Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 September 2012

A Letter from a... Stalker

“@You : @He Dia memang hiatus dari sini, tapi dia ga pernah hiatus nge-stalk.”

Dia mengerjapkan matanya perlahan, membiasakan diri dengan sinar matahari yang masuk dari ventilasi kamarnya dan tanpa kasihan menyerang indera penglihatannya. Pagi kelima di bulan September, masih dengan rasa gerah yang diberi musim panas, dia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di rumah saja hari ini. Dengan posisi yang masih meringkuk dengan selimut yang sudah tak beraturan posisinya, dia mulai meraba-raba di sekitar tempat tidurnya, lalu tersenyum.

Jumat, 09 Maret 2012

A Room in Our Hearts


Credit to : www.shutterstock.com

“Kau tak akan pernah tahu kapan cinta datang dan menetap dalam ruang kecil di hatimu,
Sampai akhirnya ruang tersebut terlanjur menjadi semakin besar.”

                “Aku akan menjemputmu di kantor…”
                Kalimat yang dibacanya lewat pesan pendek yang dikirim pria yang akhir-akhir ini mondar-mandir dalam hidupnya membuat Diandra mendengus. Kalau saja pesan singkat tersebut dibacanya beberapa hari yang lalu, saat Tian belum mengakui kebohongannya, mungkin Diandra akan tersenyum sepanjang hari sampai ia berhasil bertemu dengan Tian. Namun sekarang semuanya berbeda. Sekarang Diandra malah membenci pria itu setengah mati dan sempat bersumpah untuk tidak bertemu dengan Tian lagi.
                Namun Diandra selalu lemah dengan hal-hal yang berhubungan dengan Tian. Ia malah mengiyakan saat Tian berkata ia akan datang ke kantornya.
Diandra merogoh dalam isi tas kerjanya dan menemukan headphone. Seperti yang sudah-sudah saat sedang stress, ia pasti akan mendengarkan musik. Perlahan sebuah lagu mengalir di kedua telinganya.
Aku tak bisa membencimu
Aku anak yang cengeng
Kau berpura-pura tidak tahu
Oh, caramu licik, kan?*
Sekelebat bayangan melintas dalam pikirannya. Pria itu, pria yang selama ini mengaku sebagai pengagum rahasianya sejak masa SMA, ternyata tak lebih dari seorang pembohong.
“Pria itu pembohong, Diandra… Lupakan dia…” batinnya terus menyuarakan kalimat yang sama. Namun seperti kaset rusak yang selalu mengulang bagian yang sama, ingatan tentang pria itu terus berputar dalam pikirannya. Tanpa disadarinya pria itu sudah mendominasi sebagian besar ruang di hatinya. Otaknya ingin membuang jauh-jauh ingatan tentang Tian, tapi ia tahu hatinya tak berkata seperti itu.
Ingatan Diandra kini beralih pada kejadian setahun yang lalu. Reuni sekolah yang diadakan setelah lima tahun kelulusan mereka yang berhasil mempertemukannya dengan pria itu lagi. Saat itu Diandra baru saja pulang dari kantor dan Vera dengan teganya berhasil menyeret Diandra untuk ikut dalam reuni itu. Walau sebenarnya Diandra merasa tak perlu ikut.

Satu tahun yang lalu…
                “Eh, lihat di sana!”
                Sepasang mata milik gadis yang mengenakan blazer biru muda itu mengikuti arah yang ditunjuk oleh sahabatnya, lalu akhirnya memiringkan kepalanya sambil memasang tampang bosan, seolah sosok yang dipandanginya tadi tak menarik sama sekali. Di ujung sana berdiri seorang pria dengan penampilan ala pegawai kantoran namun saat ini kemejanya sudah digulung ke atas sehingga memberi kesan yang lebih santai. Pria itu, Tian, sepertinya belum bisa menanggalkan status pria pujaan yang disandangnya semasa sekolah dulu. Terbukti dari gerombolan wanita yang berdiri di sekelilingnya dan secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan mereka pada pria tersebut.
                “Kamu masih ngefans sama dia? Ya ampun, Vera! Sudah berapa tahun sejak kita lulus SMA dan kamu masih tetap suka sama Tian? Ternyata kamu nggak berubah, ya…” gadis berblazer biru muda itu menatap sahabatnya Vera dengan tatapan tak percaya, sementara Vera hanya bisa membalasnya dengan sebuah dengusan. Hari ini mereka memang sedang menghadiri reuni yang diadakan oleh SMA mereka, dan Vera – entah bisa dikatakan beruntung atau tidak – akhirnya bisa bertemu lagi dengan senior yang sempat diincarnya dulu semasa mereka masih sekolah.
                “Aku nggak habis pikir bisa-bisanya ada cewek yang nggak ngefans sama si Tian. Dasar Alien!”
                “Dan Alien itu sahabatmu, kan?”
                Lagi-lagi Vera mendengus saat mendengar balasan dari sahabatnya – yang menurutnya lebih pantas disejajarkan dengan kaum Alien – sambil menggelengkan kepalanya. Sahabatnya Diandra memang seperti itu. Saat semua gadis di SMA mereka dulu belomba-lomba untuk merebut perhatian Tian, Diandra malah tidak ingat siapa Tian itu. Yang ia ingat adalah ia memang pernah bertemu satu kali dengan Tian di ruang guru saat hari pertama ia pindah ke SMA mereka. Tian sedang dimarahi bersama seorang murid laki-laki lain karena berkelahi dan Diandra tak begitu peduli untuk mengingat wajah Tian beserta murid lain yang ada di sebelahnya. Hari-hari selanjutnya sama saja. Diandra lebih memilih untuk menuju perpustakaan sekolah di saat Vera dan gadis-gadis lainnya dengan hebohnya menyoraki Tian saat jam istirahat. Cara yang berhasil untuk tidak mengingat wajah pria pujaan gadis satu sekolahan. Ia baru tahu siapa itu Tian saat hari kelulusan dan Tian diundang untuk maju ke depan untuk menerima penghargaan karena prestasinya di bidang olah raga.
                “Ya, sudah. Aku pergi dulu, ya?” Diandra beranjak dari meja tempat ia dan Vera duduk tadi, hendak melangkah ke arah pintu. Namun belum sempat ia melangkah lebih jauh, Vera sudah menarik tangannya lalu menatapnya dengan pandangan curiga.
                “Jangan bilang kamu masih penasaran sama pengagum rahasia yang selalu memasukkan surat ke dalam tas kamu waktu kita masih SMA! Kamu mau nyari dia sekarang, kan?” Vera memicingkan matanya sambil menatap Diandra lekat-lekat.
                “Siapa bilang? Aku harus pulang, Bodoh. Kasihan Mama di rumah sendirian,” Diandra tersenyum kecil pada sahabatnya itu lalu melangkah lagi ke arah pintu. Pesta mungkin masih panjang, tapi ia tahu ada sosok yang lebih penting yang tengah menunggunya saat ini. Ia tak bisa berlama-lama meninggalkan Ibunya sendirian di rumah. Terakhir kali Diandra meninggalkan Ibunya untuk tugas luar, Ia malah mendapati Ibunya yang meringkuk di tempat tidur sambil memeluk bingkai foto keluarga dan masih menggunakan baju yang sama seperti saat Diandra berpamitan.
Sebenarnya dugaan Vera tak sepenuhnya keliru, Diandra memang masih penasaran dengan pengagum rahasianya itu. Ia pun sempat menoleh ke arah taman yang dulunya sempat ditulis dalam surat yang dikirim oleh pengagum rahasia itu sebagai tempat pertemuan mereka. Tapi sayangnya baik hari saat perjanjian itu dilakukan, hingga reuni sekolah mereka setelah lima tahun terlewati, Diandra bahkan tak pernah bisa melihat bayangan pria tersebut.
Bus yang dinaikinya melaju menembus kelap-kelip lampu kota yang mulai bermunculan seiring datangnya malam. Bulan yang masih bersembunyi di balik awan membuat Diandra bertanya-tanya; sedang bersembunyi dari siapakah bulan itu? Tapi belum sempat pertanyaannya terjawab, bus tersebut sudah terlanjur berhenti pada halte dekat rumahnya. Poster-poster yang ditempel di tiang halte beberapa bulan yang lalu kini sudah berganti dengan poster yang baru. Ditimpa begitu saja pada tempat yang sama hanya karena poster tersebut sudah tidak menarik dan mulai terkelupas. Begitulah, yang lama, yang sudah tak berharga dan terlihat jelek sesegera mungkin akan digantikan oleh sesuatu yang baru. Sungguh menyedihkan jika ada manusia yang memiliki pola pikir seperti itu, tapi sayangnya itulah yang terjadi dalam keluarganya. Ayahnya pergi meninggalkan Ibunya karena tergoda pada wanita lain yang umurnya lebih muda. Apakah Ayahnya akhirnya masuk dalam kumpulan manusia yang berpola pikir seperti di atas? Sepertinya, iya.
                Diandra baru saja menutup pintu rumah ketika ia menangkap sebuah sosok wanita paruh baya yang tertidur di sofa dari sudut matanya. Ia bisa melihat bekas air mata yang belum mengering di pipi Ibunya. Sebuah bingkai foto berada dalam pelukannya, sebuah foto keluarga.
 “Ma…” Ia mengusap pipi Ibunya secara perlahan lalu mengambil posisi duduk pada lantai sambil merebahkan kepalanya di atas sofa. Ia bisa melihat kerutan di wajah Ibunya yang menua pada jarak sedekat itu. Sudah lewat empat tahun sejak peristiwa itu terjadi, namun Ibunya belum bisa merelakan Ayahnya yang berselingkuh dengan wanita lain.
Diandra menatap Ibunya lagi lalu membiarkan matanya yang mengantuk menutup begitu saja. Satu hari yang sibuk berhasil dilewatinya lagi. Entah apa yang akan dibawa oleh hari esok, ia tak mau memikirkannya.
***
Diandra adalah tipe orang yang tak suka membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang tidak penting. Bagi orang lain mungkin dunia ini seperti sebuah taman bermain, tapi baginya? Dunia ini adalah medan perang. Tak ada waktu untuk bersantai-santai.
Tapi akhirnya Diandra yang begitu menghargai waktu harus rela membuang beberapa menit berharga dalam hidupnya dengan mematung karena sebuah surat yang menyembul dari kotak posnya pagi ini.
Dear Diandra,
        Aku tak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian lama. Dulu aku sempat berpikir bahwa tak ada lagi kesempatan bagiku untuk mengejarmu lagi, tapi saat aku melihatmu sosokmu di malam reuni itu, aku tahu aku tak bisa mundur lagi…
                “Apa maksud…” ujar Diandra lalu membolak-balik surat tersebut dengan wajah bingung. Ia tak menyangka pengagum rahasia yang dulu selalu menyisipkan surat ke dalam tasnya kini beraksi kembali. Bedanya saat ini ia langsung menyambangi rumah Diandra dan menyelipkan suratnya ke dalam kotak pos.
                Diandra masih sibuk membolak-balik surat tanpa nama pengirim tersebut dan tak menyadari kehadiran seseorang yang telah berdiri di depannya.
                “Diandra?”
                Diandra terkesiap mendengar namanya disebut. Dan saat ia mengangkat kepalanya, seorang pria telah menatap dirinya dengan tatapan penuh minat. Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut pria itu malah menambah kekagetannya.
                “Akhirnya aku menemukan rumahmu.”
                Pria itu Tian.
***
“Ruang di hati ini… Hanya tersedia untuk satu nama saja.”

“Kopi?” Tian menyodorkan segelas kopi yang dibelinya dari mesin minuman di kantor Diandra. Sudah sepuluh menit ia berada di situ, tapi Diandra sepertinya belum mau membuka mulutnya sama sekali.
                Ia tahu ini sepenuhnya kesalahannya. Dirinya tak bisa berpikir jernih saat Diandra dengan bersemangat bertanya padanya tentang pengagum rahasia yang dulu sering menyelipkan sebuah surat ke dalam tas Diandra dan langsung mengaku sebagai pengagum rahasia itu. Padahal hari itu ia hanya ingin melihat rumah Diandra saja dan berpikir tentang cara mendekati gadis tersebut. Diandra memang berbeda dengan gadis lainnya. Entah kenapa Tian tak pernah mendapat celah untuk mendekati Diandra. Bahkan sampai hari kelulusannya, ia tak pernah berhasil untuk mengajak Diandra berkenalan.
                “Diandra… Maaf…” Tian masih berusaha membujuk Diandra, tapi Diandra tak bergeming. Diandra terus menatap ke arah lain dan tak mau menatap Tian.
“Kamu tau, kan? Aku benci dibohongi…”
Tian mengangkat kepalanya lalu menyadari sorot mata Diandra yang menghunjam padanya.
“Ya, karena itu…”
“Kamu juga tau, kan? Bagaimana pria itu… Papaku… mengkhianati Mama?”
Tian tak bisa menemukan kata-kata untuk membela dirinya. Diandra benar, hatinya sudah terlalu sakit untuk menerima kebohongan lagi. Tapi Tian tak bisa melepas Diandra begitu saja.
                “Diandra…” Tian meraih sepasang tangan milik Diandra ke dalam genggamannya, “lihat ke dalam hatimu. Kamu pasti tau apa yang lebih penting.”
                “Aku nggak tau… sama sekali nggak tau…”
                Keheningan merayap di antara mereka. Tian memilih untuk menatap langit yang mulai gelap dari jendela kantor Diandra sedangkan Diandra mulai menyesap kopi yang dibelikan oleh Tian tadi. aroma Latte memenuhi ruangan saat Diandra membuka tutup dari gelas plastik tersebut.
                “Berjanjilah…” Diandra membuka mulutnya setelah kopi dalam gelasnya habis, “berjanjilah untuk menjadi diri sendiri mulai sekarang. Berhenti menggunakan embel-embel pengagum rahasia itu. Cintai aku sebagai Septian Rajasa, bukan yang lain…”
                Binar kebahagiaan muncul di mata Tian. Ia dan Diandra memang tak pernah bertengkar dalam jangka waktu yang lama, tapi ia tak menyangka kalau Diandra bisa memaafkannya kali ini.
                “Kira-kira apa yang akan terjadi besok, ya?” Diandra memutar posisi duduknya lalu menatap langit yang memerah saat senja tiba.
                “Entahlah… Tapi sepertinya semua akan baik-baik saja bila kita melewatinya bersama.”
                Tian menggenggam tangan Diandra dengan lembut lalu ikut menatap langit di luar sana. Matahari mulai menghilang di kaki langit. Ia tak peduli tentang apa yang akan dibawa oleh hari esok, namun ia tahu ruang di hatinya hanya ada untuk Diandra.
Buktikanlah cinta ini
Dan kita berdua kembali membicarakan tentang masa depan
Menghabiskan setiap hari tanpa peduli.*
                Ya, semua akan baik-baik saja bila mereka bersama.
***
                “Ada surat.”
                Tian mengikuti arah yang ditunjukkan oleh telunjuk Diandra lalu melihat ujung amplop yang menyembul dari kotak pos. Mereka baru saja pulang dari kantor Diandra dan tiba-tiba dikagetkan oleh sebuah surat yang berada dalam kotak pos dengan ciri-ciri yang sama dengan yang sering dikirimkan oleh pengagum rahasia itu.
                “Coba lihat apa lagi yang dia tulis sekarang?” Tian menarik surat tersebut dengan tidak sabaran lalu membaca isi surat tadi bersama Diandra. Dan mata mereka melotot hampir bersamaan saat membaca nama pengirim yang tertera di bagian akhir surat itu.
"Hah?!"
***
“Believe… Love will find a way.”

Seorang anak kecil bersayap tersenyum saat melihat sepasang manusia berlainan jenis terkejut menatap surat terakhir yang diletakkannya di kotak pos gadis tersebut.
Dear Diandra dan Tian,
        Aku sempat ragu saat mendapat tugas untuk menautkan benang merah di antara kalian. Apa kalian tahu? Sudah lama aku melihat benang merah antara kalian yang selalu menegang layaknya terkena sengatan listrik ketika kalian berpapasan. Tapi sayangnya entah kenapa benang tersebut tak kunjung bertaut. Aku tak tahu apa yang salah, sepertinya seluruh prosedur sudah kulaksanakan dengan benar.
        Aku mulai menulis surat untuk Diandra. Aku tahu mungkin ini agak konyol. Mana mungkin Cupid mengirim surat untuk manusia? Tapi begitulah, aku sudah putus asa dengan ketidakpedulian antara kalian berdua, jadi aku memilih untuk menempuh cara ini.
        Jadi, selamat! Akhirnya kalian menjadi pasangan. Aku berharap hubungan kalian akan awet (aku menjamin keawetan hubungan kalian. Aku Cupid, ingat?) sampai seterusnya.
        Selamat berbahagia, Diandra dan Tian. Tetaplah untuk saling menjaga cinta dalam ruang di hati kalian.

Sincerely,    

Cupid         
"Yang benar saja! Surat ini dari Cupid?!"
Anak kecil bersayap itu tersenyum saat mendengar namanya disebut lalu terbang menjauh dari dua manusia tadi. Akhirnya pasangan yang selama ini begitu sulit untuk disatukannya kini bisa saling mencintai dan ia sangat bahagia saat melihat benang merah antara keduanya saling bertaut dengan erat. Sepasang manusia berhasil menemukan takdirnya lagi. Who’s next?

Note : * : Lirik lagu YUI – a room

Rabu, 08 Februari 2012

Cinta Bikin Galau


Semilir angin sore membuat sepasang mata terkantuk-kantuk. Joko, tengah duduk di serambi kost-kostannya sambil bersiul. Sore-sore begini biasanya jadwal si Marni bergosip dengan Ibu kostnya, dan Joko tak mau ketinggalan satu moment pun untuk menggoda si pembantu sebelah rumah itu.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Tiba-tiba terdengar bunyi pagar yang ditutup dari rumah sebelah. 'Itu pasti Marni!' Joko bersorak dalam hati.

Sabtu, 04 Februari 2012

Star Sapphire... (Listen to My Dream)

Judul : Star Sapphire (Listen to My Dream)
Key word : Salju, pasar malam, polkadot, rasi, jelantah.


Kutatap refleksi diriku yang terlihat pada cermin. Cantik, ya semua pengantin memang akan terlihat cantik pada hari pernikahannya. Tapi entah kenapa semua ini terasa tidak nyata. Sejak benda itu hadir dalam hidupku, benda yang kini berada dalam genggamanku dan tak bisa menyembunyikan kilaunya. Dengan hati-hati aku membuka kedua tanganku dan benda itu semakin berpendar dengan indah. Perlahan kedua mataku terpejam kemudian melakukan gerakan seperti berbisik pada benda tersebut.
“Dengar mimpiku…” bisikku, dan pola bintang pada benda itu semakin memancar lalu tiba-tiba seperti meloncat keluar dari tempatnya. Memenuhi diriku dengan cahaya yang hanya bisa terlihat olehku.

Jumat, 03 Februari 2012

PERDITONIA

        ‘Penyebaran narkoba pada tahun 2011 menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi dibanding tahun 2010. Aparat menemukan beberapa bungkus Kokain pada …’ seorang pria berkemeja biru terlihat serius membawakan berita pagi dalam kotak kaca 29 inchi itu. Frame kacamata dengan sudut melengkung terlihat sesuai dengan bentuk wajah persegi miliknya, lengkap dengan bentuk rahang yang kokoh sebagai pelengkap bagi wajahnya. Membuat gadis berkemeja kotak-kotak yang sedang duduk di depan kotak kaca itu terpana.
“Jadi kita bergerak sekarang?” suara yang selalu terdengar sinis itu menyadarkan gadis tersebut dari aktivitasnya. Ia beringsut membetulkan posisi duduknya lalu meraih remote dan mengarahkannya pada televisi. Keheningan yang dibencinya datang lagi.
“Tentu…” balasnya pendek. Ia tak ingin bermanis-manis pada pemilik suara sinis ini, Adrian.
“Baiklah. Siapkan perlengkapan kita.”

Sabtu, 28 Januari 2012

Her Name is YUI


Suka, kata pertama yang muncul di otak saya waktu pertama kali melihat video klip ‘Goodbye Days’ yang diputar di salah satu stasiun tv lokal daerah saya, di pertengahan tahun 2006. Berangkat dari kegilaan saya sama hal-hal berbau Jepang, (jangan salahkan saya, salahkan Doraemon yang sudah nongol di tv sebelum saya lahir dan komik-komik yang bertebaran di toko-toko buku) jadinya saya penasaran pada gadis yang menyanyikan lagu ini. Apalagi di video klip tersebut, gadis ini juga terlihat memainkan gitar. Dan kata lain muncul di kepala saya. Keren!

Senin, 09 Januari 2012

Am...


Am
"Memiliki dirimu sebagai sahabat dalam kenanganku adalah sebuah keberuntungan.”
Hawa dingin di penghujung bulan desember menyambutku. Aku kembali lagi, ke kota kecil yang cukup ramai ini. Ada rasa rindu yang kukenali menyeruak dalam hatiku, rasa yang kupikir sudah lama mati namun ternyata keliru. Kutelusuri tembok putih yang kulewati sejak tadi dengan sebelah tanganku, sementara tangan yang satunya kubiarkan mengayun bebas layaknya ujung mantelku yang terus bergerak tertiup angin. Dan tanganku mencapai ujung tembok ini. Sebuah gerbang yang tingginya berkisar dua kali lipat dari tinggi tubuhku menyambutku dengan angkuh, seakan ingin menelan manusia kecil yang sedang berdiri di hadapannya. Aku heran, apa aku yang tak pernah bertumbuh tinggi atau gerbang ini yang sudah diganti dengan yang lebih tinggi? Tapi sepertinya tak ada yang berubah. Berarti... Ah, sudahlah.
Tatapanku beralih pada gedung bergaya jaman tempo dulu yang berdiri kokoh dalam lindungan tembok dan gerbang ini. Tak pernah berubah, pintu kayu berwarna hitam yang membuatku merasa seakan berada dalam penjara saat memasukinya, jendela berterali besi yang dicat warna coklat, tanaman hijau dan bunga beranekaragam yang mengelilingi bangunan ini. Dari luar mungkin ini tak mirip seperti sebuah sekolah menengah atas tapi lebih mirip vila vampir di film-film. Tapi begitulah, ini adalah sebuah sekolah dimana aku adalah salah satu alumninya. Hanya saja suasananya agak sepi karena sedang liburan sekolah, jadinya hanya aku saja yang sedari tadi berkeliaran di sini. Penjaga sekolah sepertinya juga sedang tidak ada dan ini tentu saja hal yang menguntungkan bagiku. Mengapa menguntungkan? Hal ini tergantung pada perkiraanku tepat atau tidak.
Aku berjalan memutar ke bagian belakang sekolah, sesaat tersenyum melihat pohon besar dengan dahan-dahannya yang terjuntai hampir mencapai tanah, lalu mulai memanjatnya. Dengan hati-hati aku menyusuri dahan-dahan tersebut lalu melompat dengan mulus. Ya... Ya... Cara ini memang selalu berhasil sejak dulu. Aku heran kenapa pihak sekolah tak pernah menebangnya. Kurasa semakin banyak rekor murid yang membolos setelah kelulusanku. Hehehe…
Lagi-lagi aku tersenyum mengenang setiap memori yang berebutan untuk masuk dalam pikiranku. Ada tawa, ada kenakalan, ada hukuman, tawa lagi, barisan yang kacau, pengumuman dari kepala sekolah yang membuat semuanya hening, kelas kimia yang membuatku ingin pingsan, dan kenangan-kenangan lain yang membuatku tertawa saat mengingatnya. Perlahan mataku terpejam. Tanganku yang masih bertumpu pada batang pohon setelah melompat tadi kuarahkan untuk turun lebih rendah, dan kedua sisi bibirku tertarik saat merasakan ukiran itu masih ada di sana.
Dan ingatan terakhir tentang sosok gadis rapuh di ruang musik menghangatkan hatiku lagi.
"Aku kembali, Audy..."
***
Besok aku pulang…
Kalimat tersebut terus menggantung di telingaku sejak kemarin.  Membuatku tak berhenti tersenyum hingga hari ini. Dira kembali hari ini? Hmm... Sudah lama sekali kami tak bertemu. Tiga tahun lebih tujuh bulan, terhitung saat terakhir kali aku mengantarnya ke bandara. Bagaimana penampilannya sekarang ya? Apa masih tomboy seperti dulu?
Kenangan tentangku dan Dira menelusup masuk satu persatu dalam pikiranku. Ruang musik, pohon besar di belakang sekolah, sampai upacara kelulusan tak pernah kulewati tanpa Dira yang selalu cerewet di sisiku.
Dira selalu terlihat ceria, itu anggapanku saat pertama kali melihatnya yang sibuk berlari kesana kemari saat menjadi panitia ulang tahun sekolah. Tapi ternyata ia hanya menutupi kesedihannya dengan tawa. Hal ini dimulai setelah kakak yang disayanginya menjadi korban perampokan saat sedang dalam perjalanan pulang dan nyawanya tak bisa diselamatkan lagi. Dan Dira pun mulai berakting, berkata bahwa semua baik-baik saja, tak ada yang terjadi, padahal sebenarnya kenyataannya tak seperti itu.
Sementara aku, aku selalu menutup diri dari orang lain. Setelah Ayah pergi meninggalkan aku dan Ibu bersama wanita lain, aku merasa tak ada lagi yang bisa kupercayai. Namun Dira mampu mengubahnya, dan hal itu dimulai dengan satu kalimat yang diucapkannya di pertengahan semester, di ruang musik yang selalu menjadi tempat ku menyendiri.
“Kenapa kau mengawali lagu dengan nada itu?”
“Eh?”
“A minor… Itu nada sedih kan?”
Aku terdiam mendengar sapaan gadis yang saat itu belum kukenal sama sekali. Rambutnya dikuncir asal-asalan, dengan seragam yang sudah agak kusut dan ujungnya  yang sudah dikeluarkan dari rok. Ia berdiri menatapku dengan tatapan yang berbeda dari yang kudapat selama ini. Ini bukan tatapan mengasihani, bukan juga tatapan orang yang sedang menghina, melainkan tatapan kosong yang membuatku bertanya-tanya, ”apa maksud gadis ini sebenarnya?”
“Itu A minor kan? Am?” tanyanya lagi masih dengan tatapan kosong yang sama. Yang benar saja, aku juga tahu bahwa A minor dan Am itu sama saja. Tapi bukannya berkata seperti itu, aku malah menjawab, “Ya…”
Dan gadis itu duduk di sampingku, menutup mata dan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan dengan kedua tangan yang terangkat sejajar dengan tuts piano. Lalu nada yang sama dengan yang kumainkan tadi mengalun lewat jemarinya, hanya saja kali ini dengan tempo yang lebih cepat. Membuat jemariku turut terbawa dengan luapan nada sedih yang dibawakannya lalu mulai mengikuti harmoni nada yang dilantunkan oleh jemarinya.
Hanya seperti itu, sampai bel tanda istirahat selesai berbunyi, namun itu menjanjikan suatu hal yang terbukti di hari-hari selanjutnya. Kunci nada ini tak akan dilantunkan sendirian lagi.
Mengingat Dira memang tak akan membuat saraf tersenyumku lelah. Mengenangnya malah membuatku menuju tempat ini, sekolah. Setelah berhasil memanjat pohon di belakang sekolah, kakiku melangkah sesukanya menelusuri kelas-kelas kosong dengan bangku, meja dan papan tulis yang serasa memanggil diriku agar menjadi bagian dari alur cerita mereka lagi. Dan kakiku berhenti sebelum mencapai ruang musik. Nada ini?
“Dira?”
***
“Bagaimana…”
Kami tertawa bersamaan saat pertanyaan itu keluar dari mulut kami dengan kompak. Saat kami memutuskan untuk pindah dari ruang musik menuju pohon di taman belakang sekolah dan mulai berbincang.
“Bagaimana kabarmu?” Audy memilih untuk memulai duluan mengingat keheningan yang sering terjadi dulu kalau hal seperti ini terjadi.
“Yah, tak pernah sebaik ini. Kau?”
“Sama saja seperti biasanya. Sibuk!” sambungnya lagi sambil terkekeh.
“Jangan terlalu berlagak kuat. Kalau perlu bantuan jangan malu meminta bantuan dari orang lain. Yang dulu-dulu tak usah diulang lagi,” kataku sok menasehati.
“Berlagak kuat? Bukannya itu kau? Nona yang selalu berlagak ceria padahal sebenarnya tidak.”
“Menyindir? Tapi kau kan sama saja. Nona yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri dan berlagak kalau kau tak butuh orang lain…” aku membalas tak mau kalah dan kalimatku ini sukses membuat tawa kami pecah lagi.
Lalu keheningan muncul lagi. Sambil menatap kosong ke arah lapangan basket yang sepi di hadapan kami aku hanyut dalam pikiranku sendiri. Dan aku seakan bercermin saat melihat sosok gadis dengan rambut dikuncir dan seragam yang kusut melewatiku dan Audy saat ini. Ia tertawa bersama gerombolan teman-temannya yang sama-sama populer seperti dirinya. Tapi ia tahu tawanya itu tak pernah setulus saat ia bersama Audy.
“Kita dulu menyedihkan ya?” ucapan Audy yang tiba-tiba membuat ingatan itu memburam dan kembali ke lapangan basket yang sepi lagi. Audy melanjutkan, “terlalu sering berlagak kuat membuat kita lupa bagaimana membagi air mata kita dengan orang lain. Kita yang dulu memang seperti itu, kan?”
“Ya, kita memang seperti itu.”
“Terasa agak sedih ya? Kita…”
Aku menatap Audy, membenarkan apa yang dikatakannya. Kami yang dulu memang seperti itu. Berpura-pura dengan topengnya masing-masing. Berpikir bahwa orang lain tak perlu tahu dan tak akan mengerti kesedihan yang kami alami padahal semua itu salah. Tapi sekarang semuanya sudah berubah.
“Ku rasa tidak juga…” kataku membalas perkataan Audy tadi.
“Begitukah?”
“Ya. Saat kita menemukan seseorang untuk membagi kesedihan kita, rasanya jadi tak sedih lagi. Malah melegakan…” aku menyelesaikan perkataanku lalu menunjuk ke arah sebuah ukiran di pohon tempat kami berteduh sejak tadi.
“Am”
Dan Audy pun mengangguk. “Ya, kau benar…”
"Kami hanya duduk bersebelahan. Tanpa kata. Hanya seperti ini… Tapi kami tahu bahwa hati kami terhubung satu sama lain. Dalam sebuah nada, Am.”

Minggu, 01 Januari 2012

The Future has Its Own Promise


“Genggam tanganku dan kau akan melihat
Dunia yang kucintai dan lagu yang mengiringinya
Resapkan setiap kata, maknai setiap nada
Kau akan tahu… oleh siapa lagu itu bernyawa.”

“Ivy, apa kau sudah siap?”
Sebuah suara yang familiar menghentikan aksiku yang meremas-remas gaun karena gelisah, muncul di saat yang tepat sebelum aku merusak gaun pengantin yang sedang kupakai. Seorang pria berumur enam puluhan berdiri di depan pintu sambil menatapku lembut. Sekilas kulihat ada tatapan khawatir yang muncul dari wajahnya, yang langsung hilang beberapa detik setelahnya. Pria ini memang hebat dalam hal penguasaan diri.
“Ayah…” aku berlari menuju pria yang berdiri di depan pintu lalu memeluknya. Perlahan air mataku menetes.
“Jangan menangis…” katanya sambil mengusap puncak kepalaku lalu menghapus air mata yang jatuh dari kedua mataku.
Rasanya aku ingin tertawa saat mendengar ucapan Ayah yang mirip scene pernikahan pada film-film yang kutonton. Scene saat sang mempelai wanita menangis pada Ayahnya yang akan mengiringnya ke depan altar. Yang akan selalu dijawab…
“Mempelai wanita selalu menangis saat pernikahannya, Ayah…” jawabku yang akhirnya merasa begitu bodoh karena dulu sempat menertawakan adegan film yang seperti ini.
“Baiklah kalau begitu. Pegang tangan, Ayah.”
Ku anggukkan kepalaku dan mengenyahkan semua pikiran negatif yang melayang di otakku sejak tadi. Dan di saat kedua sisi pintu kayu itu terbuka, jantungku serasa ingin melompat dari tempatnya.
Oh Tuhan… Jangan biarkan aku mati saat ini.
***
Januari, 31.
Ya… Aku menulis di atas kertasmu lagi. Aku tahu ini tak lazim bagi seorang wanita seumuranku, apalagi wanita yang akan segera menikah. Karena itu aku tak lagi memakai embel-embel ‘Dear Diary’ yang biasa kutulis di umur belasan.
Apa aku menulis kata ‘menikah’ tadi? Ya… Ya… Ya… Menikah. Sampai hari ini aku masih tak bisa mempercayai kenyataan bahwa aku akan segera menikah dengan Tom, dan kami sudah mendaftarkan diri sebagai calon pengantin di gereja.
Tapi, entahlah. Ada beberapa hal yang membuatku takut akhir-akhir ini. Karena itulah aku membuka lembaranmu lagi dan menulis, karena setiap keluhan yang kukeluarkan saat ini hanya akan ditanggapi sebagai sindroma pra-nikah oleh semua orang di sekitarku.
Ia sempurna… sangat. Tak ada pria lain yang kuinginkan bersanding denganku di depan altar selain dirinya. Memang ada begitu banyak perbedaan. Aku percaya mitos, Tom lebih memilih untuk menertawakannya. Aku senang menghabiskan waktuku dengan menulis, Tom lebih suka naik gunung. Aku suka makan cereal dengan banyak susu, Tom lebih suka memakannya langsung dari kotaknya.
Begitu banyak perbedaan lainnya yang tak bisa ku sebutkan satu persatu. Dan kurasa hal-hal lain akan menyusul setelah aku mengenalnya lebih dekat lagi sebagai pendamping hidupku. Aku pernah mendiskusikan hal ini dengan Tom, tapi Ia hanya menjawabnya dengan senyuman dan kecupan yang menenangkan di dahiku.
Tom senang memanggilku dengan nama tengahku, Ivy. Sama dengan cara Ayah dan Ibuku memanggilku. Saat kutanya alasannya, Ia hanya menjawab, “karena aku suka nama itu…” Aku juga menyukai namamu Tom, dan kupikir aku tak akan menyukai nama pria lain lagi selain namamu, Tomas Agustinus.
Jadi… Apa yang harus kulakukan? Pernikahanku tinggal dua minggu lagi… Apa yang harus kulakukan?
***
“Berawal dari sebuah tanda tanya, lalu koma yang menggantung. Ada ‘titik-titik’ yang tak bisa dijawab, tanda seru yang meledak-ledak, lalu akhirnya tiba hari dimana aku bisa membubuhkan tanda titik… pada hatimu.”

Lantunan lagu Ave maria mengalun seiring dengan langkahnya menuju altar ini, altar tempatku berdiri menantinya dengan tatapan terpukau. Aku terlalu khawatir beberapa hari ini. Apa Ia baik-baik saja? Apa Ia makan tepat waktu? Tapi kekhawatiranku kini lenyap seketika saat melihatnya melangkah menuju altar yang sama denganku.
Sebuah ingatan singgah di otakku, menampilkan kilasan peristiwa dua minggu yang lalu yang seperti terulang kembali di depan mataku. Aku dan Ivy duduk di bangku depan gereja ini, mengikuti misa seperti minggu-minggu sebelumnya. Hubungan kami sudah berlangsung selama tiga tahun, dan minggu lalu akhirnya Aku memberanikan diri untuk melamarnya.
Agak lucu memang jika mengingat bagaimana caraku melamarnya. Ivy yang hobi bersih-bersih berbaik hati untuk membersihkan apartemenku, dan aku yang serampangan lupa bahwa cincin yang kubeli hari sebelumnya untuk melamarnya tergeletak begitu saja di meja ruang tamu.
“Ini… Cincin?”
Random, kacau, gagal total. Semua rencana cara melamar yang paling romantis hasil begadang semalaman hancur sudah karena sifatku yang berantakan ini. Dan yang terjadi selanjutnya menjadi sumber kelucuan dari prosesi pelamaran ini. Ahirnya dengan wajah bingung, aku berlutut di hadapannya lalu melamar Ivy. Tak ada makan malam romantis, tak ada lantunan piano atau biola, hanya ada seorang pria dengan kaus putih kusut bertuliskan ‘I Believe My Self!’ dipadu dengan celana pendek biru serta gadis dengan terusan rumah berwarna baby pink yang dibalut oleh celemek karena sedang bersih-bersih. Dan jawabannya adalah “Iya”.
“Akan masuk dalam pernikahan yang suci, Saudara Tomas Agustinus dengan Saudari Imanuella Ivy . Apabila kedua mempelai hadir saat ini, dimohonkan untuk bangkit berdiri.”
Aku menatap pantulan diriku yang terlihat begitu bahagia saat nama kami disebut. Sambil berpegangan tangan, kami berdiri dan tersenyum kepada orang-orang yang menghadiri misa pagi itu. Dan tepukan riuh menyambut kami berdua. Bahagia sekali rasanya saat itu.
Kupikir hari itu adalah hari yang paling membahagiakan, tapi ternyata perkiraanku salah saat melihat dirinya yang kini sudah berjalan mendekatiku. Ivy menyeret langkahnya yang terlihat kaku, membiarkan ujung gaun putih berbahan satin yang membalut tubuhnya bergesekan dengan ubin gereja yang bercorak klasik. Tangannya terus mendekap lengan Ayahnya, sementara tangan yang lainnya memegang sebuket bunga Daisy yang dirangkai dengan bunga Ivy di sekelilingnya. Senada dengan rangkaian bunga Ivy yang menghiasi tiang penyangga gereja serta bangku yang berjejer rapi lengkap dengan para manusia yang mendudukinya dengan mata tertuju pada sang pengantin wanita. Sama seperti namanya, Ivy. Nama yang kusukai karena memiliki arti cinta yang tak pernah berakhir, sama seperti cintaku padanya.
“Di hadapan imam dan para saksi, saya, Tomas Agustinus menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa Imanuella Ivy yang hadir di sini sejak saat ini menjadi istri saya. Saya berjanji akan tetap setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup…”
“Saudari Imanuella Ivy, bersediakah Saudari menikah dengan Saudara Tomas  Agustinus yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?”
“Ya, saya bersedia…”
***
“Jadi… Apa yang kau lihat?!” tanya Rudi antusias saat Tom melepas topi aneh dengan lampu warna-warni di sisi depannya dan kawat kecil dengan kabel-kabel yang membentuk susunan tak beraturan.
“Tak ada…” jawab Tom, Ia menatap Rudi dengan tatapan tanpa ekspresi lalu melempar topi aneh (yang kata Rudi akan jadi penemuan terbaik di akhir abad ke-21) tepat ke wajah penciptanya.
“Hei! Kau pasti bohong! Mana mungkin alat ini tidak berfungsi? Kemarin saat kupakai berhasil kok! Di masa depan aku jadi ilmuwan hebat, punya perusahaan pencipta barang-barang dengan teknologi paling mutakhir dan… ubbhhhhhh… aabbpphhhh!”
Tom tertawa puas melihat Rudi yang akhirnya berhenti bicara panjang lebar setelah mulutnya Ia bungkam dengan roti. Lagipula mana ada omong kosong seperti melihat masa depan dengan sebuah topi? Dan kenapa masa depan yang Ia lihat adalah sebuah pernikahan?
“Hei… Kau menjatuhkan topimu…” sebuah suara dari arah belakang menghentikan tawa Tom. Mau tak mau membuatnya berbalik.
“Ahh, bukan itu topi Ru…”
“Ini topimu kan? Ini ku kembalikan…”
Ia tercengang melihat gadis yang berdiri di depannya. “Ivy…” panggilnya dengan nada tak yakin.
“Ya? Itu memang nama tengahku. Tapi teman-teman di kampusku dulu lebih sering memanggil nama depanku, Imanuella. Bagaimana kau tahu? Apa kau punya indera keenam atau sejenisnya?” tanyanya dengan nada tertarik yang tak bisa disembunyikan.
“Ahh… Tidak. Ngomong-ngomong namaku Tom. Salam kenal…”
“Ya. Salam kenal…” balas gadis itu lalu tersenyum.
Dan kedua insan manusia itu saling tersenyum, seorang pria muda yang belum percaya pada masa depan yang Ia lihat dan seorang gadis yang belum tahu bahwa Ia akan menjadi bagian dalam masa depan si Pria. Tak peduli akan apa yang akan terjadi di masa depan, namun akan terus berharap. Karena mereka tahu, “masa depan memiliki janjinya sendiri”.

Sabtu, 31 Desember 2011

Ketika Hujan Berbisik


 Rintik hujan membasahi kota ini, kota yang tak pernah sepi dari bunyi kendaraan yang menjadi salah satu donatur asap bagi langitnya. Bunyi kecipak terdengar bersahut-sahutan akibat langkah orang-orang yang berlari disana-sini untuk mencari tempat berteduh. Hari ketiga di bulan Oktober menjadi hari yang dibenci sebagian orang karena aktivitas mereka yang harus terhenti. Dan disinilah aku, berdiri di antara kerumunan orang yang memilih tempat yang sama untuk menghindar dari hujan. Sebuah halte di depan kompleks pertokoan kini disulap menjadi tempat berteduh, menyebabkan orang-orang yang menggunakan fungsi halte sebagaimana mestinya agak kesulitan dan harus berteriak agar bisa lolos dari kerumunan ini.
Bulir-bulir hujan terus berjatuhan menimpa bumi. Semakin keras, seakan tak mau berpisah dengan tanah yang hanya bisa Ia temui saat langit berubah warna menjadi kelabu. Aku mengeluarkan sebungkus rokok dan menarik linting terakhir yang tersisa, tak peduli dengan desisan menyindir dari wanita paruh baya di sebelahku. Alih-alih memasukkannya kembali dalam bungkus rokok, aku malah menyalakannya dan menghembuskan asap tebal dari mulutku.
‘Jangan terlalu banyak merokok…’ sebuah bisikan mengagetkanku. Linting rokok terakhir yang baru sekali kuhisap terjatuh dan beradu dengan tanah yang becek.
'Lea?' batinku menyerukan sebuah nama namun dipatahkan oleh akal sehatku yang berkata bahwa Lea sudah tiada.
Aku memalingkan kepalaku ke kiri dan kanan. Hanya ada wanita paruh baya tadi (yang masih menatap sinis padaku) dan anak laki-laki dengan jas hujan berwarna biru yang menggandeng tangan Ibunya. Tak mungkin... Bagaimana bisa orang yang sudah meninggal mau repot-repot keluar dari kuburnya hanya untuk memperingatkan agar aku jangan merokok? Hah! Lucu sekali pemikiranmu. Sedangkan bangun saja Ia sudah tidak bisa. Jangan berhalusinasi, bung!
Aku menajamkan pendengaranku, berharap suara itu muncul lagi tapi yang kudengar hanya bunyi hujan dan suara orang-orang disekitarku. Dan entah mengapa aku merasa kecewa. Kecewa karena suara itu tak ada lagi, kecewa karena mungkin itu hanya halusinasi, kecewa karena... Lea sudah tak ada lagi disisiku.
Namun setiap tetes hujan memiliki cerita, dan kali ini Ia memilih kenangan antara aku dan Lea.
***
Ia benci hujan, namun berlari di atas rerumputan yang basah setelah hujan adalah kegemarannya. Merasakan sensasi menyejukkan yang diterima oleh reseptor indera pada kakinya, yang meneruskan stimuli ke otaknya dan menghasilkan sebuah tawa kecil dari mulutnya. Aku bertanya-tanya, "adakah ciptaan Tuhan yang lebih menakjubkan dari dirinya?" Garis wajah yang sempurna, lekuk tubuh yang membuat setiap pakaian selalu terasa pas, dan senyum kekanakan yang memancing orang lain untuk tertawa bersama saat melihatnya.
Aku masih ingat bagaimana pertemuan kami yang pertama. Di hari dimana hujan juga turun dengan derasnya seperti hari ini.
"Kau tahu kenapa aku benci hujan?"
"Eh?" aku menatap heran pada gadis yang berdiri di sebelahku. Apa Ia sedang mengajakku ngobrol?
"Kau... Bicara denganku?"
"Iya... Memangnya sama siapa lagi?" katanya sambil tersenyum. Warung ini memang sedang sepi, hanya kami berdua yang berteduh di bawah terpal plastik yang berfungsi sebagai atap warung ini. Sementara penjualnya sepertinya tertidur karena faktor hujan yang membuat warungnya sepi pelanggan.
"Kenapa?" jawabku menimpali, masa bodoh dengan basa-basi orang yang baru pertama kali bertemu. Dia yang mulai duluan kan?
"Karena hujan selalu membawa cerita sedih." katanya sambil memandang sendu ke arah langit.
"Hah? Masa?" tanyaku namun tak digubris olehnya.
Hujan terus turun, mengisi kekosongan antara kami yang terperangkap dalam diam. Sesekali aku melirik ke arah gadis itu yang masih menatap langit dengan sendu. Ada apa dengan hujan? Mengapa gadis ini begitu membencinya?
Keheningan itu terus berlanjut, sampai akhirnya hujan berhenti dan gadis itu pergi tanpa berkata apa pun padaku.
Dan rasanya aku ingin mempercayai mitos yang berkata, "Kalau jodoh, pasti akan bertemu lagi," saat melihat gadis itu kembali berteduh di tempat pertama kali kami bertemu.
“Apa sekarang rasa bencimu pada hujan sudah berubah?” kataku tiba-tiba yang membuatnya terkejut. Ia sedang melamun sepertinya.
“Tidak.”
“Sayang sekali kalau begitu. Padahal aku ingin menunjukkan sesuatu yang asyik…”
“Apa?”
Aku terkekeh menatap wajahnya yang penasaran. “Katanya benci hujan…” kataku dengan nada meledek.
"Kali ini kuberi pengecualian."
"Baiklah! Ikut aku."
"Sekarang?" tanyanya sambil memberikan pandangan 'yang benar saja' yang kujawab dengan satu tarikan pada lengannya. Dan seperti di film-film romantis lainnya , kami berlari menerobos hujan sambil berpegangan tangan.
***
"Lea."
"Apa?" lagi-lagi perkataan gadis ini membuat kedua alisku bertaut karena bingung.
"Itu namaku... Lea. L-E-A," jelasnya lalu mengulurkan tangan kanannya.
"Oh... Ya. Andre..." kataku lalu menyambut uluran tangannya. Sebuah obrolan pertama setelah aksi lari-larian kami di tengah hujan. Bukan maksudku ingin membuatnya merasakan hujan yang Ia benci, aku hanya ingin mengajaknya secepat mungkin ke tempat ini, taman rahasiaku. Bukan taman yang istimewa sebenarnya, bahkan bisa dibilang cukup aneh karena taman yang kumaksud adalah taman di area salah satu Rumah Sakit.
“Lalu… Kenapa tempat ini?” katanya sambil mengayunkan kedua kakinya yang menggantung karena tak mencapai tanah.
“Tidak. Hanya saja aku menyukai tempat ini, dan kuharap di masa depan nanti aku bisa bekerja di gedung itu,” kataku sambil menunjuk ke arah Rumah Sakit.
“Hah? Percaya diri sekali…”
“Tentu saja! Itu adalah mimpiku sejak kecil. Dan apakah kau tahu? Kau adalah orang pertama yang kuberitahu tentang hal ini.”
“Begitukah? Aku istimewa sekali kalau begitu…”
“Kau memang istimewa… Peri hujanku…” kataku hampir tak terdengar, sebelum keheningan panjang yang lagi-lagi menerobos masuk di antara kami berdua. Tapi kurasa seperti ini saja sudah cukup. Duduk berdua di bangku taman, merasakan atmosfer sehabis hujan. Hanya berdua.
Ku harap kata ‘berdua’ akan berlaku untuk selamanya, tapi impianku serasa ditertawakan oleh hari berhujan yang mulai Ia cintai. Hari dimana hujan turun, membasahi pemakaman yang mulai sepi setelah upacara yang berlangsung sejam yang lalu. Lea, peri hujanku, telah berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa akibat penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Lea, peri hujanku, tak akan lagi menemaniku di saat hujan.
Pusaran dalam otakku berhenti dan melemparkanku kembali ke alam nyata. Kembali ke hari ketiga di bulan Oktober dimana aku masih berdiri dalam kerumunan orang yang berteduh di halte ini. Dan dengan kedua tanganku aku merasakan titik-titik hujan yang turun, berharap masih ada kehadiran Lea yang bisa kurasakan lewat setiap tetesnya lalu tersenyum pahit.
Ketika hujan berbisik… kau tak akan pernah tahu kenangan apa yang akan Ia bisikkan pada kedua telingamu.
Ketika hujan berbisik… kau tak akan pernah menyadari bagaimana Ia membawa jiwamu pergi… Berkelana dalam ingatan yang bahkan tak ingin kau ingat.
Ketika hujan berbisik… kau dan dia yang masih membeku dalam ingatan hanya bisa berserah… membiarkan Ia menjejalkan beribu macam kenangan dalam pikirmu.
Dan suatu hari, ketika hujan berbisik lagi… kau akan tahu bahwa kau, pikiranmu, hatimu… sudah cukup kuat untuk mendengarnya sambil tersenyum.

Kamis, 29 Desember 2011

Aku dan Idolaku


Aku memandang cukup lama pada sosok gadis yang memegang buku bersampul batik dan DVD di layar komputerku. Sebuah foto, ya hanya sebuah foto. Tapi cukup untuk membuktikan bahwa kami ada, kami mencintainya, kami YUI Lovers Indonesia, dimana aku adalah bagiannya.

Berawal dari ide salah seorang teman untuk membuat surat untuk YUI, maka aku pun dengan semangat mulai menulis suratku. Walau grammarku hancur-hancuran, walau tulisanku (sepertinya) sulit dibaca, tapi tak apa karena aku tulus menulis semua yang ada di suratku itu. Dan dengan disertai gambar yang kuberi judul “Rain”, aku mengumpulkan suratku itu ke koordinator YUI Lovers Manado.

Dan hari ini, aku memandang foto itu lagi, seiring ingatanku yang berjalan mundur tentang bagaimana ekspresiku saat pertama kali melihat foto itu dipajang, bagaimana awal perkenalanku dengan makhluk-makhluk yang sama gilanya denganku, yang sekarang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, serta bagaimana pertama kali lagu “Goodbye Days” di tahun 2006 bisa membuatku mulai menyukai sosok YUI.

Dari lagu “Goodbye Days” aku beranjak ke lagu lainnya yaitu “Namidairo” yang masih bernada sedih. Dan selanjutnya ada “LIFE” dan “AGAIN” lalu “Never Say Die” yang sering menjadi lagu penyemangat untukku yang diikuti oleh lagu-lagu lain yang juga kusukai. Dan “Thank You My Teens” juga menjadi lagu yang kuputar seharian saat ulang tahunku yang ke-dua puluh. “Hanya menyanyi. Mengubah rasa sakit segera menjadi sebuah lagu baru. Hanya dengan melakukan itu, aku bisa mengubahnya menjadi kekuatan,” adalah lirik yang paling kusukai dari lagu ini.

Mungkin ini aneh bagi sebagian orang. Atau bisa dibilang lucu? Bahwa seseorang bisa begitu menyukai seorang artis seperti ini, tersenyum melihat postingan tentangnya yang memperlihatkan wajah bahagia ataupun konyol, khawatir saat setiap stasiun televisi bahkan media internet mengabarkan tentang Tsunami yang terjadi di Jepang yang diikuti oleh hembusan nafas lega karena tahu bahwa Ia baik-baik saja. Serta bagaimana setiap lagu bisa mewakili perasaanku baik saat sedih ataupun senang, jatuh cinta, rindu, patah hati, kehilangan, dan bermacam-macam rasa lain yang sering kutumpahkan dalam status akun Facebook ataupun Twitter dengan mengutip beberapa liriknya.

Menyukai aliran musik yang berbeda dari trend musik jaman sekarang sempat membuatku tenggelam. Mau bicara tentang YUI ini, yang lain pasti menyambung, “lagi-lagi YUI”. Mau membahas YUI itu, pasti disambung lagi dengan kata-kata yang sama. Apakah teman-teman pernah merasakannya? Pasti pernah. Tapi jadi berbeda bukanlah kesalahan, menyukai seseorang (dalam hal ini idola kita) bukanlah kesalahan, akhirnya aku menyadari hal tersebut. Karena itulah aku selalu memegang prinsip, “Jadi diri sendiri bukan berarti jadi monster untuk orang lain.” Terdengar ekstrim? Tapi coba bayangkan, apabila kita terus berbohong, menyangkal tentang hal-hal yang kita suka, mencoba jadi seseorang yang diterima oleh orang lain dengan menyukai apa yang mereka suka, apa yang terjadi? Jujur pada apa yang kita sukai lebih membahagiakan.

Sempat ada teman yang bertanya, “sampai kapan akan menjadi YUI Lovers? Apakah kalau YUI tua nanti, akan tetap jadi fansnya?” Apa aku harus menjawabnya? Apakah teman-teman bisa menjawabnya? Semuanya tak perlu dijawab kurasa, cukup hati kita saja yang tahu bukan? Kata-kata tak bisa membuktikan segalanya, yang kita perlukan adalah tindakan. Benar, tidak? Tapi untuk hari ini bila seseorang bertanya apakah aku masih YUI Lovers? Aku pasti menjawab, “Ya!”
Apakah yang kutulis terdengar berlebihan? Tapi memang seperti inilah kenyataannya. YUI, penyanyi dan penulis lagu dari Jepang, 24 tahun, adalah idolaku.
Terima kasih YUI, untuk lagu-lagu serta kisah hidup yang selalu memberi motivasi bagiku. Terima kasih YUI, untuk teman-teman yang aneh tapi sangat baik hati yang bisa kukenal karena sama-sama menyukaimu. Dan terima kasih YUI, untuk apalagi? Untuk semuanya… :)

Minggu, 18 Desember 2011

SLF. (For You... My November)

Bau hujan bercampur bau bawang mengusik hidungku, membuatku terbangun dan membetulkan posisi dudukku yang tak karuan karena sempat tertidur. Aku mengerjap perlahan, memfokuskan mata pada geliat manusia yang terlukis di luar jendela.
"Pasar ternyata..." gumamku malas.

Mikrolet yang kunaiki masih memutar lagu-lagu masa kini, dan bangku depan yang tadinya ditempati oleh sepasang kakek nenek kini berganti dengan dua remaja yang sibuk bersenandung, mengikuti lagu yang mengalun dari speaker yang menyatu dengan kursi di belakangku. Ya, bahkan mikrolet bisa sekeren ini, itulah yang istimewa dari kotaku. Walaupun sebagian besar suara yang dihasilkannya lebih sering membuat alarm mobil Papaku berbunyi otomatis karena bising, tapi setidaknya ada juga lagu-lagu pop yang bersahabat dengan telingaku.

Kota ini masih sama seperti hari-hari yang sudah lewat. Jalanan yang berhias deretan toko yang tak teratur, pedagang kaki lima yang sibuk dengan dagangannya, serta warna-warni manusia yang membuatnya terasa sesak. Ikan mas koki yang berputar hilir mudik dalam akuarium kotak di depan pet shop menarik perhatianku. Ahh... Aku ingin beli ikan hias lagi. Akuarium di rumah sudah lama kosong, batinku sambil membayangkan beberapa ikan mas koki yang dulu sempat dibeli mama. Yang akhirnya mati satu persatu.
Rintik menghias kaca jendela, dan mau tak mau lagi-lagi membawa sekelebat bayangan. Bayangan yang mengawali Novemberku dengan kata cinta.

Ia tersenyum, seiring asap rokok yang mengepul dari mulutnya."Kau tak percaya?" katanya dengan senyum yang sedari tadi tak mau pergi dari wajahnya.
"Bagaimana bisa Aku percaya?" balasku, masih dengan tatapan bingung.
"Lalu... Apa yang harus kuperbuat supaya kau percaya?"

Aku tersenyum kecut mengingat semua hal manis yang kini terasa menusuk. Hujan memang memiliki kekuatan misterius yang bisa membawa manusia terbang kembali ke masa lalu. Bahkan lebih sering kenangan yang tak ingin kuingat.

Aku terkesiap dan mengembalikan konsentrasiku ke dunia nyata, menyadari bahwa mikrolet yang kunaiki memutar ke arah yang berlawanan. Ck, salah naik. Aku menggerutu lalu meminta pak supir menurunkanku. Untunglah aku masih bisa mencari mikrolet jurusanku dari sini, kalau tidak... bisa-bisa aku harus mengeluarkan uang lagi untuk kembali ke pusat kota.

"Es kelapa mudanya satu, bang," kataku pada penjual itu sambil mengeratkan genggamanku pada tali ransel. Benar-benar aneh membeli es kelapa muda di hari hujan seperti ini, tapi setidaknya aku perlu sesuatu untuk mendinginkan kepalaku. Dan kurasa es kelapa muda ini cukup membantu.

Dan rintik sore ini berganti menjadi hujan deras. Sesaat aku menyesal teringat payungku yang kelupaan di angkot sebelumnya. Tapi tak ada yang perlu disesali. Pengalaman membuat kita belajar, bukan?

Dan di kursi belakang mikrolet yang kunaiki sekarang, dan yang kuyakini tak akan salah lagi, Aku bersenandung lemah.

"I close my eyes and dream of you and I and then I realize... There's more to life than only bitterness and lies... I close my eyes..."

Jumat, 28 Oktober 2011

Tinker Bell's Love



Fly to who you are
Climb upon your star
You believe you'll find
Your wings
Fly
Selena Gomez : Fly to Your Heart

Pagi hari tiba terlalu cepat, mengakhiri waktu tidurku yang akhir-akhir ini semakin terbatas. Aku meraba pipiku yang terasa agak panas, ya bersemu merah lagi karena mimpi indah yang kualami. Ahh… hari yang baru. Apa yang menantiku hari ini?

"Din... Bangun. Kuliah jam berapa hari ini?" Bunda mengetuk pintu kamarku sambil mengatakan kalimat yang sama setiap kali Ia membangunkanku.

"Udah bangun kok, Bun..." kataku membuka pintu sambil menguap dan melanjutkan, "lagian hari ini kuliahnya jam sepuluh..." saat Bunda hendak melontarkan nasehatnya untuk cepat-cepat bersiap agar tak terlambat.

“Ya sudah. Cepat turun terus sarapan ya,” kata Bunda lagi lalu berjalan menuruni tangga.

“Iya, Bun,” sahutku. Tapi alih-alih bersiap-siap untuk ke kampus, Aku malah merebahkan tubuhku lagi ke kasur kesayanganku, menarik sebuah diary yang kusimpan di bawah bantal, dan menatap foto yang terselip dalam diary itu.

‘Selamat ulang tahun, Ga. Aku berdoa semoga kau bisa segera menyadari kehadiranku. Doa yang agak egois, ya? Tapi… boleh kan kalau aku sedikit egois?’ kataku dalam hati sambil menatap foto itu lekat-lekat.

Sudah hampir empat tahun dan aku masih tidak bisa melupakannya. Aku masih ingat bagaimana pertemuan kami pertama kali. Kursi taman, berbagi es krim, hmm… terlihat seperti kencan bukan?

Tapi yang terjadi selanjutnya tak semanis mimpi-mimpi yang membuat pipiku bersemu merah saat aku terbangun. Hubungan kita hanya sebatas teman, tak akan pernah lebih. Apakah aku pantas untuk merasa cemburu? Hari inipun aku masih menanyakan hal yang sama, saat melihat jemari yang kusukai itu saling bertaut dengan jemari yang lain. Ya, kau melewatkanku lagi.
*****

 Bila mimpi tentangmu adalah hujan
Biarlah Aku menari di bawah percikannya dan tak pernah terjaga

Bila mimpi tentangmu adalah sayap
Biarlah Aku terbang, berdiang di atas awan dan tak pernah menapak bumi

Karena mencintaimu... adalah sebuah mimpi indah yang tak pernah ingin ku akhiri

“Puisi lagi…” kata Angga sambil mengibas-ngibaskan sebuah amplop berwarna biru langit yang terselip di antara celah lokernya. “

“Ya… Kurasa begitu,” sahutku pendek.

“Aku heran. Kenapa orang ini selalu mengirim surat di hari Jumat? Memangnya ada yang spesial dari hari ini?” tanyanya lagi sambil membolak-balik amplop itu.

“Entahlah, mana aku tahu,” jawabku lalu menutup loker dan berlalu dari hadapannya.

“Hmm… Pasti Rara. Siapa lagi coba selain pacarku yang paling cantik itu. Iya kan, Din?’

“Aku kan udah bilang ga tahu! Maksa banget sih!” kataku berang. Itu tulisanku! Itu puisiku! Bagaimana bisa gadis bodoh seperti dia menulis puisi?

Ya! Bagaimana bisa gadis sebodoh dia menulis puisi? Aku masih ingat bagaimana Rara mengaku-ngaku kalau puisi itu ditulis olehnya. Dan yang tak kalah bodohnya, Angga malah percaya pada bualan gadis jahat itu.

“Hei! Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini marah-marah terus,” tanyanya bingung.

“Aku…” aku menatap matanya, mencoba mengatakan semuanya. Tapi yang terlontar dari mulutku hanyalah kata, “lupakan…” lalu pergi meninggalkan Angga yang menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.

Dan begitulah. Lupakan. Kata yang sebenarnya lebih kutujukan pada diriku sendiri. Lupakan dia, Dina. Berhenti mengiriminya puisi setiap hari jumat. Berhenti mencintainya. Berhentilah…

Be true, true to yourself and you'll be magic
Be kind, believe in others
help and you'll make magic
Jonatha Brooke : Be True

*****

I'm just Tinker Bell that will never be Wendy
You just have to say, "I do not believe in fairies..." then I will actually dissappear from your life
I'm just Tinker Bell that will never be Wendy
But I'll still love you, in a place you never think is there.

Aku menyenandungkan lirik asal-asalan yang kuciptakan setelah menonton film Peter Pan. Sesaat aku merasa seperti Tinker Bell, peri kecil yang terus mencintai Peter tapi tak pernah mendapat balasan. Tapi bedanya Tink lebih kuat dariku. Ia terus mendukung Peter dengan tulus walaupun ia hanya bisa memiliki Peter sebatas seorang sahabat. Bisakah aku setulus itu?

Sudah seminggu aku tak berbicara dengan Angga. Aku memang sengaja menghindarinya. Aku tak ingin terus menerus bertahan pada harapan palsu yang kuciptakan sendiri. Aku harus berusaha melupakannya. Tapi bumi sepertinya tak pernah berhenti berputar dalam galaksi Angga. Ia terlihat biasa-biasa saja. Masih tertawa-tawa dengan pengirim puisi palsu itu. Ia masih bisa bahagia, bahkan tanpa kehadiranku.

“Apakah kau sudah melupakanku?” kataku lirih sambil menatap dirinya yang tertawa bahagia.

I wanna fly as high as the sky
Spend the pixie dust that I have, then forget you
But it was difficult
Could I be with you much longer?

Aku tak sanggup lagi melanjutkan nyanyianku. Mataku mulai berkabut, air mataku mengalir saat aku mengingatnya. Inikah saat yang tepat untuk melupakannya?
Apakah kau pernah mendengar dongeng tentang Peter Pan?
Pasti ya...
Tapi pernahkah kau mengingat peri kecil yang bersinar mengelilinginya?

Ya, itu Aku.
Akulah Tinker Bell.
Dan kau adalah Peter Pan.

Aku selalu terbang mengelilingimu,
Menemanimu.

Namun... Kini kau melupakanku.
Peter Pan bukan anak-anak lagi.
Ia mengenal cinta dan tumbuh dewasa.

Perlahan cahayaku mulai meredup.
Aku tak sanggup lagi terbang dengan debu pixie.
Kau tahu kenapa?
Karena kenangan bahagia yang ku miliki mulai memudar, kenangan tentang kebahagiaanku denganmu.

Apakah ini saatnya Tink menghilang dari kehidupan Peter?
Kurasa ya.

Aku menyelipkan kertas tersebut di loker Angga. Ya... Aku harus melupakannya. Hari ini dan seterusnya, aku harus menghilang dari hidupnya.

*****

If you follow, follow the voice in your heart
Always know that’s how to find who you are
So hold on, never let go of your dreams
You’ll see the magic, believing is where it begins
Life is a beautiful thing
Let your heart sing
(Let your heart sing, let your heart sing, let your heart sing)
 Katharine McPhee : Let Your Heart Sing


“Apakah kau tahu? Bahkan Peter Pan bisa saja mencintai Tink.”
“Setiap kali orang dewasa berkata ‘Aku tak percaya bahwa peri itu ada…’ aku akan berlari ke tempat kau berada dan berteriak sekencang-kencangnya ‘Aku percaya peri itu ada!.”
           
Aku membaca kalimat terakhir yang ditulis Angga di buku hariannya sambil tersenyum pahit. Sudah tiga tahun aku tak bertemu dengan Angga. Dan apakah kalian tahu? Angga, yang selama ini kukira tak pernah menyadari perasaanku, ternyata mencintaiku lebih dari yang kutahu. Setidaknya itulah yang bisa kucerna dari buku harian yang ditinggalkannya di dalam lokerku di hari sebelum kelulusan kami.

Angga selalu mengamatiku yang senang menghabiskan waktu di taman dekat rumah, tapi tak pernah berani menghampiriku. Sampai akhirnya ia  melihatku menangis, dan dimulailah perkenalanku dengan Angga.

Hanya sebatas sahabat, tak lebih. Dengan status seperti inilah Angga terus mencintaiku. Ia jelas-jelas tahu siapa yang mengirim puisi setiap Jumat. Pertemuan kami pertama kali adalah hari jumat. Jadi siapa lagi yang menulis puisi ini selain aku?

Ia sengaja memanas-manasiku dengan pacaran dengan Rara. Tapi semuanya berakhir setelah aku mulai menjauhinya. Angga terus berusaha untuk mengatakannya padaku. Tapi kecemburuan telah membutakan mataku dan semuanya menjadi terlalu terlambat bagiku.

"Kak!!" aku tersadar dari lamunanku karena teriakan gerombolan anak kecil yang berlari-lari kecil menghampiriku.

"Hei!" sapaku riang lalu memeluk mereka semua.

"Hari ini cerita lanjut cerita Tinkerbellnya lagi dong, kak..." celetuk Shinta.

"Lagi? Memangnya ga bosen?" tanyaku pada mereka dan dibalas oleh gelengan kepala sambil tertawa bersemangat.

"Hmm... Oke hari ini kakak ceritain tentang Tinkerbell lagi..."

"Horeeee!!!"

"Tinkerbell adalah seorang peri kecil. Suaranya seperi dentingan lonceng dan selalu terbang mengelilingi Peter Pan sahabatnya menyerupai benda kecil yang bersinar. Ketika seorang bayi tertawa untuk pertama kalinya, tawanya pecah menjadi ribuan bagian dan semuanya pergi sambil berlompat-lompat, dan itulah awal dari peri..." kataku memulai.

"Jadi Tinkerbell itu betul-betul ada, kak?" tanya Donny disambut oleh anggukan teman-temannya.

"Hmm..." aku memutar bola mataku dan berpikir sejenak, "Itu..."

"Kak Dina... Kak Dina... Ada yang kasih ini ke Kak Dina," tiba-tiba kata-kataku terpotong karena teriakan Audy yang berlari ke arahku dengan es krim di tangannya.

"Es krim? Dari siapa?"

"Dari kakak yang disana... Katanya namanya Peter Pan." jawab Audy polos.

"Peter?" tanyaku bingung lalu mengalihkan mataku ke tempat 'Peter Pan' yang ditunjuk Audy, dan seketika tubuhku mematung.

"Hei... Berminat untuk terbang ke bintang kedua ke arah kanan, dan lurus sampai pagi menjelang?" katanya sambil terkekeh lalu menarikku dalam pelukannya. "Kangen sama  Peter Pan, Tink?"

"Bodoh..." jawabku lalu membalas pelukannya.

The second star to the right... Shines in the night for you
To tell you that the dreams you plan
Really can come true
The second star to the right... Shines with a light that's rare
And if it's Never Land you need
It's light will lead you there


Twinkle, twinkle little star... So I'll know where you are
Gleaming in the skies above
Lead me to the one who loves me


And when you bring him my way
Each time we say "Goodnight"
We'll thank the little star that shines
The second from the right
(Peter Pan Ost.)