan baju yang sama seperti saat Diandra berpamitan.
Sebenarnya dugaan Vera tak sepenuhnya keliru, Diandra memang masih penasaran dengan pengagum rahasianya itu. Ia pun sempat menoleh ke arah taman yang dulunya sempat ditulis dalam surat yang dikirim oleh pengagum rahasia itu sebagai tempat pertemuan mereka. Tapi sayangnya baik hari saat perjanjian itu dilakukan, hingga reuni sekolah mereka setelah lima tahun terlewati, Diandra bahkan tak pernah bisa melihat bayangan pria tersebut.
Bus yang dinaikinya melaju menembus kelap-kelip lampu kota yang mulai bermunculan seiring datangnya malam. Bulan yang masih bersembunyi di balik awan membuat Diandra bertanya-tanya; sedang bersembunyi dari siapakah bulan itu? Tapi belum sempat pertanyaannya terjawab, bus tersebut sudah terlanjur berhenti pada halte dekat rumahnya. Poster-poster yang ditempel di tiang halte beberapa bulan yang lalu kini sudah berganti dengan poster yang baru. Ditimpa begitu saja pada tempat yang sama hanya karena poster tersebut sudah tidak menarik dan mulai terkelupas. Begitulah, yang lama, yang sudah tak berharga dan terlihat jelek sesegera mungkin akan digantikan oleh sesuatu yang baru. Sungguh menyedihkan jika ada manusia yang memiliki pola pikir seperti itu, tapi sayangnya itulah yang terjadi dalam keluarganya. Ayahnya pergi meninggalkan Ibunya karena tergoda pada wanita lain yang umurnya lebih muda. Apakah Ayahnya akhirnya masuk dalam kumpulan manusia yang berpola pikir seperti di atas? Sepertinya, iya.
                Diandra baru saja menutup pintu rumah ketika ia menangkap sebuah sosok wanita paruh baya yang tertidur di sofa dari sudut matanya. Ia bisa melihat bekas air mata yang belum mengering di pipi Ibunya. Sebuah bingkai foto berada dalam pelukannya, sebuah foto keluarga.
 “Ma…” Ia mengusap pipi Ibunya secara perlahan lalu mengambil posisi duduk pada lantai sambil merebahkan kepalanya di atas sofa. Ia bisa melihat kerutan di wajah Ibunya yang menua pada jarak sedekat itu. Sudah lewat empat tahun sejak peristiwa itu terjadi, namun Ibunya belum bisa merelakan Ayahnya yang berselingkuh dengan wanita lain.
Diandra menatap Ibunya lagi lalu membiarkan matanya yang mengantuk menutup begitu saja. Satu hari yang sibuk berhasil dilewatinya lagi. Entah apa yang akan dibawa oleh hari esok, ia tak mau memikirkannya.
***
Diandra adalah tipe orang yang tak suka membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang tidak penting. Bagi orang lain mungkin dunia ini seperti sebuah taman bermain, tapi baginya? Dunia ini adalah medan perang. Tak ada waktu untuk bersantai-santai.
Tapi akhirnya Diandra yang begitu menghargai waktu harus rela membuang beberapa menit berharga dalam hidupnya dengan mematung karena sebuah surat yang menyembul dari kotak posnya pagi ini.
Dear Diandra,
        Aku tak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian lama. Dulu aku sempat berpikir bahwa tak ada lagi kesempatan bagiku untuk mengejarmu lagi, tapi saat aku melihatmu sosokmu di malam reuni itu, aku tahu aku tak bisa mundur lagi…
                “Apa maksud…” ujar Diandra lalu membolak-balik surat tersebut dengan wajah bingung. Ia tak menyangka pengagum rahasia yang dulu selalu menyisipkan surat ke dalam tasnya kini beraksi kembali. Bedanya saat ini ia langsung menyambangi rumah Diandra dan menyelipkan suratnya ke dalam kotak pos.
                Diandra masih sibuk membolak-balik surat tanpa nama pengirim tersebut dan tak menyadari kehadiran seseorang yang telah berdiri di depannya.
                “Diandra?”
                Diandra terkesiap mendengar namanya disebut. Dan saat ia mengangkat kepalanya, seorang pria telah menatap dirinya dengan tatapan penuh minat. Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut pria itu malah menambah kekagetannya.
                “Akhirnya aku menemukan rumahmu.”
                Pria itu Tian.
***
“Ruang di hati ini… Hanya tersedia untuk satu nama saja.”

“Kopi?” Tian menyodorkan segelas kopi yang dibelinya dari mesin minuman di kantor Diandra. Sudah sepuluh menit ia berada di situ, tapi Diandra sepertinya belum mau membuka mulutnya sama sekali.
                Ia tahu ini sepenuhnya kesalahannya. Dirinya tak bisa berpikir jernih saat Diandra dengan bersemangat bertanya padanya tentang pengagum rahasia yang dulu sering menyelipkan sebuah surat ke dalam tas Diandra dan langsung mengaku sebagai pengagum rahasia itu. Padahal hari itu ia hanya ingin melihat rumah Diandra saja dan berpikir tentang cara mendekati gadis tersebut. Diandra memang berbeda dengan gadis lainnya. Entah kenapa Tian tak pernah mendapat celah untuk mendekati Diandra. Bahkan sampai hari kelulusannya, ia tak pernah berhasil untuk mengajak Diandra berkenalan.
                “Diandra… Maaf…” Tian masih berusaha membujuk Diandra, tapi Diandra tak bergeming. Diandra terus menatap ke arah lain dan tak mau menatap Tian.
“Kamu tau, kan? Aku benci dibohongi…”
Tian mengangkat kepalanya lalu menyadari sorot mata Diandra yang menghunjam padanya.
“Ya, karena itu…”
“Kamu juga tau, kan? Bagaimana pria itu… Papaku… mengkhianati Mama?”
Tian tak bisa menemukan kata-kata untuk membela dirinya. Diandra benar, hatinya sudah terlalu sakit untuk menerima kebohongan lagi. Tapi Tian tak bisa melepas Diandra begitu saja.
                “Diandra…” Tian meraih sepasang tangan milik Diandra ke dalam genggamannya, “lihat ke dalam hatimu. Kamu pasti tau apa yang lebih penting.”
                “Aku nggak tau… sama sekali nggak tau…”
                Keheningan merayap di antara mereka. Tian memilih untuk menatap langit yang mulai gelap dari jendela kantor Diandra sedangkan Diandra mulai menyesap kopi yang dibelikan oleh Tian tadi. aroma Latte memenuhi ruangan saat Diandra membuka tutup dari gelas plastik tersebut.
                “Berjanjilah…” Diandra membuka mulutnya setelah kopi dalam gelasnya habis, “berjanjilah untuk menjadi diri sendiri mulai sekarang. Berhenti menggunakan embel-embel pengagum rahasia itu. Cintai aku sebagai Septian Rajasa, bukan yang lain…”
                Binar kebahagiaan muncul di mata Tian. Ia dan Diandra memang tak pernah bertengkar dalam jangka waktu yang lama, tapi ia tak menyangka kalau Diandra bisa memaafkannya kali ini.
                “Kira-kira apa yang akan terjadi besok, ya?” Diandra memutar posisi duduknya lalu menatap langit yang memerah saat senja tiba.
                “Entahlah… Tapi sepertinya semua akan baik-baik saja bila kita melewatinya bersama.”
                Tian menggenggam tangan Diandra dengan lembut lalu ikut menatap langit di luar sana. Matahari mulai menghilang di kaki langit. Ia tak peduli tentang apa yang akan dibawa oleh hari esok, namun ia tahu ruang di hatinya hanya ada untuk Diandra.
Buktikanlah cinta ini
Dan kita berdua kembali membicarakan tentang masa depan
Menghabiskan setiap hari tanpa peduli.*
                Ya, semua akan baik-baik saja bila mereka bersama.
***
                “Ada surat.”
                Tian mengikuti arah yang ditunjukkan oleh telunjuk Diandra lalu melihat ujung amplop yang menyembul dari kotak pos. Mereka baru saja pulang dari kantor Diandra dan tiba-tiba dikagetkan oleh sebuah surat yang berada dalam kotak pos dengan ciri-ciri yang sama dengan yang sering dikirimkan oleh pengagum rahasia itu.
                “Coba lihat apa lagi yang dia tulis sekarang?” Tian menarik surat tersebut dengan tidak sabaran lalu membaca isi surat tadi bersama Diandra. Dan mata mereka melotot hampir bersamaan saat membaca nama pengirim yang tertera di bagian akhir surat itu.
"Hah?!"
***
“Believe… Love will find a way.”

Seorang anak kecil bersayap tersenyum saat melihat sepasang manusia berlainan jenis terkejut menatap surat terakhir yang diletakkannya di kotak pos gadis tersebut.
Dear Diandra dan Tian,
        Aku sempat ragu saat mendapat tugas untuk menautkan benang merah di antara kalian. Apa kalian tahu? Sudah lama aku melihat benang merah antara kalian yang selalu menegang layaknya terkena sengatan listrik ketika kalian berpapasan. Tapi sayangnya entah kenapa benang tersebut tak kunjung bertaut. Aku tak tahu apa yang salah, sepertinya seluruh prosedur sudah kulaksanakan dengan benar.
        Aku mulai menulis surat untuk Diandra. Aku tahu mungkin ini agak konyol. Mana mungkin Cupid mengirim surat untuk manusia? Tapi begitulah, aku sudah putus asa dengan ketidakpedulian antara kalian berdua, jadi aku memilih untuk menempuh cara ini.
        Jadi, selamat! Akhirnya kalian menjadi pasangan. Aku berharap hubungan kalian akan awet (aku menjamin keawetan hubungan kalian. Aku Cupid, ingat?) sampai seterusnya.
        Selamat berbahagia, Diandra dan Tian. Tetaplah untuk saling menjaga cinta dalam ruang di hati kalian.

Sincerely,    

Cupid         
"Yang benar saja! Surat ini dari Cupid?!"
Anak kecil bersayap itu tersenyum saat mendengar namanya disebut lalu terbang menjauh dari dua manusia tadi. Akhirnya pasangan yang selama ini begitu sulit untuk disatukannya kini bisa saling mencintai dan ia sangat bahagia saat melihat benang merah antara keduanya saling bertaut dengan erat. Sepasang manusia berhasil menemukan takdirnya lagi. Who’s next?

Note : * : Lirik lagu YUI – a room

Sabtu, 25 Februari 2012

Ramalan


                Lala memandang langit yang terbentang di atasnya melalui sela-sela jari miliknya. Langit pada pukul 04.30 benar-benar masih terlihat gelap, padahal sebentar lagi fajar akan segera tiba. Ia selalu menyukai aktivitas tersebut. Mengendap-endap ke atas loteng di saat semuanya sudah terlelap, lalu merebahkan tubuhnya ke atas genting yang keras dan mulai menebak nama rasi bintang yang tertangkap oleh matanya.
Kali ini ia ingin berlama-lama menghitung bintang sampai bosan, namun ia tak akan pernah tidur. Karena ia takut, kalau matanya tertutup nanti, bisa-bisa ia tak akan pernah bangun lagi. Dan semuanya karena ramalan sial itu.
1 bulan yang lalu…
                “Ayo ke stand peramal!” teriak Lala bersemangat pada Sonya. Mereka baru saja memasuki liburan semester, dan hari ini mereka memutuskan untuk menghabiskannya di salah satu taman bermain di kota mereka.
                “Kau percaya pada hal seperti itu?” tanya Sonya dengan tatapan tak percaya. Namun saat ia melihat binar yang muncul pada mata Lala, ia hanya bisa menurut saja saat Lala menarik dirinya menuju antrean di depan sebuah tenda tempat seorang wanita tua dengan penampilan eksentrik menebar kartu tarotnya di atas meja.
                Antrean tersebut tak cukup panjang, Lala dan Sonya mendapat giliran setelah menanti selama kurang lebih 15 menit. Lalu tiba-tiba hal aneh terjadi. Peramal tersebut seperti kerasukan saat Lala duduk di hadapannya. Ia lalu menarik sebuah kartu, menatap Lala dari sudut matanya yang memerah, dan berbisik…
“Kau akan mati… sebulan dari sekarang…” bisiknya lalu membanting sebuah kartu tarot bertuliskan ‘Death’ ke atas meja.
                Lala menggelengkan kepalanya keras-keras saat ingatan tersebut hinggap lagi di pikirannya. Hari ini adalah sebulan setelah peristiwa tersebut, dan kalau ia tak salah ingat, peramal tersebut berkata ia akan mati di saat dua jam sebelum matahari mencapai posisinya yang paling tertinggi. Yang berarti pukul 10 pagi.
“Apakah tak ada kesempatan untuk merubah ramalan tersebut?” Lala bertutur pada udara kosong di depannya, walau ia tahu semuanya sia-sia saja.
                Tiga puluh menit sudah lewat sejak pukul 04.30, angin dingin yang berhembus membuat Lala mulai mengantuk.
‘Kau tak boleh tidur, Lala! Kau tak boleh mati!’ batinnya berseru. Tapi rasa kantuknya tak bisa ia lawan. Matanya terpejam tepat saat bintang-bintang yang dilihatnya mulai menghilang. Apakah bintang tersebut akan kembali esok? Ia tak tahu.
***
                “Lala… Bangun…”
                Sayup-sayup terdengar sebuah suara memanggil namanya. ‘Apakah aku sudah berada di surga?’ ia membatin. Saat ia membuka mata, cahaya yang menyilaukan menyerang kedua matanya. Ia melihat langit, mendengar kicau burung bersahut-sahutan, lalu suara deru mobil.
                Tunggu! Mana mungkin di surga ada mobil?
                “Lala! Bangun! Mau sampai kapan tiduran di atas genting?”
Tiba-tiba Lala tersadar lalu bangun dari tempat ia terbaring tadi. “Itu suara Ibu!” teriaknya kemudian berlari mendapatkan Ibunya yang sedang sibuk menyiram tanaman di halaman rumah. Ia sempat melirik ke arah jam dinding di ruang tamu lalu berteriak semakin keras saat jam itu menunjukkan pukul 10.23.
“Aku masih hidup, Bu! Aku masih hidup!” seru Lala sambil memeluk Ibunya.
                Ramalan tersebut ternyata keliru. Tak ada manusia yang bisa menebak tentang masa depan, karena takdir tak bisa diprediksi. Hari esok tak ada yang tahu… it’s happy line.

Rabu, 22 Februari 2012

Warna Kebohongan


Kenapa kau tidak mengatakan apapun?
Aku bilang, “Jika ini kebohongan, maka hentikanlah.” YUI - Swing of Lie

Awalnya aku tak tahu seperti apa warna dari sebuah kebohongan. Tapi kini kebohongan itu nyata di depanku. Warnanya biru.
"Kita mau makan di mana, nih?" Ya, kebohongan itu tidak hanya memiliki warna, tapi juga bisa berbicara bahkan bermanja. Kalau saja sosok yang berada di sampingnya bukan kamu, aku pasti tak akan merasa semuak ini.
"Terserah kamu saja, Sayang..." katamu sambil mempererat genggaman kalian. Ada senyuman yang jujur dari bibirmu, senyum yang dulu sempat kau beri untukku tapi kini sudah menguap entah ke mana.
Sejak kapan aku terhimpit di tengah-tengah seperti ini? Atau mungkin aku bahkan tak berada di antara kalian, malah sudah didepak keluar dari cerita ini. Hanya bisa menduga-duga, aku benci dengan keterbatasan seperti ini.
Kalian masih larut dalam bumi yang kalian ciptakan. Kalian bahkan tidak menyadari saat aku berjalan ke meja kalian dan siap menampar dirimu. Namun, ternyata kebohongan tak hanya memiliki satu warna. Kali ini bahkan lebih variatif, ada warna kuning lalu hijau, bahkan ada gambar tokoh kartun di atasnya.
"Papa! Mama!" anak kecil itu menghambur ke arah kalian, kamu dan gadis dengan terusan biru itu, lalu kalian tertawa bersama.
Awalnya aku tak tahu seperti apa warna dari sebuah kebohongan. Tapi hari ini kamu menunjukkan berbagai warna untukku.
Kurasa aku tak butuh warna yang lain lagi.

Selasa, 21 Februari 2012

'Memasak'

Minestrone

                Sierra mengecek persediaan bahan makanan yang masih tersisa. Ia berencana untuk memasak Minestrone1 untuk makan malam, tapi persediaan tomat, wortel, buncis, dan jagung di kulkasnya sudah habis.
“Sepertinya aku harus pergi berbelanja…” gumam Sierra sambil mengusap-usap dagunya tanda sedang berpikir. Setelah menimbang tentang membeli bahan makanan yang kurang untuk membuat Minestrone atau membuat makanan lain dengan bahan yang tersedia, akhirnya Sierra pun menenteng keranjang belanjaannya lalu bergegas menuju Quickmart yang berada di seberang rumahnya.
                Kehangatan musim semi menyambut Sierra saat ia melangkah di jalanan sekitar kompleks rumahnya. Dedaunan yang bergerak mengikuti tiupan angin begitu enak dipandang mata. Jalanan pun terlihat lenggang, artinya ia tak perlu banyak-banyak menghirup asap kendaraan bermotor yang berpotensi merusak paru-parunya. Di kejauhan terlihat danau yang berada di taman kota yang sedang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang asyik memancing. ‘Hmm… Mungkin aku akan memancing hari minggu nanti,’ kata Sierra dalam hati.
Akhirnya sebuah gedung bercat kuning dan beratap merah menyambutnya. Buru-buru ia membeli semua bahan makanan yang dibutuhkannya, lalu kembali ke rumah.
“Minestrone… Minestrone… Malam ini makan Minestrone…” Sierra bernyanyi asal di perjalanan menuju rumah. Ia terus bernyanyi sampai akhirnya ia tiba di depan kompor dengan panci di tangannya.
                “Ayo memasak!” serunya bersemangat.
***
‘Your Sim failed to get a skill increase.’
“Ahh! Sial!” Sierra berteriak sambil membanting handphonenya di atas kasur.
“Kenapa kamu?” tiba-tiba Ibunya muncul di balik pintu dengan tampang kaget. Jelas saja ia kaget, mana ada anak gadis yang teriak-teriak tengah malam begini.
Sierra nyengir, diraihnya handphone yang tergeletak di atas kasur lalu menunjuk ke arah layar benda tersebut dengan tampang bersalah.
“Lagi main game The Sims, Ma. Hehe…” katanya sambil terkekeh.
“Kamuuuuuuuuu…! Yang benar saja… Anak gadis teriak-teriak malam begini! Bikin seisi rumah bangun! Ternyata cuma gara-gara game! Sini hp kamu Mama sita!” omel Mamanya lalu merebut handphone yang berada di genggamannya. Tamat sudah riwayatnya.
Dan akhirnya Sierra hanya bisa memasang tampang kesal, seperti Sim2 dalam game di handphonenya yang kesal karena Minestronenya hangus.


Note : Minestrone : Sup kental asal Italia yang dibuat dengan sayuran, sering dengan penambahan pasta atau nasi.
Sim : Istilah dalam game The Sims untuk tokoh yang dimainkan. Dalam cerita ini, Sierra menamai Simnya sesuai dengan namanya.

Sabtu, 18 Februari 2012

Susu Jahe

               Kalau orang bertanya, “seperti apa hubunganmu dengannya?” Aku pasti akan menjawab, “sesering aku meminum susu jahe di pagi hari.”
                Di saat semua anak gadis menghabiskan sebagian besar waktunya bersama sosok tersebut, aku malah lebih banyak mengurung diri di dalam semesta pribadiku (baca : kamar). Hal inilah yang membuat jarak antara kami berdua. Seiring umurku yang kian bertambah, selera kami menjadi benar-benar berbeda. Dulu aku akan menurut saja saat dia memilihkan baju yang manis dengan renda-renda atau hiasan beraneka ragam. Tapi sekarang selera kami bertolak belakang. Ibarat magnet, kami berada di kutub yang sejenis sehingga saling tolak-menolak.
                Satu hal yang bisa membuat ketegangan itu sedikit reda adalah susu jahe yang dibuatnya untukku setiap hari.
“Supaya kamu tidak batuk-batuk lagi,” katanya.
Ya, aku memang jadi sering sakit sejak masuk kuliah. Biasanya hanya flu atau batuk, tapi sering dalam jangka waktu yang cukup lama. Karena itulah ia mulai membuatkan segelas susu jahe untukku setiap pagi. Rasanya manis tapi juga ada rasa pedas saat minuman itu menyentuh lidahku. Walaupun aku selalu menolak untuk meminumnya, tapi aku tak bisa berbohong tentang fakta bahwa aku menyukai sensasi hangat pada tenggorokanku setiap kali cairan tersebut mengalir di dalamnya. Minuman ini benar-benar mewakili dirinya. Omongannya terkadang pedas, seperti jahe. Tapi aku tahu ada rasa hangat dari jahe yang memenuhi tenggorokanku, seperti kebaikan yang selalu diberikannya padaku.
“Kesedihan itu terasa hangat
Jika kita bergandengan.
Kelembutan itu jika aku berada di sampingmu.
Hei, aku mungkin bahagia karena… aku memilikimu.”*
                Aku akan selalu merindukan susu jahe buatanmu, Ibu.

Note :
* : Potongan lirik lagu YUI - To Mother

Jumat, 17 Februari 2012

Re-"Summer Song"


                Mataku menyipit saat menangkap cahaya matahari yang menyilaukan di atas sana. Secara refleks aku mengangkat tangan kananku sekedar menahan cahaya matahari yang menerpa, tapi mataku malah kelilipan pasir yang menempel pada telapak tanganku.
“Akh!” aku menjerit saat pasir tersebut memberikan efek kesakitan pada mataku. Baru beberapa menit kemudian mataku bisa melihat dengan jelas lagi dan menangkap warna biru pada laut di depanku. Laut pada pukul dua belas siang memang terlihat paling berkilau. Siapa bilang bintang hanya ada di malam hari? Ada begitu banyak kilauan yang menyerupai bintang di laut sana.

Selasa, 14 Februari 2012

Kelereng

Nama : Stany Cecilia
Judul : Kelereng
Judul lagu : YUI - Shake My Heart

            Warna biru kehitaman mulai muncul di kaki langit. Hari ini hampir berakhir tapi aku sama sekali tak mendapat kabar darimu. Apa kau sedang berada di daerah yang terpencil sehingga tak dapat menelepon? Aku kehilangan ide untuk menebak kemungkinan yang lain.
“Shake my heart, yeah!
Shake your heart, baby!”
            Ponselku melantunkan sebuah potongan lagu ‘YUI – Shake My Heart’ yang kupilih khusus untuk nomormu. Ada keraguan saat ingin mengangkat teleponmu. Tapi, tubuhku selalu mengikuti hatiku. Aku menjawab teleponmu.
“Hai…” sebuah sapaan terdengar dari seberang sana. Terdengar suara motor yang lewat serta bunyi klakson mobil. ‘Apa kau sedang berada di luar?’ tanyaku dalam hati.
“Hai…” aku menjawab sapaanmu dengan kaku. Entah sejak kapan aku mulai menjadi seperti ini, mungkin sejak semuanya mulai berubah.
“Kau…” suaramu terhenti tiba-tiba, aku mendengar sebuah desahan panjang sebelum akhirnya kau berkata lagi, “… kau sudah memikirkan soal itu?”
Deg! Sebenarnya aku sudah tahu kau akan menanyakan hal tersebut. Tapi sepertinya jantungku belum bisa beradaptasi dengan hal tersebut.
            Suara klakson mobil tetanggaku tiba-tiba terdengar, dan betapa kagetnya diriku saat mendengar suara yang sama dari telepon yang kugenggam.
“Di mana posisimu sekarang?” tanyaku tanpa basa-basi.
Tak ada jawaban, hanya tawa kecil yang terdengar. Dan benar saja, saat aku bergegas membuka jendela kamarku, ada dirimu yang melambaikan tangan di bawah sana.
***
            “Kau sudah gila…” desisku, namun lagi-lagi kau hanya tertawa.
“Apa maksudmu mengataiku gila? Aku memang pulang karena ada hal yang harus kuurus. Bukan untuk…” kau menghentikan kalimatmu lalu menatapku dengan tatapan menggoda, yang langsung kuhadiahi sebuah jitakan.
“Ah! Ada hadiah untukmu,” katamu lalu sibuk mengacak-acak ransel.
Sepertinya kuliah di luar negeri sudah membuat otakmu jadi tidak beres. Mana ada seorang pria yang memberi hadiah seperti ini di hari Valentine? Atau mungkin saja uangmu sudah terkuras habis karena biaya hidup di sana yang cenderung tinggi?
“Kelereng?” tanyaku sambil melotot. “Hadiahnya kelereng?”
“Ya, memangnya kenapa?”
Aku baru saja ingin menjejalkan kelereng itu di dalam mulutmu jika saja kau tak memberikan isyarat bahwa ada alasan di balik hadiah ini.
“Kelereng, bola kecil yang terbuat dari kaca,” katamu memulai. “Di dalamnya terdapat lapisan unik dengan warna yang berbeda untuk setiap biji kelereng. Lihat! Kau bisa dengan mudah melihat lapisan itu, kan? Tapi sayang…”
“Apanya yang sayang?” aku memiringkan kepala, bingung dengan perkataanmu yang setengah-setengah. Tapi kau tak bergeming dan terus menatap kelereng itu dengan murung.
“Kenapa hatimu tak seperti kelereng ini? Kenapa aku tak bisa melihat isi hatimu dengan mudah?”
            Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku tahu sandiwara ini harus segera diakhiri. Tapi aku takut, apa kita akan baik-baik saja setelah ini?
“Tentang pertanyaanmu tempo hari… aku tak bisa menjawab…” desahan panjang terdengar lagi. Apa kau kecewa? Tapi aku tahu kau akan tersenyum setelah ini. Karena kalimat tersebut belum selesai. Lanjutannya adalah, “aku tidak bisa menjawab… tidak.”
            Ada senyum tak percaya yang muncul di wajahmu. Namun saat senyum itu berubah menjadi tawa, seiring dengan genggaman erat yang kau beri pada tanganku, aku tahu semuanya akan baik-baik saja.