Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 September 2023

#JurnalMalam : Sebelum dan Setelah (Habis baca : Orang Berikut Yang Kaujumpai Di Surga, Sedang Baca : Siapa yang datang ke pemakamanku saat aku mati nanti?)

Baru-baru ini salah satu orang baik dalam hidupku berpulang. Namanya tante Adel, sampai sekarang aku masih ingat senyum lebarnya yang memperlihatkan deretan gigi tiruan penuh yang aku buatkan untuknya. Dari semua pasien yang pernah aku kerjakan saat koass, aku sangat bangga bisa membuatkan gigi tiruan itu untuk tante Adel. Senyum yang ia beri sangat tulus, polos, dan tidak ada kepalsuan di dalamnya.

Aku bingung kenapa aku menangis saat menulis ini. Padahal aku bisa menahan air mata di depan jasad beliau.

Kematian ini menjadi alasan aku menyobek plastik pembungkus buku "Siapa yang datang ke pemakamanku saat aku mati nanti." Menurutku, buku ini menyampaikan kekhawatiran penulis seperti, "apa ia sudah cukup baik sebagai manusia sampai akan ada yang datang ke pemakamannya saat ia mati?" Juga mengajak pembaca untuk bisa menghargai perasaan orang lain. Bilang 'maaf' dan 'terima kasih' selagi orang yang pantas menerima kata itu masih hidup.

Tante Adel adalah orang baik, karenanya aku sempat protes waktu mendengar keluarga berencana hanya menulis riwayat hidup yang pendek untuk beliau. Aku mengerti bahwa setiap orang hanya hadir dalam sebagian perjalanan hidup orang lain, juga hanya bisa mengingat porsinya masing-masing dalam cerita hidup tersebut. Tapi protesku hanya sebentar kok, aku sadar yang terpenting adalah mengantar kepergian beliau dengan layak. Dan begitulah riwayat hidup tersebut selesai disusun.

Sesuai jadwal yang ditentukan yaitu hari Selasa, aku dan mama datang ke pemakaman tante Adel. Aku tidak kaget melihat banyaknya orang yang datang. Ibadah pemakaman berlangsung lancar sampai tiba waktunya pembacaan riwayat hidup oleh keluarga. Tapi ternyata setelah pembacaan riwayat hidup, ada beberapa orang terdekat yang diminta untuk menceritakan momen yang pernah mereka alami bersama almarhum. Cerita yang paling aku ingat adalah katanya semasa hidup almarhum selalu rajin pergi ke ibadah pemakaman siapapun yang ia kenal. Walau jauh sekalipun ia selalu berusaha mencari cara agar bisa datang. Saat sesi sharing ini, di kiri kanan aku bisa mendengar orang-orang yang duduk di sebelahku mengiyakan, juga berbagi kebaikan lain yang almarhumah lakukan dalam hidup mereka.

Riwayat hidup yang dituliskan memang hanya pendek, tapi apa itu bisa dibandingkan dengan riwayat hidup yang diceritakan oleh begitu banyak pelayat yang datang dengan ceritanya masing-masing?

*

Karena tidak selalu bisa membawa buku fisik ke mana-mana akhirnya sebelum selesai membaca buku "Siapa yang Datang ke Pemakamanku," aku mengganti sesi baca buku di luar rumah dengan membaca buku digital. Kebetulan saat aku membuka aplikasi iJakarta (perpustakaan online milik pemerintah Jakarta) ada 5 copy buku "Orang Berikut Yang Kau Jumpai di Surga" karya Mitch Albom tersedia untuk dipinjam. 

Saat selesai membaca buku ini aku juga baru sadar kalau kedua buku ini bertema kematian. Aku memang mudah terbawa perasaan. Karena temanya sama, jadi aku ingin menceritakan pengalaman membaca kedua buku ini dalam satu postingan yang sama...

Sesuai judulnya, buku ini menceritakan tentang kejadian yang dialami seorang wanita setelah ia ke Surga. Di sana ia bertemu dengan 5 orang yang punya pengaruh masing-masing dalam hidup wanita tersebut. Bagaimanapun selama hidupnya, Annie --nama wanita tersebut-- menganggap bahwa ia selalu melakukan kesalahan; makanya hidupnya menderita. Kehadiran 5 orang ini lah yang nantinya akan memberitahu Annie bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya bukan salah siapa. Mungkin hari itu angin hanya bertiup dan membawa suatu perubahan...

Aku rasa tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang buku ini. Buku ini, menurutku lebih baik jika dibaca dan direnungkan masing-masing oleh tiap orang yang membacanya. Aku bertanya-tanya apa ada orang lain yang menangis saat membuka halaman yang juga membuatku menangis. Pada akhirnya seperti yang ditulis dalam buku ini, ada banyak pertanyaan 'apa' yang akan kita temui namun kapan jawaban dari 'mengapa' itu akan muncul seringkali lebih lama dari yang kita perkirakan.

Sebelum dan Setelah mati, apa dan mengapa, aku harap tiap tahap menuju ke sana bisa aku lalui tanpa penyesalan.

Akhir kata, selamat jalan tante Adel... terima kasih karena tiap kali tante senyum, aku jadi senyum juga. Dan terima kasih juga karena tiap kali aku ingat senyum itu, aku jadi ingat kalau kebaikan ada dalam hidup ini dan aku juga jadi senyum lagi (walau saat ini masih nangis dikit). Aku yakin tante sudah beristirahat dengan tenang, mungkin mengalami pertemuan dengan 5 orang di Surga... apa bahkan ketemu Tuhan? Amiin.

Sabtu, 16 September 2023

#JurnalMalam : Apa yang Aku Miliki dan Tidak (sedang baca : Filosofi Teras)

    Saat memutuskan judul apa yang harus dipakai untuk tulisan kali ini, aku memilih kata jurnal sebagai kata pertama. Sepintas ada sebuah niat untuk membuat ini sebagai tulisan rutin, tapi taulah... apa ya bahasa Indonesianya, "panas-panas tai ayam" (wwkwkkwkwk), kayak niat cuma di awal doang tapi nerusinnya malas. Jadi ya aku mau nulis ini sebebasnya aja tanpa beban untuk harus menulis tulisan lanjutannya. Selain itu, lucunya, saat aku pikirkan lagi aku malah ngga tau arti sebenarnya dari jurnal (wkwkwkwk). Jadi jurnal itu sendiri (menurut Google) adalah catatan yang dibuat secara teratur. Teratur ya... apa bisa aku teratur padahal blog ini aja judulnya 'kacau'? Tapi mari kita coba yaa.

Filosofi Teras
oleh Henry Manampiring
    Sekitar dua atau tiga hari yang lalu, aku berhasil meminjam buku "Filosofi Teras" karya Henry Manampiring dari aplikasi perpustakaan digital Bank Indonesia (IBI). Aku baru selesai membaca bab II hari ini. Membaca buku saat ini jadi salah satu kegiatan yang bisa aku lakukan untuk menenangkan hati, bersabar saat menunggu antrian, atau kegiatan sebelum tidur. Buku ini bisa dibaca dengan perlahan (karena aku juga bukan tipe pembaca yang cepat) dan sesekali berhenti untuk merenung tentang apa yang baru saja aku baca. Filosofi Teras menceritakan tentang sebuah ajaran yang digagaskan oleh Zeno. Pada mulanya ajaran ini diajarkan di stoa (bahasa Yunani yang artinya beranda, serambi) sehingga kaum yang mengikuti ajaran ini disebut kaum stoa dan ajaran ini selanjutnya disebut Stoisisme. Belum banyak yang bisa aku ceritakan tentang isi buku ini, tapi yang aku maknai ialah :

#1 : kebahagiaan bisa didapat dengan melatih diri kita sendiri
Latihan bahagia? Ada rasa sangsi yang muncul saat aku membacanya. Maksudnya aku harus berlatih biar bisa bahagia gitu? Aku mencoba mengalah dengan rasa sangsi dan membiarkan rasa ingin tahu menang kali ini. Ternyata ada banyak artikel tentang latihan bahagia, jadi kesimpulannya kebahagiaan bukan hanya bisa dilatih tapi bisa juga dicari... asal aku mau dan niat.

"Sama seperti otot harus dilatih dengan berulang-ulang mengangkat barbel, maka batin pun bisa diperkokoh lewat latihan rutin setiap hari lewat STAR (Stop, Think-Assess, Respond)." _ Filosofi Teras, halaman xviii

#2 : bahagia itu artinya bebas dari emosi negatif
Semoga bagian ini ditulis dengan kesadaran bahwa aku harus terus belajar untuk mengatasi emosi dan amarah dalam diri. Emosi yang tidak bisa dikendalikan bukan hanya bisa merusak hubungan dengan orang lain, tapi juga merusak diri sendiri dengan penyesalan yang muncul tiap kali tidak bisa mengontrolnya. Hal ini juga pernah aku baca dalam buku "Going Offline" karya Desi Anwar, "Cara paling baik untuk menghadapi hidup adalah memiliki pengetahuan yang cukup tentang diri sendiri" (baca review "Going Offline": breakTime.... (kekacauansementara.blogspot.com)) yaitu mengenal tanda-tanda yang muncul saat emosi negatif dalam pikiran akan segera meluap dan bisa segera dicegah agar tidak menjadi kata-kata atau marah. Juga nafsu, mengetahui apa bedanya keinginan dan kebutuhan sehingga terbebas dari perilaku ingin mendapatkan apa yang sebenarnya tidak aku perlukan. Hal ini jugalah yang menjadi dasar aku menulis nomor #3 juga judul tulisan ini...

#3 : Menghargai apa yang aku miliki dan tidak terpaku pada apa yang tidak aku miliki
Judulnya jelas ya... sesederhana aku yang terus ingin membeli gadget baru padahal aku sudah punya banyak dan waktuku lebih banyak aku habiskan dengan gadget-gadget tersebut. Aku sering merasa kesepian saat melihat media sosial dari layar gadget... maksudnya, gimana yah menulis perasaan ini. Itu kan tempat bersosialisasi. Tapi duniaku kan isinya bukan hanya itu, itu maya, lebih banyak yang palsu. Kenapa aku harus merasa sepi, aku punya keluarga, aku juga punya teman. Harusnya aku tidak mengurung diri dalam kesepian yang aku ciptakan sendiri dalam benda sekecil gadget. Mungkin jika aku lebih menghargai apa yang ada di dunia nyata di sekitarku, hidupku bisa lebih berarti.

Baru-baru ini pun aku membaca artikel dari Greater Good tentang "10 Hal yang bisa Kamu Lakukan untuk membuat Waktumu lebih Bermakna" (baca : Ten Ways to Make Your Time Matter (berkeley.edu)) Salah satu di antara 10 poin yang ditulis mengatakan, "Distraksi dari dunia digital memungkinkan kita untuk melarikan diri ke dunia di mana keterbatasan manusia yang menyakitkan tampaknya tidak berlaku." Dengan membatasi penggunaan gadget, bahkan menggunakan teknologi dengan satu tujuan seperti kindle untuk membaca (aku lebih tertarik untuk membeli mp3 player sebagai teman untuk membaca buku saja, tapi nanti saja belinya setelah nabung) bisa mengurangi waktu yang digunakan untuk menggulir linimasa media sosial tanpa tujuan, atau menonton Youtube berjam-jam yang isinya rata-rata gadget yang pengen aku beli tapi ga butuh.

Lalu apakah jika aku sudah mendapat hal yang tidak aku miliki, apa akan selalu berujung bahagia? Dan jika tidak punya, apa aku harus tidak bahagia? Rasanya sedih jika membandingkan ketidak bahagiaanku dengan orang-orang di luar sana yang tidak punya banyak hal tapi bisa bahagia. Aku harap apa yang aku ketik setelah ini tidak sensitif untuk mereka yang memiliki keterbatasan baik fisik maupun materi. Saat aku membaca buku ini di ruang tunggu rumah sakit pagi ini, aku melihat layar tv memutar berita tanpa keterangan apa yang jadi topik pembicaraan. Layar itu menampilkan video tanpa suara dan terlihat ada dua orang di sana yaitu polisi pria dan satunya lagi seorang juru bahasa isyarat yang sibuk menggerakan tangan dengan cepat. Aku bukan orang yang mengerti bahasa isyarat, tapi dulu sekali aku sering melihat berita (sepertinya Seputar Indonesia) yang menambahkan sebuah kotak kecil di sudut kanan bawah yang menampilkan juru bahasa isyarat. Hal yang sudah lama tidak aku lihat karena sudah jarang menonton tv apalagi berita ini membuatku berpikir, bagaimana ya perasaan orang yang tuli sejak lahir? Aku pernah menegur petugas apotek yang suaranya tidak kedengaran saat memanggil antrian, bagaimana ya jika suatu saat duniaku nantinya hening... aku tidak bisa membayangkan.

Ternyata, ada banyak yang aku miliki, aku tidak kekurangan.

Sebelum tulisan ini semakin kacau dan ga jelas tujuannya ke mana, aku akan mengakhiri ini di sini saja. Setelah selesai baca buku ini (segera!) aku akan menulis lagi.

Semoga bahagia.

Senin, 09 Januari 2023

the loneliest girl in the universe : gadis yang sendirian dalam semesta yang begitu besar (review buku, ujungnya spoiler)

Aku hanya ingin menebak kenapa judul buku ini ditulis seluruhnya dengan huruf kecil; karena dalam semesta yang begitu besar bahkan kita manusia (dan huruf yang aku ketik ini juga) begitu kecil.

Buku ini aku beli, tentu saja, saat aku merasa kesepian. Tapi hanya kubiarkan saja di rak, padahal plastik pembungkusnya sudah kubuka. Kubaca bagian prolognya saja, pikirku, 'Oh, ini cerita tentang gadis yang berpetualang dengan kapal antariksa...'

Ternyata aku harus kecewa, kukira buku ini bisa mewakili bagian dari diriku. Kukembalikan buku itu di rak untuk diam di sana entah berapa lama. Kadang aku amati lembar depannya, benar-benar lupa akan prolog buku itu, lalu mulai mengasihani diriku dan kesepianku.

Hah, melankolis sekali.

Saat perjumpaan kami yang kedua kali, aku melihat bahwa halamannya sudah menguning dan diisi dengan titik-titik coklat yang sering kulihat pada buku tua. Mungkin buku ini, seperti tokoh utama dalam cerita yaitu Romy Silvers, sudah menunggu cukup lama ya di antara tumpukan buku? Jadi bagaimana aku harus menulis tentang isi buku ini?

"Sejak awal, perjalanan ini dilakukan  bukan karena mudah, melainkan karena penting." - Romy Silvers, (Gadis paling kesepian di alam semesta, hal. 99.)

Cerita ini dimulai 6817 hari (sekitar 18 tahun lebih) sejak peluncuran The Infinity pada tahun 2048. Romy Silvers, komandan pesawat antariksa tersebut masih remaja berumur 16 tahun, tapi tidak sama seperti remaja lainnya, ia hidup sendirian dalam pesawat antariksa. Tujuan pesawat ini yaitu menuju exoplanet HT 3485 c yang berpotensi sebagai Bumi kedua (Bumi II). Lima tahun lalu, awak pesawat tersebut terdiri dari 3 orang yaitu Romy dan orangtuanya, sampai akhirnya sebuah kejadian menyebabkan kedua orangtua Romy meninggal.

Lalu apakah Romy Silvers putus asa? Tentu saja. Ia baru 11 tahun saat orangtuanya meninggal dan ia harus mengambil alih posisi komandan. Tapi Romy kecil sudah diajari bagaimana memakai tangki oksigen di kondisi darurat bukannya lari meminta tolong pada orangtua. Apa di usia 16 tahun aku bisa selamat dari tabrakan asteroid? Hah... aku bukan Romy Silvers. Syukurlah tokoh utamanya Romy (padahal kasihan).

Bagaimana ia melalui hari-hari tersebut sampai di masa kini sebagai Romy yang berusia 16 tahun diceritakan setelahnya, bahkan penjelasan penting baru muncul ketika hanya tersisa beberapa helai kertas saja sebelum buku itu habis kubaca. :"D

Apa saat kalian remaja, kalian suka membaca fan fiksi? Ya.... saat ini istilahnya bergeser menjadi AU (Alternate Universe) tapi sebenarnya aku tidak tahu kenapa jadi begitu... ya, gitulah. Jadi apa kalian suka fan fiksi? Aku suka, dulu, sekarang tidak lagi (udah ga remaja, makanya tadi aku nanyeaa). Romy juga remaja yang suka membaca dan menulis fan fiksi. Berangkat dari kesukaannya akan serial Loch & Ness (hah... kalo dibaca lagi kenapa mirip Loneliness), ia suka menulis fan fiksi AU tentang tokoh utamanya yaitu Jayden dan Lyra. Saking sukanya Romy dengan tokoh Jayden, sebagai seorang gadis remaja ya dia sangat mengidolakan Jayden ini. Sosok idaman dia lahh... Lalu suatu hari, dalam kesendiriannya itu, seorang pria bernama Komandan J Shoreditch, pemimpin pesawat antariksa The Eternity yang dikirimkan untuk menyusul The Infinity, diperkenalkan di halaman 30.

Bab setelahnya berganti dari hitungan hari yang berlalu sejak peluncuran The Infinity menjadi hitungan mundur sampai The Eternity tiba di samping The Infinity untuk mengudara bersama. Awalnya, aku menganggap ini romantis. Jangan salahkan aku ya, aku hanya terbawa dengan e-mail antara Romy dan J; The Infinity dan The Eternity. Coba bayangkan ada seorang gadis yang tidak pernah menyentuh bumi, kemudian suatu hari muncul manusia yang kebetulan adalah lawan jenis yang mengaku bahwa umurnya tidak beda jauh dengan gadis tersebut. Belum lagi si lawan jenis ini menggambarkan dirinya seperti tokoh pria yang sangat dipuja sang gadis.

Apa bisa aku tidak ikutan berdebar karenanya? Hahhhhh. Aku bodoh, iya.

Aku ikut bahagia akan adanya potensi bahwa hubungan romantis akan terjadi antara Romy dan J. Lalu, aku mulai menghitung jarak. Jarak yang dibutuhkan bagi Romy dan J sampai e-mail mereka bisa terkirim dan diterima di dalam hari yang sama. Perlu diketahui bahwa awalnya e-mail yang masuk dari bumi dan juga The Eternity kepada The Infinity berasal dari 2 tahun sebelumnya. Jadi J mengirim pesan kepada Romy di masa depan, dan sebaliknya. Seiring cerita berjalan, waktu yang dibutuhkan untuk saling berkirim e-mail semakin singkat. Aku melonjak kegirangan saat akhirnya tanggal pada e-mail berubah menjadi tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Belum lagi akhirnya Romy bisa berkomunikasi secara real time (jeda beberapa detik) lewat telpon antar pesawat antariksa dengan J. Aku semakin girang, tidak siap akan rasa takut yang dialami Romy di halaman berikutnya.

Halaman berikutnya kubaca dengan tergesa-gesa, seperti Romy yang melarikan diri. Bab di halaman tersebut juga berganti menjadi hitungan jam setelah The Eternity menyusul The Infinity. Aku tidak menginginkan pertemuan yang seperti ini, mungkin Romy lebih tidak ingin. Hal yang aku pelajari setelah membaca buku ini yakni : Walau kamu berharap seorang penolong datang menghampirimu suatu saat, pada akhirnya kamu hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri terlebih dahulu. Jadi persiapkan dirimu. Karena bencana bisa saja datang dan berpura-pura sebagai berkat saat kamu tidak waspada.

Membaca buku ini membuat perasaanku naik-turun. Naik, gembira, saat kabar tentang The Eternity, Komandan J, muncul. Aku merasa ada harapan bahwa Romy tidak akan sendiri lagi, ia juga bisa merasakan jatuh cinta, dan aku bersemangat menunggu hari dimana Romy dan J akan bertemu. Tapi aku tidak mengira bahwa perasaan itu akan turun; rasa takut, curiga, tidak percaya muncul saat hari itu tiba. Kisah Romy dan J (hahhh Romy... Romeo, J... Juliet, hah, mindblown), mengingatkanku pada kalimat yang pernah aku baca. Ada orang-orang yang pernah menanyakan kira-kira seperti ini, "Bagamana jadinya jika kamu adalah pria/wanita terakhir di muka bumi bersama lawan jenis lain? Apa kamu akan memilih dia sebagai pasanganmu?" Memikirkan hal ini setelah membaca cerita tadi membuatku ingin berkata, 'tidak.' Memang siapa yang benar-benar bisa meyakinkanku bahwa benar hanya kami yang tersisa di alam semesta yang besar ini, hah?

Pada akhirnya aku lega bisa selesai membaca buku ini. Akhir cerita ini bisa dibilang cukup memuaskan dengan open ending, jadinya aku bisa membayangkan sendiri akhir yang aku inginkan. Tapi seperti kalimat pertama yang aku kutip dari buku ini, bukannya yang penting bukan akhirnya namun perjalanannya? Itu tidak mudah, perjalanan.

Masih banyak yang ingin aku tulis. Saat aku membaca tulisan ini tepat setelah postingan ini kumasukkan ke blog, aku melihat judul blog milikku sendiri; My Own Galaxy. Aku merasa sendirian dalam galaksi yang aku buat ini, tapi aku bersyukur karena di bumi tempat aku hidup sebenarnya yang terjadi tidak seperti itu. Aku harap, Romy-pun bisa mencapai Bumi II dan hidup di sana. Aku harap Romy tidak sendirian lagi.

Catatan: Nomenklatur exoplanet ini menarik sekali! Ada banyak exoplanet di luar tata surya yang sudah ditemukan, tapi aku ga nemu nama Planet di buku ini. :"D

Minggu, 30 Januari 2022

Aku ingin makan seblak.

Akhir-akhir ini seblak jadi makanan yang aku sukai. Alasannya karena selain harganya murah dan enak, ada kesenangan sendiri bagiku saat makan seblak yang kaya bumbu dan pedas. Di ujung hari yang melelahkan dan membuat stres, aku sering menemukan diriku yang ingin makan seblak. Seperti Dejavu. Tapi aku terus mengingatkan diri agar tidak sering makan itu karena takut terkena kolesterol akibat konsumsi minyak berlebih... Terlalu banyak makan yang tidak sehat, aku takut terserang penyakit.

Oke lalu tulisan ini maksudnya apa? Apa aku cuma mau curhat ingin makan seblak? Ada benarnya sih... walau tujuan awalku sebenarnya ingin menulis tentang buku yang baru saja selesai aku baca. Judulnya, "I want to Die but I want to Eat Tteokpokki."

 


"Aku ingin mati, tapi aku ingin makan Tteokpokki," dari judul tersebut aku melihat dua kata yang berlawanan yaitu 'mati' dan 'makan'. Aku tidak percaya zombie, jadi menurutku orang yang sudah mati tidak bisa makan lagi. Yah... Aku belum pernah mati sih, jadi jangan terlalu percaya dengan apa yang aku tulis (wkwkwwkk). Tapi pernahkah kamu berpikir ingin mati? Di masa sekarang saat pandemi masih terjadi dan ada saja manusia yang mati setiap hari, membuatku tidak bisa dengan mudah mengungkapkan bahwa aku ingin mati walau hanya di media sosial. Bahkan berkata jujur saja menakutkan, orang-orang di balik keyboard bisa dengan mudah menyerangku dengan kata-kata yang mereka pikir benar... Hah, tapi pernahkah aku berpikir ingin mati?

Tentu pernah, tapi sekarang aku tidak lagi berpikiran ingin mati karena suatu hari aku juga akan mati. Lalu, apakah aku harus hidup dengan berpikir bahwa suatu saat aku akan mati?

Kenapa dari tadi aku hanya memusatkan pikiran pada kata 'mati' padahal aku masih bisa lanjut 'makan'.

Jujur (oke ini jujur) saat aku membaca judul buku ini, aku merasa bahwa ini adalah judul yang konyol. Bukannya Tteokpokki bisa mudah didapat di Korea Selatan sana? Oke lagi-lagi jangan percaya apa yang aku katakan, soalnya aku belum pernah ke Korea Selatan (wkwkwkwwkk). Tapi aku menyesal setelah memiliki pikiran seperti itu karena layaknya masuk ke kolam berisi air, aku hanya berada di bagian dangkalnya saja. Jika aku masuk ke bagian lebih dalam dan berpikir lebih baik, aku sadar bahwa (lagi-lagi kata) mati bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Karena meremehkan kematian sama halnya dengan meremehkan kehidupan.

Jadi, aku memutuskan untuk menghargai judul buku ini dan isi di dalamnya.

Mulai dari cover, aku sangat suka warna ungu yang menjadi warna utama buku ini. Warna yang cantik. Lalu ada seorang perempuan yang rebahan menyamping yang bikin aku kepikiran, 'apa dia lagi overthinking?' Oh, mungkin dia lagi mikir mau mati tapi masih pengen makan Tteokpokki... Hah, ngawur. Tapi ada kalimat tanya di bawah gambar si perempuan yang rebahan tadi, hal yang baru aku perhatikan bahkan setelah selesai membaca buku ini.

"Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?"

Tuh kan... Bukan aku saja yang berpikir kalau judul buku ini konyol. Bahkan penulisnya saja begitu🄲 Eh tapi ga apa-apa, kan dia mengkritik diri sendiri (???). Aku nggak merhatiin tulisan ini soalnya (mulai deh alasan) aku keburu seneng ngeliat buku ini di-review sama dokter kesukaan aku, dr. Jiemi Ardian, Sp. KJ. Aku pikir, 'Wahhhh... dokter Jiemi udah baca buku ini! Aku harus baca!' Alasan yang simple ya kan? Semoga hal-hal sederhana seperti ini bisa mengarahkan aku ke hal-hal baik lainnya.

Buku ini ditulis oleh Baek Sehee dan diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Haru. Hal lain yang aku suka dari buku ini yaitu halamannya yang tidak selalu menggunakan kertas putih, tapi selang-seling dengan warna merah. Apa itu mewakili warna Tteokpokki yang pedas? Di cover bagian belakang aku juga bisa menemukan gambar piring berisi sesuatu berwarna merah, mungkin itu Tteokpokki.

Isi buku ini sebagian besar menuliskan tentang proses konsultasi antara si penulis dengan psikiater yang ia datangi secara rutin. Awalnya penulis mencatat apa yang ia dengar dari psikiater setelah sesi konsultasi, namun ia beralih dengan cara merekam sehingga bisa dikatakan bahwa apa yang ditulis dalam buku ini memuat percakapan yang lengkap antar si penulis dan psikiater. Hal ini membuat aku sebagai pembaca bisa mendapat sedikit ilmu tentang kelainan mental apa yang dialami penulis, apa penyebabnya, dan bagaimana mengatasinya. Kadang aku merasa pernah mengalami kondisi yang sama, tapi lebih banyak aku merasa kayak, "Kok si penulis bisa mikir gitu sih?" Tapi karena aku tahu bahwa penyakit hanya bisa didiagnosa dan disembuhkan oleh ahlinya, maka aku tidak ingin mendiagnosa diri sendiri dari tulisan yang aku baca. Kalimat dari si Psikiater di halaman 152 menurut aku sesuai dengan pernyataanku ini.

"Itu karena anda baru saja mendengar penjelasan tentang hal itu maka anda merasa sepertinya hal itu cocok dengan gejala yang anda rasakan. Itu adalah salah satu jenis delusi."

Karena buku ini belum selesai dan aku belum membaca bagian keduanya, aku juga tidak tahu bagaimana harusnya aku menyelesaikan tulisan ini. Tapi yang aku dapatkan dari buku ini yaitu... bahwa sesuatu yang sederhana seperti makan Tteokpokki bisa jadi alasan penting untuk terus hidup. Tentu aku punya alasan untuk hidup selain ingin makan seblak, dan aku bersyukur karena aku punya banyak alasan. Aku ingin hidup lebih lama bersama keluarga, aku ingin bekerja bersama teman-temanku, aku ingin bertemu lagi dengan teman-teman lamaku setelah pandemi usai, aku ingin menemukan teman hidup, aku ingin membaca lebih banyak buku, aku ingin pergi ke tempat baru! Edinburgh! Aku tidak tahu alasan apa yang dimiliki orang lain, tapi aku harap kamu bisa berbahagia menjalani hidup.

"Tidak apa, orang yang tidak memiliki bayangan tidak bisa memahami cahaya."

Akhirnya, kalimat di bagian penutup buku ini adalah kalimat yang benar-benar menyentuhku. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan, tapi aku paham dengan kalimat di atas. Dan ajaibnya, aku merasa lebih baik. Buku ini, bukan hanya untuk penulis (halaman 190, paragraf terakhir), tapi juga untuk aku; berisi harapan. Dan seperti apa yang aku baca dari artikel Greater Good ;

“If you lose hope, somehow you lose the vitality that keeps moving, you lose that courage to be, that quality that helps you go on in spite of it all.”―Dr. Martin Luther King Jr.

("Jika Anda kehilangan harapan, entah bagaimana Anda kehilangan vitalitas untuk terus bergerak, Anda kehilangan keberanian, kualitas yang membantu Anda melanjutkan terlepas dari itu semua." Dr. Martin Luther King Jr.)

selama harapan masih ada, maka aku masih bisa melanjutkan hidup. Dan harapan tidak cukup tanpa keberanian.