Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2016

Akhirnya Dunia itu akan Pergi

Lama tidak menulis di sini, sama lamanya mungkin dengan tidak mengupdate twitter? Tidak banyak yang terjadi, kurang lebih sama saja. Masih mengejar mimpi. Tulisan ini mungkin hanya akan jadi tulisan random lain. Selalu kehilangan sesuatu; atau banyak?

Tentang judul, hari ini awal dari dunia lain itu berulang tahun. KP. Sudah 4 tahun sejak tempat itu didirikan dan sudah 3 tahun lebih sejak dirinya bergabung. Dalam kepalsuan yang lama dijalani, perasaan lama-kelamaan ambil bagian. Apa semua roleplayer akan berakhir seperti itu? Oh sudahlah...

Apa akan ada yang mencari?

Ingin menulis banyak hal tapi selalu berujung lupa atau malas meneruskan? Mungkin aku harus belajar untuk lebih sungguh-sungguh lagi. Dan untuk sungguh-sungguh, chapter 1 sudah di-posting di theexroleplayerdiary. Hadiah lain untuk dunia lain itu dan untuk diriku dan dirinya. 

Kamis, 16 Januari 2014

Banjir Kemarin...

Jadi akhirnya listrik menyala setelah padam dari kemarin pagi. Katanya sih listrik mati karena kantor PLN sendiri terendam. Mungkin kondisinya sudah lebih baik.
Mungkin peristiwa banjir kemarin di Manado menyadarkan kita bahwa kuasa Tuhan dan alam tidak bisa dilawan dan kita tidak pernah bisa meramal apa yang akan terjadi. Ceritanya kemarin setelah menikmati libur hari raya, saya pergi ke klinik seperti biasa. Karena saya masih menyandang status ko-ass gigi tingkat pertama jadinya tidak boleh malas dan membolos, apalagi tinggal dengan orangtua. Otomatis setiap hari kerja walaupun tidak ada janji dengan pasien tetap diharuskan datang, jadilah saya datang hari itu. Padahal cuaca pagi hari cerah, walaupun jembatan yang saya lewati di perjalanan menuju klinik memang naik volume airnya tapi masih bisa dianggap wajar.
Kemudian hujan mulai turun, listrik padam dan diganti dengan genset. Tiba-tiba dapat kabar kalau sudah ada genangan air di lorong depan klinik tapi masih pendek. Teman-teman juga mulai menunjukkan foto yang beredar di bbm tentang beberapa daerah yang sudah tergenang banjir dan ombak di Boulevard yang tinggi. Katanya pintu air di Tondano juga sudah terbuka. Baru beberapa jam kemudian saat saya dan teman-teman berada di lantai 4, kami melihat kalau sudah ada genangan air di jalan raya di sekitar dua bangunan di sebelah klinik. Genangan air datang dari tiga arah : kompleks Plasa, Kampung Cina dan persekolahan Don Bosco Manado. Sementara itu jalanan depan klinik masih kering, orang-orang mulai pulang tapi saya masih menunggu jemputan karena sudah tidak ada angkot yang lewat di depan jalan karena terhalang banjir. Komunikasi juga terhalang karena signal yang jelek. Hujan masih turun.
Karena banjir di daerah Kampung Arab, akhirnya Papa berjalan dari pertigaan Tuminting-Wonasa untuk menjemput saya. Padahal air sudah sampai setengah badan, syukurlah papa bisa selamat sampai ke lokasi saya dan saya jadi tenang karena sudah bersama Papa. Terima kasih, Papa. J
Hujan belum berhenti dan air masih terus naik, akhirnya Papa dan saya pindah dari klinik menuju Griya Sintesa di sebelah. Lama-lama air mulai masuk dan kami pindah ke lantai dua. Dari sini saya bisa melihat toko-toko di depan yang sudah tertutup air, mobil-mobil di kampung Cina yang sudah mulai terbawa air, orang-orang yang mengungsi, dan parkiran serta klinik gigi yang juga sudah tergenang air.


Kami tidak lama-lama di Griya karena setelah itu ada instruksi bagi orang-orang yang menginap di situ untuk pindah ke hotel Peninsula. Saya, papa, dan kedua teman saya pun ikut pindah. Lewat jendela lantai dua dan berjalan di atas papan yang diletakkan di atas seng, kami menyeberang ke tangga yang terhubung ke hotel Peninsula. Hotel ini tembus ke jalan raya yang kering. Syukurlah akhirnya kami tidak terjebak banjir lagi.
Tapi ternyata saya dan Papa masih harus bertemu banjir lagi di kawasan jalan depan toko buku Utama yang memanjang sampai kampung Arab. Karena jalan menuju jembatan Mahakam (yang melewati kompleks Plasa yang sudah tergenang air) lebih tinggi dan kuat arus airnya, saya dan Papa hanya berharap kalau jalan di sebelah toko buku Utama itu cepat surut. Jadilah kami menunggu di sekitar emperan toko bangunan sambil melihat orang-orang yang mulai berdatangan dari lokasi banjir. Saat itu katanya masih ada orang-orang yang belum bisa dievakuasi dan kelaparan di dalam gedung. Ada juga teriakan minta tolong. Katanya ada beberapa mobil yang terbalik. Kondisi jalan yang tergenang banjir sangat gelap, hanya ada lampu senter satu-satu dari orang-orang yang menerobos banjir. Hujan yang sempat terhenti di sore hari mulai turun lagi.
Sekitar jam  10 malam ada kabar kalau pintu air Tanggari akan dibuka 2 jam lagi dan pasti air akan naik lagi. Akhirnya karena takut ketinggian air akan naik lagi, saya dan Papa berjalan di jalan depan toko buka Utama yang airnya sudah turun sampai di lutut. Banjirnya sampai di jalanan dekat Kampung Arab dan syukurlah jembatan Singkil yang katanya putus ternyata dalam kondisi baik-baik saja dan tidak terendam air dan kami bisa selamat sampai mobil.
Cerita ini saya tulis hanya sebagai kenangan saja untuk pertama kalinya saya terjebak banjir. Dari pengalaman ini saya juga sadar kalau saya belum bisa sendiri. Duduk di emperan toko dan kedinginan juga terasa aman karena ada Papa. J

Semoga banjir Manado cepat surut, semoga korban banjir bisa terselamatkan, semoga orang-orang yang meninggal karena banjir bisa diterima jiwanya di Surga, dan semoga Manado kembali pulih. Pray for North Sulawesi.

Selasa, 27 November 2012

갇혀

"Merindukan dunia itu di masa yang dulu? Aku lebih merindukan hidupku sebelum mengenal dunia itu." - Anonim

Jumat, 02 November 2012

JLEB!

"Bila Tuhan berada di pihak kita, siapakah lawan kita?" - Kakak baik hati *LOL

Jedeng!
Si galau lagi galau (lagi).
Berhubung blognya sepi kayak kuburan -karena satu-satunya setan yang ada di sini cuma Se-tany- jadi galau di mari aja.

Selasa, 04 September 2012

A Letter from a... Stalker

“@You : @He Dia memang hiatus dari sini, tapi dia ga pernah hiatus nge-stalk.”

Dia mengerjapkan matanya perlahan, membiasakan diri dengan sinar matahari yang masuk dari ventilasi kamarnya dan tanpa kasihan menyerang indera penglihatannya. Pagi kelima di bulan September, masih dengan rasa gerah yang diberi musim panas, dia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di rumah saja hari ini. Dengan posisi yang masih meringkuk dengan selimut yang sudah tak beraturan posisinya, dia mulai meraba-raba di sekitar tempat tidurnya, lalu tersenyum.

Minggu, 02 September 2012

The "Role" (I Left Now)

Sign in.

Dia memilih untuk mengarahkan kursor pada tulisan tersebut, pada bagian atas dari halaman social network yang baru saja dibukanya. Dengan ragu-ragu mengetikkan sebuah username dan password, lalu menekan ‘Enter’. Dia tersenyum tipis saat melihat tampilan layar yang berubah, memperlihatkan sederetan nama yang akan membuat orang lain bingung bila baru pertama kali tersesat di tempat ini, lalu mulai menilai. Topik apa yang sedang dibahas oleh linimasanya sekarang ini?

Selasa, 20 September 2011

................................

Kalau aku bilang, "aku lelah dengan semua ini..." akankah kamu memberikan reaksi yang kuinginkan? Atau malah tambah membuat runyam saja?
Masa lalu memang indah, sangat. Aku bahkan sempat memuja hari-hari yang kita lalui bersama. Tapi sepertinya aku berlebihan dalam hal ini. Ya, memuja persahabatan ini.
Ragu. Apakah kita masih bersahabat? Dalam umur ke dua puluh aku mulai berpikir tentang hal ini. Terus meyakinkan diri sendiri kalau semuanya baik-baik saja. Tapi? Rasanya seperti berjuang sendirian dan perlahan dilupakan.
Dan hebatnya, tak ada rasa bersalah yang kamu tunjukkan.
Marah-marah sendiri, menyimpan semua sakit hati sendiri. Maaf kalau terkesan kekanakan. Aku hanya ingin memicu respon darimu. Tapi sepertinya kamu malah tidak sadar, ya?
Entahlah. Tapi lama-kelamaan aku merasa bahwa ada yang salah. Tapi begitulah... Hanya bisa dideskripsikan dengan kata "Entahlah".
Persahabatan kita, "Entahlah".
Kapan kemarahan ini berakhir, "Entahlah".
Apa semua akan sama seperti dulu, "Entahlah".
Semuanya... Abu-abu.

Minggu, 23 Januari 2011

SAHABAT?

Baru-baru ini salah seorang sahabat saya bertanya, "Kalo misalkan gue ngelakuin hal yang buruk, kira-kira kita masih sahabatan ga?"

Yupp... Pertanyaan kayak gini memang sering muncul dalam persahabatan. Pertanyaan yang mungkin sering membuat kita bingung dan bertanya-tanya, "memangnya perbuatan seburuk apa yang ia buat?"

Apakah anda juga sempat bingung saat sahabat anda bertanya seperti ini? Ataukah malahan anda gak punya seseorang untuk bertanya seperti ini? Maka... "kasiaaaan de lo ga punya bestpren.." :p

Sebenarnya hal ini mungkin bisa dijawab dengan mudah oleh orang-orang yang sudah memiliki sahabat terbaik dalam hidupnya (sahabat terbaik dalam artian tak harus sempurna, tapi mampu menerima bahkan mengisi kekurangan kita dan membuat kelebihan kita semakin berkembang.) Apakah saya masih mencari? Itu tergantung respon dari sahabat-sahabat saya tentang pertanyaan ini (joking, guys... u're the best.. just the way u are.. ;).)

Kembali ke topik, jadi apa yang harus kita jawab saat pertanyaan kayak gini muncul tiba-tiba? Mungkin setiap orang punya cara masing-masing, tapi intinya hanya satu.

Dan jawaban saya saat itu adalah "kalo lo sampe ngebunuh orang, mungkin gue bakal mikir-mikir lagi..." Haha.. jawaban asal-asalan lagi, murni becanda, yang disambut dengan tawa oleh sahabat saya. Tapi tentu saja saya percaya, sahabat yang saya pilih (seperti ia juga memilih saya sebagai sahabatnya) gak mungkin sekriminal itu (gahh...! Napa gua jadi formal gini yaa kalo ngblog?)

Yupp... Percaya.
Sudahkah anda percaya pada sahabat anda?
Sudahkah sahabat anda mempercayai anda?
Jangan sampai keragu-raguan memecah persahabatan anda.

Jadi jawabannya jelas, "Ya!"

Inti dari semua gabuan (bahasa Manado, baca : cerita gaje) di atas adalah untuk belajar mempercayai dan menerima sahabat kita apa adanya. Sahabat adalah refleksi dari diri kita sendiri. Jadi apabila kita tak bisa menerima refleksi diri kita secara apa adanya, bagaimana kita dapat menerima diri kita sendiri?

Keep ur faith..
No doubt..
Hold them tight..
Cause' there's can't be another 'her/him' in ur life..
Who want to stay on ur side, just because a simple-one-meaningfull-great-sweet word called "FRIENDSHIP".

NB : Jangan lupa jawab "Ya!" oke? :)

Jumat, 21 Januari 2011

Ketika kita.. TUA..

"Saat aku lanjut usia..
Saat ragaku terasa tua..
Tetaplah kau slalu disini..
Menemani aku bernyanyi.." *SO7 - Saat Aku Lanjut Usia*

Seminggu yang lalu tepatnya hari Sabtu, saya beserta teman-teman seorganisasi berkunjung ke sebuah panti werda. Yang namanya panti werda yahh.. Pasti banyakan yang tua dong daripada yang muda. Kami kesana dalam rangka merayakan natal organisasi kami (telat memang, tapi yang penting semangat Natal masih berkobar di hati kami semua. *cailehh*.) Selain memberikan pelayanan dan ngasih kado Natal buat opa dan oma disana, kami juga mengadakan misa bersama di panti werda tersebut. Jadilah, opa dan oma tersebut juga ikutan misa. Dari sekian penghuni panti, ada oma-oma yang rewel dan gak mau ikut misa (jadi kayak anak kecil ya?) tapi ada juga yang semangat 45 buat ikutan misa. Dan dari sekian banyak oma dan opa di panti werda tersebut, ada satu oma yang menarik perhatian saya.

Rambutnya hampir semuanya sudah beruban (namanya juga udah tua), giginya kayaknya udah tanggal semua (keliatan dari bentuk rahangnya), dan kakinya gemetar dan harus bertopang pada kursi didepannya saat ia berdiri. Tapi, yang saya kagumi dari oma tersebut, ia tetap saja terus berdiri walaupun oma dan opa yang lain sudah duduk karena gak kuat, tentu saja dengan kakinya yang gemetar. Isn't that great? Orang yang masih muda saja belum tentu kayak gitu. Pas ngeliat oma tersebut, sahabat saya yang kebetulan satu organisasi dengan saya bertanya pada saya, "kalo nanti kita tua, kira-kira kita bakalan dimasukkin ke panti jompo juga ga ya?" pertanyaan yang sebenarnya juga saya pertanyakan tapi tentu saja itu belum bisa dijawab sekarang kan? "Mungkin ngga.. Kalo kita nemuin orang yang bener-bener sayang sama kita dan ga mau masukkin kita ke panti jompo.. Makanya, jangan galak-galak sama anak ma cucu.." jawab saya asal, lalu kami tertawa bersama.

Jadi, apakah saat ini anda sudah memiliki seseorang (entah keluarga, sahabat, atau seseorang yang anda sayangi) yang berarti untuk merawat anda, menopang anda saat anda tak mampu berdiri, menjaga anda, dan bahkan mungkin menemani anda bernyanyi di hari tua?