Uap yang
mengepul dari gelas di hadapanku mulai menghilang. Hampir tiga puluh menit aku
menanti di tempat ini, untuk seseorang yang bahkan tak ku ketahui rupanya. Modalku
hanyalah sebuah nama, Ridwan, yang tak sengaja terucap dari mulut Ayah saat
bertengkar dengan Ibu dua hari yang lalu. Tapi sepertinya sekarang aku tak bisa
menyebutnya Ayah lagi, karena nyatanya ia bukan Ayah kandungku.
Tampilkan postingan dengan label #15HariNgeblogFF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #15HariNgeblogFF. Tampilkan semua postingan
Selasa, 31 Januari 2012
Kamis, 26 Januari 2012
15 Hari Ngeblog FF?
Huaaaaaaaaaaaaa!!!!!! *gayagayahisterisalaABG* Akhirnya udah 15 hari! T - T Masmo! Mbak Unge! Tanggung jawab! Baru kali ini saya nulisnya tiap hari loh! (Hari ini mosting tiga kali malah kalo ditambah ini) :))
Jadi, patutlah kita-kita yang ikutan proyek ini berterima kasih pada dua admin yang katanya kece ini. *plak*
Label:
#15HariNgeblogFF,
Saya dan dunia. :D
Menikahlah denganku...
"Kau... menipuku..."
Aku menatap gadis di depanku ini dengan bingung? Menipu? Apa maksudnya?
"Kenapa... Kau pikir hal seperti ini lucu, begitu? Kau pikir mempermainkan perasaan orang lain itu menyenangkan? Kau hebat, Jeremy. Sangat hebat..." lanjutnya lagi dengan nada sinis lalu berusaha untuk melepaskan genggamanku di tangannya dan hendak pergi dari tempat ini, tapi aku semakin mengeratkan genggamanku sehingga ia tak bisa pergi dari sini.
"Sepertinya kau salah paham, Grace..." kataku mencoba tenang.
"Salah paham? Salah paham apa lagi, Jer? Semuanya sudah jelas! Kau meneleponku pagi-pagi dan bicara tentang pernikahan. Lalu akhirnya apa? Ternyata yang menikah bukan kau, tapi saudara kembarmu. Apa-apaan ini?" dengan tatapan tak percaya, Grace mulai menyerangku lagi dengan asumsinya yang sudah jelas keliru. Ya, aku memang meneleponnya pagi ini karena Johan, saudara kembarku, memintaku untuk memberitahu Grace tentang pernikahannya hari ini. Memaksa sebenarnya, karena ia tahu bahwa aku dan Grace sedang saling tidak bicara setelah kejadian Grace yang menolak cintaku. Salahku juga mungkin karena terlalu gugup saat mendengar kata 'Halo...' darinya dan hanya bisa merespon dengan kalimat 'Itu... Pernikahan...'
Ya, sepertinya ini memang salahku.
Sah!
“Jujur dengan perasaan kita lebih baik. Kalau cinta, katakan saja terus
terang…”
Grace berlari
tergesa-gesa keluar rumahnya. Dengan tidak sabaran ia menyalakan mesin mobil lalu
melaju dengan kecepatan tinggi ke sebuah tempat. Masa bodoh dengan rambu lalu
lintas sekarang, yang harus ia lakukan adalah secepatnya menyadarkan pria bodoh
yang mungkin saat ini sudah memasangkan cincin ke jari gadis lain, tanpa tahu
bahwa sebenarnya gadis yang lebih bodoh ini juga mencintainya.
Rabu, 25 Januari 2012
Ini bukan judul terakhir
Jemariku menari
dengan lincah di atas piano yang kumainkan. ‘Melodies of the wind’, begitulah
lagu ini kami namakan. Kami, aku dan Alena. Judul lagu yang pertama sekaligus terakhir
yang sempat kami ciptakan bersama-sama.
Alena adalah gadis yang periang. Pertemuan
kami berawal dari orang tua Alena yang memintaku untuk menjadi guru les piano
untuk Alena. Pembawaan Alena yang menyenangkan dan suka bercanda membuat kami
cepat akrab. Terlalu akrab sampai akhirnya membuatku melakukan sebuah
kesalahan. Menjadikannya kekasih.
Selasa, 24 Januari 2012
Kalau Odol lagi Jatuh Cinta
“Dinoooo…!”
Seorang
gadis berseragam putih abu-abu, berdiri di depan pintu kamar abangnya dengan
muka ditekuk. Dengan kasar ia melempar odol yang sedari tadi digenggamnya
erat-erat ke wajah abangnya.
“Kenapa sih,
Mimi? Pakai acara lempar-lempar odol segala. Kan sakit…” protes Dino, abangnya,
sambil mengusap wajahnya. Namun ternyata Mimi belum berhenti sampai
di situ. Secara tiba-tiba ia menarik majalah olah raga yang baru dibaca
setengah oleh abangnya.
“Sikat gigi
sana! Malu tahu diledek sama teman-teman. Masa punya abang malas sikat gigi?!”
teriak Mimi dengan tampang jijik.
Ya, Dino,
abangnya ini, memang malas sikat gigi. Terakhir kali ia sikat gigi saja ia
sudah lupa. Jelas saja Mimi diledek habis-habisan sama temannya.
“Ayo sikat
gigi! Nanti kuman-kumannya bersarang di mulut bla bla bla…” kata Mimi lagi
menirukan salah satu iklan yang pernah dilihatnya.
“Males, Mi. Lagian
ga ngaruh juga…” jawab abangnya enteng.
“Eh? Kenapa?”
“Kan odolnya
lagi jatuh cinta sama kuman-kuman di mulut abang. Jadinya dia ga tega ngebasmi
kumannya…”
Dan kali ini
bukan odol saja yang mengenai wajah Dino, tapi guling, majalah, dan
barang-barang lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.
(Note : FF tergaje yang pernah saya bikin -_- )
Minggu, 22 Januari 2012
Merindukanmu itu seru!
Aku memandang deretan foto yang terdapat dalam folder berjudul 'On Vacation' di laptopku. Wajah-wajah gembira, melongo karena belum siap di foto, kepolosan anak pribumi yang berseru keheranan saat melihat wajah asing yang tak pernah mereka lihat, atau cuma memperlihatkan indahnya laut dan pulau. Sudah setahun lebih ternyata.
Label:
#15HariNgeblogFF,
FlashFict,
Jalan-jalan,
Saya dan dunia. :D,
Tobelo
Tentangmu yang Selalu Manis
“Ini apa?”
Kau terkejut saat melihat semua koleksi
lukisan yang akan kupamerkan di pameran lukisan pertamaku.
“Ehh? Lukisan tentu saja…” aku,
gugup secara total mencoba untuk tidak menatapmu dan mulai mengusap-usap
hidungku. Kebiasaan yang kulakukan bila aku sedang gugup.
“Lalu kenapa semuanya wajahku?”
Nah loh! Tentu saja ia akan
bertanya seperti ini.
“Karena tema pamerannya kan
memang seperti itu. Kau belum membacanya ya?” kataku lagi sambil menunjuk
brosur pameran yang sudah kuberikan padanya sejak dua hari yang lalu. Sedangkan
pameran itu sendiri akan diadakan seminggu lagi.
“Tentu saja aku sudah membacanya.
Temanya kan ‘Tentangmu yang Selalu Manis’…” protesmu lalu akhirnya tersenyum
mengerti.
Ya, ini semua tentangmu.
Tentangmu yang selalu manis. Yang selamanya akan selalu begitu.
Sabtu, 21 Januari 2012
Senyum Untukmu yang Lucu
21 Januari 2012,
Dear... Kamu,
Kalimat apa yang bisa menggambarkan diriku tadi? Troli pengangkut barang? Atau mungkin truk saja sekalian? Karena toh, seperti benda pengangkut di atas aku tak bisa protes saat membawa barang yang kamu biarkan begitu saja di atas mejamu saat kau berlari pulang. Tapi kurasa istilah-istilah di atas tak akan kugunakan karena bagaimanapun aku tulus melakukan ini semua. Kalau menggunakannya malah terkesan mengeluh, ya?
Jumat, 20 Januari 2012
Inilah aku, tanpamu...
Kenapa tak membalas sms?
Aku menatap sebaris sms yang masuk di inboxku. Merasa tak bergairah untuk membalas karena sebuah hal. Ya, karena kamu.
Aku mengarahkan pandanganku ke arah setoples biskuit coklat. Mencoba melupakan kesulitan yang kurasakan tanpamu dengan mengemil. Tapi aku tak bisa. Ya, itu semua karena kamu.
Lalu aku mengalihkan perhatianku pada halaman situs pertemanan yang baru bisa kubuka setelah pulang. Menyesal karena melewatkan beberapa comment dan juga ajakan teman-teman yang sudah terlewat beberapa jam yang lalu. Hal-hal yang terjadi karena aku rasanya tak bisa melakukan apa-apa tanpamu.
Lalu nada dering handphoneku berbunyi. Sebuah suara di seberang sana menggerutu karena aku tak memberi kabar sama sekali seharian ini. Tak membalas sms, tak menelepon, dan alasan lainnya.
Itu karena kamu!
Karena aku tak punya kamu!
Ya... Inilah aku, tanpamu... PULSA.
Aku menatap sebaris sms yang masuk di inboxku. Merasa tak bergairah untuk membalas karena sebuah hal. Ya, karena kamu.
Aku mengarahkan pandanganku ke arah setoples biskuit coklat. Mencoba melupakan kesulitan yang kurasakan tanpamu dengan mengemil. Tapi aku tak bisa. Ya, itu semua karena kamu.
Lalu aku mengalihkan perhatianku pada halaman situs pertemanan yang baru bisa kubuka setelah pulang. Menyesal karena melewatkan beberapa comment dan juga ajakan teman-teman yang sudah terlewat beberapa jam yang lalu. Hal-hal yang terjadi karena aku rasanya tak bisa melakukan apa-apa tanpamu.
Lalu nada dering handphoneku berbunyi. Sebuah suara di seberang sana menggerutu karena aku tak memberi kabar sama sekali seharian ini. Tak membalas sms, tak menelepon, dan alasan lainnya.
Itu karena kamu!
Karena aku tak punya kamu!
Ya... Inilah aku, tanpamu... PULSA.
Label:
#15HariNgeblogFF,
FlashFict,
Komedi,
Saya dan dunia. :D
Rabu, 18 Januari 2012
Aku Benci Kamu Hari Ini
“Aku benci kamu hari ini!”
Sebuah teriakan terdengar di
dalam café,membuat perhatian para pengunjung teralih ke meja tempat kejadian
tersebut berlangsung. Seorang gadis berseragam SMA berdiri di depan sebuah meja
yang diduduki oleh seorang pria yang baru saja akan meneguk kopi yang
dipesannya.
“Aku benci kamu hari ini!” gadis
itu berteriak lagi. Para pengunjung café semakin tertarik pada konflik
tersebut. Dengan penasaran mereka menanti ekspresi si pria terhadap gadis itu. Tapi
pria itu tak bergeming. Dengan acuh ia berdiri lalu melewati gadis itu dan
menuju kasir.
Sebenarnya apa yang terjadi? Mari
mundur ke 15 menit yang lalu.
Sepucuk surat (bukan) dariku
Aku sedang sibuk di dapur ketika Rony datang. Kuabaikan klakson mobil Rony yang berbunyi beberapa kali untuk dibukakan pintu. Toh dia punya kunci sendiri.
"Kok pintunya tak dibukakan?" katanya dengan nada kesal yang dibuat-buat, tapi lagi-lagi aku lebih memilih menekuni masakan yang berada di depanku.
Lalu tiba-tiba Ia memelukku dari belakang. Kurasakan kedua tangannya mendekap erat pinggangku dan hembusan nafasnya yang menyapu rambutku. Sangat menyenangkan rasanya disayangi seperti ini. Rony memang semakin perhatian sejak kami menikah setahun yang lalu.
"Terima kasih, sayang. Suratnya sudah aku baca..." ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Surat?"
"Ya. Ini..." katanya lagi sambil menunjukkan sebuah amplop putih tanpa nama pengirim. Hanya tertulis 'Untuk Rony yang kusayangi...'
"Aku bahagia sekali. Akhirnya kita dikaruniai seorang anak. Tuhan sudah menjawab doa kita."
"I... Itu..."
"Awalnya kukira kau hanya ingin menjahiliku dengan mengirim surat yang hanya bertuliskan 'aku hamil!' tapi tak tahunya di dalam amplop masih ada ini..." katanya lagi sambil menunjukkan sebuah test pack. Positif.
Dan Ronypun meninggalkanku yang berdiri terdiam, terlanjur gembira dengan kenyataan bahwa Ia telah menjadi Ayah walau nyatanya yang mengandung anak itu, wanita itu dan pengirim surat itu... bukan aku.
"Kok pintunya tak dibukakan?" katanya dengan nada kesal yang dibuat-buat, tapi lagi-lagi aku lebih memilih menekuni masakan yang berada di depanku.
Lalu tiba-tiba Ia memelukku dari belakang. Kurasakan kedua tangannya mendekap erat pinggangku dan hembusan nafasnya yang menyapu rambutku. Sangat menyenangkan rasanya disayangi seperti ini. Rony memang semakin perhatian sejak kami menikah setahun yang lalu.
"Terima kasih, sayang. Suratnya sudah aku baca..." ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Surat?"
"Ya. Ini..." katanya lagi sambil menunjukkan sebuah amplop putih tanpa nama pengirim. Hanya tertulis 'Untuk Rony yang kusayangi...'
"Aku bahagia sekali. Akhirnya kita dikaruniai seorang anak. Tuhan sudah menjawab doa kita."
"I... Itu..."
"Awalnya kukira kau hanya ingin menjahiliku dengan mengirim surat yang hanya bertuliskan 'aku hamil!' tapi tak tahunya di dalam amplop masih ada ini..." katanya lagi sambil menunjukkan sebuah test pack. Positif.
Dan Ronypun meninggalkanku yang berdiri terdiam, terlanjur gembira dengan kenyataan bahwa Ia telah menjadi Ayah walau nyatanya yang mengandung anak itu, wanita itu dan pengirim surat itu... bukan aku.
Senin, 16 Januari 2012
Ada dia di matamu...
“Aku tak bisa membaca matamu, itu
kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Ingin kukatakan bahwa cinta itu tidak
buta, cinta itu tidak menyesatkan, tapi nyatanya aku tersesat…”
Rin menatap status di salah situs
pertemanan yang baru saja muncul di layar handphonenya. Sebaris kalimat yang
biasa, hanya menulis tentang sebuah nama tempat. Tapi sosok yang menulisnya lah
yang tidak biasa. Seorang pria, yang pernah dijulukinya sebagai ‘Si Manis’ tapi
akhirnya dibencinya karena perbuatan pria itu.
Berawal dari sebuah perkenalan
pada umumnya, tak ada yang istimewa sebenarnya. Sampai akhirnya Rin sadar ada
sesuatu yang lebih. Hatinya tak dapat berbohong.
“Be mine?”
Sebaris kalimat yang sempat
terucap dari pria itu kembali terngiang. Dan mau tak mau ingatan itu muncul
lagi dalam pikirannya, membuat kedua matanya terpejam, lalu mengingat kepingan
peristiwa yang dulu sempat ingin dibuangnya jauh-jauh. Tapi nyatanya Ia tak
bisa.
“Tapi kenapa?” Rin, menatap lurus ke arah kedua mata pria itu. Tak
bisa terbaca.
“Entahlah…” jawab pria itu penuh misteri.
Ya, entahlah. Semua dimulai
dengan kata itu. Sebuah harapan, lalu rasa rindu, dan akhirnya sepi.
Rin menatap status itu lagi, dan
akhirnya tersenyum. Dan Ia tahu senyum kali ini bukanlah senyuman pahit. Sesuatu
yang terjadi antara mereka, bahkan sebenarnya belum dimulai sama sekali, adalah
sebuah pelajaran. Cinta, genggaman tangan, bahkan bayangan yang ada di kedua
mata pria itu bukanlah miliknya. Karena…
“Karena hanya ada dia di matamu, kan?”
Rin berujar pada udara kosong di depannya, dan membiarkan kata-kata itu terbawa
oleh angin, lalu akhirnya menghilang.
“… nyatanya aku tersesat. Ya, aku
sempat. Tapi apakah kau tahu? Ternyata aku masih bisa menemukan jalanku lagi
dan tersenyum. Karena cinta yang sebenarnya telah memanggilku, dan cinta itu
bukan kau.”
Jadilah milikku, mau?
"Jadilah milikku, mau?"
Aku menatap pria yang entah sejak
kapan berdiri di depanku dengan mata dan bibir yang sama-sama membulat karena
kaget. Ia memakai kaus dan celana kain dengan warna yang senada yaitu warna
putih, lalu menatapku sambil tersenyum.
"Eh?"
"Jadilah milikku, mau?"
katanya lagi kali ini dengan posisi yang berbeda. Berlutut sambil mengulurkan
tangan kanannya.
Sebuah pagi di hari libur,
setelah mengecek kulkas yang kosong melompong aku memutuskan untuk membeli nasi
bungkus di warung dekat rumah. Rasanya ingin cepat pulang saat si bibi penjual
makanan memberikan bungkusan plastik itu padaku. Tapi niatku terhalang karena
kemunculan pria ini.
"Tidak, terima kasih."
Aku pun mempercepat langkahku
agar cepat sampai ke rumah. Nasi bungkus yang kubeli tadi sudah mendesak-desak
untuk kumakan. Tapi pria itu tetap tidak mau menyerah. Ia menghalangi jalanku
dengan kedua tangannya lalu berteriak, "Jadilah milikku! Mau?!"
"Sudah kubilang tidak mau!
Lagipula kau ini siapa sih?"
Suara ambulans terdengar. "Ahh!
Itu dia!" beberapa orang berseragam putih turun dari ambulans lalu
menyeret pria tadi. Kupandangi tulisan yang tertera di salah satu sisi mobil
'Rumah Sakit Jiwa XXX'. Astaga!
"Maaf ya, mbak. Dia ini
memang seperti itu. Gagal menikah terus jadi gila. Untung mbak tidak
diapa-apakan. Ya sudah, mbak. Permisi..." kata salah satu perawat lalu
bergegas masuk ke dalam ambulans. Meninggalkan aku yang hanya bisa melongo
karena hal aneh yang baru saja terjadi.
Dan teriakan pria itu masih
terdengar walau pintu ambulans sudah tertutup, "Jadilah milikku...
Milikku! Mau?!"
Sabtu, 14 Januari 2012
AKU MAUNYA KAMU TITIK!
Laut yang biru menyambut kami. Ombak
yang terbawa sampai ke pantai membasahi kedua kakiku. Sejuk sekali rasanya. Ahh…
Aku sangat suka laut.
“Kau bahagia?” tanyanya sambil
tersenyum padaku. Tangannya sedari tadi tak mau melepas genggamannya pada
tanganku. Jemari kami saling bertaut, layaknya pasangan pada umumnya yang
sedang jatuh cinta.
“Tentu saja,” jawabku dan
membalas senyumannya. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia. Pergi ke tempat
kesukaanku, bersama orang yang kusukai pula. Sempurna!
“Tapi aku tak bisa terus
bersamamu. Aku harus pergi.” Ia berkata lirih lalu memandangku sedih. Matanya berkaca-kaca
saat mengatakan hal tersebut.
“Kenapa? Aku salah apa?”
“Kamu tak salah apa-apa. Ini sepenuhnya
salahku.”
Air mata perlahan menetes di
kedua pipiku. Kenapa semuanya harus berakhir secepat ini? Padahal kami baru
saja memulai. Aku benar-benar tidak rela.
“Kurasa ini adalah pertemuan
terakhir kita,” lanjutnya lagi. Dengan enggan Ia melepas jemari kami yang
saling bertaut. “Kamu pasti bisa bahagia dengan pria lain…” katanya lagi
sebelum berbalik meninggalkanku.
“Tapi… Tapi… AKU MAUNYA KAMU! TITIK!”
Aku berdiri dan tiba-tiba sadar. Aku
ada di kelas, ternyata tadi cuma mimpi. OH-MY-GOD.
“Kenapa kamu teriak-teriak? Mau saya
usir?” tegur dosen yang sedang mengajar di mata kuliah ini.
Dan aku hanya tertawa cengengesan
lalu menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. “Tidak, Pak.”
“Ya sudah. Duduk!” perintahnya
galak. Dan tak perlu hitung sampai tiga aku sudah duduk lagi ke kursiku.
“Aku maunya kamu… Titik…” bisik
teman sekelasku yang duduk di belakang lalu tertawa cekikikan.
Hahaha… Rasanya aku ingin
sembunyi dalam gua sekarang.
Label:
#15HariNgeblogFF,
Cinta,
FlashFict,
Komedi
Kamu manis, kataku...
"Hei, boleh duduk di
sini?"
Suara seorang pria mengagetkanku.
Dengan cepat aku menyeka air mata yang masih menggantung di pelupuk mata lalu
mengangkat kepala. Aku mencoba melihat siapa yang menyapa, tapi wajahnya silau
terhalang cahaya matahari.
"Boleh..." kataku
sambil bergeser untuk memberinya tempat di sebelahku.
"Terima kasih." katanya
pendek. Ia lalu duduk di sampingku dalam diam. Kedua tangannya diletakkan di
samping tubuhnya dan bertumpu pada bangku yang kami duduki. Ia bukan tipikal
orang yang bisa diam sepertinya. Sedari tadi Ia sering mengayunkan kakinya dan
mengetuk-ngetukkan jari-jari tangannya pada bangku, menimbulkan kegaduhan yang
jujur saja sangat mengganggu.
“Bisa diam sedikit?”
“Hah?” Ia menolehkan kepalanya
padaku sambil mencabut headset yang menancap di telinganya. Ahh… pantas saja.
“Tidak, lupakan saja.”
Kami kembali sibuk dengan dunia
kami masing-masing. Tapi itu tak berlangsung lama karena pria itu lagi-lagi
menimbulkan bunyi berisik saat membuka bungkusan plastik yang dibawanya. Es
krim?
"Kamu mau?"
Sejenak aku menatapnya dengan
bingung. Siapa orang ini? Tiba-tiba datang lalu meminta untuk duduk di
sampingku, dan sekarang malah menawarkan es krim. Kutolehkan kepalaku ke kanan dan kiri. Bangku
di sebelahku kosong, kenapa orang ini memilih duduk di sebelahku?
“Apa aku mengenalmu?” tanyaku
curiga.
“Tidak.”
“Lalu? Kenapa kamu bisa bersikap
sok akrab seperti ini padaku?”
“Suka saja. Es krim? Tapi makan sisi
yang coklat saja. Yang Strawberry punyaku,” katanya lagi sambil menunjuk batas
yang menunjukkan jatah es krim ku dan miliknya.
Satu kotak besar es krim, dengan
dua rasa dan dua sendok, sungguh sesuatu yang tidak wajar. Tapi aku seakan lupa
nasehat Ibu untuk berhati-hati pada orang asing. Entah kenapa tapi aku merasa
nyaman di sampingnya. Aku malah menerima tawarannya untuk berbagi headset. Dan
kami berdua pun menyendok es krim yang menjadi jatah masing-masing sambil mendengarkan
lagu yang mengalun.
“Ternyata begitu…” kataku
tiba-tiba.
“Apanya?”
“Jatuh cinta. Seperti lirik lagu
yang tadi, jatuh cinta itu biasa saja…” sambungku lagi sambil menyenandungkan salah
satu kalimat dari lagu yang tadi kami dengar.
“Ohh, ya. Kalau begitu cepatlah
jatuh cinta padaku.”
“Eh?”
Ia tersenyum lebar sampai gusinya
terlihat lalu berkata lagi, “Kan jatuh cinta itu biasa saja. Nanti kalau sakit hatimu sudah hilang, kau jatuh
cinta padaku saja, ya?” dan aku hanya bisa terbengong-bengong dibuatnya.
“Ya sudah. Aku pulang… jangan
lupa untuk jatuh cinta padaku, ya?” katanya sambil bangkit berdiri lalu
mengulurkan jari kelingkingnya padaku. “Ya?”
Dan aku tertawa. Entah terhipnotis
atau apa, aku menjulurkan jari kelingking dan menjawab, “Ya.”
Lalu Ia pun melambaikan tangannya
sambil tertawa lagi dan berlari meninggalkanku. Sayup-sayup aku masih mendengar
sorakannya dan mendadak tersenyum. Patah hati lalu jatuh cinta, apakah ini bisa
terjadi hanya dalam hitungan jam? Walau semua masih tanda tanya, tapi kurasa
itu mungkin saja terjadi, karena kamu manis. Karena kamu manis, kataku.
Kamis, 12 Januari 2012
Dag Dig Dug!
Dua insan berlainan jenis itu
terdiam. Hanya dua cangkir kopi yang sejak lima menit yang lalu beradu dengan
alasnya. Saling menatap juga seakan ditabukan bagi kedua manusia yang sedang
sibuk menahan debarannya masing-masing ini dan memilih meredamnya dalam
secangkir kopi. Sebuah kedai kopi yang hanya diisi pengunjung serta pegawai yang
berjumlah tak sampai sepuluh orang memberikan suasana yang agak hening bagi
mereka berdua. Ya, suasana yang cukup hening sehingga mereka mungkin bisa
mendengar debaran jantung mereka sendiri.
"Kau..." si pria
memilih untuk mengakhiri kebisuan yang terjadi sejak tiga puluh menit yang
lalu.
"Ya?"
Tindakan wanita itu yang menyela
kalimatnya membuatnya memilih untuk diam lagi. Dan lagi-lagi dua cangkir kopi
di depan mereka lah yang terlihat lebih ‘hidup’.
"Kau tak jadi menikah?"
Akhirnya pertanyaan itu muncul
juga. Genggaman pria itu pada cangkir kopi yang baru saja akan diminumnya
terlihat menguat. Semuanya harus diutarakan, sebelum acara makan siang ini berubah
menjadi makan sore.
"Kalau aku menikah, mana
mungkin aku mendaftar ke biro jodoh?"
Kini giliran wanita itu yang
terlihat tegang. Rasa marah, rindu dan bingung bercampur dalam tatapan matanya
untuk pria itu.
"Jadi apa kesibukanmu
sekarang?" tanya pria itu lagi.
"Kurasa kau tak perlu menanyakannya.
Kita sama-sama tahu kan profesi pengacara itu seperti apa."
Nada sinis yang muncul dari
ucapan wanita itu membuat si pria sadar bahwa rasa benci itu belum memudar. Secara
sembunyi-sembunyi Ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dari kantongnya.
Kotak yang sampai sekarang belum dibuka oleh sang penerima hadiah karena memang
Ia belum menerimanya sama sekali.
"Sudah kuduga kau masih
membenciku…" kata si pria tanpa mengalihkan pandangannya dari kotak itu.
"Dan itu wajar."
"Ya, aku tahu."
Dan wanita itu tak dapat lagi
menahan dirinya untuk berdiri. Diletakannya beberapa lembaran Rupiah seharga
kopi yang dipesannya tadi lalu berjalan meninggalkan pria itu. Tapi langkahnya
berhasil dijejeri oleh si pria yang kini sudah menarik tubuh wanita itu dalam
pelukannya. Mereka berpelukan cukup lama, melepas semua rasa sakit, rindu,
sayang yang dulu sempat terjamah oleh kata penghianatan. Ya, penghianatan yang
direkayasa oleh pria itu untuk memberi kejutan sebelum melamar si wanita. Yang
akhirnya malah membuat hubungan mereka retak.
Tapi kini semuanya akan mereka
mulai dari awal lagi, saat si pria berlutut sambil memberikan sekotak cincin
pada wanita itu dan berkata, “Dari awal memang hanya ada kau, tak pernah ada
yang lain.”
“Tapi wanita itu?”
“Semuanya bisa kujelaskan.”
Dan sebegitu mudahnya wanita itu
memaafkan si pria, memeluk dan berkata “Iya” sambil merasakan degupan jantung
mereka yang bersahut-sahutan dalam rongga dada masing-masing. Lalu mereka tersenyum,
tak menghiraukan tatapan sakit dari wanita lain yang menatap mereka dari sudut
kedai kopi. Wanita yang dulu pernah dimintai tolong untuk menjadi bagian dari
sandiwara acara lamaran si pria. Wanita yang entah bodoh atau apa, merancang
pertemuan yang terjadi siang ini tanpa diketahui oleh dua orang yang sedang
larut dalam dunia mereka sendiri. Wanita yang tak pernah membiarkan pria itu
tahu bahwa Ia memendam rasa cinta pada pria itu. Wanita itu, Aku.
Dan ‘Dag dig dug’ yang kurasakan
sejak satu jam yang lalu kini berubah menjadi rasa sakit.
Halo, siapa namamu?
Pintu besi itu terbuka lagi.
Jean sedikit memanjangkan lehernya untuk melihat sosok yang
keluar dari pintu dan lagi-lagi Ia harus memasang wajah kesal.
"Kenapa?" tanya Silvi yang duduk di sebelah Jean.
"Bukan dia."
"Dia siapa?"
Jean lebih memilih tak menanggapi pertanyaan Silvi yang
terakhir. Bukan karena Ia malas menjawab hanya saja Ia memang tidak tahu siapa
nama pria yang dinantinya. Yang Ia ketahui dari pria itu hanyalah kenyataan
bahwa pria itu menarik dalam usianya yang berkisar di angka tiga puluh dan ada
aroma manis roti yang pekat dari tubuhnya setiap kali pria itu lewat. Ya,
mereka memang sedang bersantai di sebuah toko roti. Lebih tepatnya Silvi lah
yang sedang bersantai. Sedangkan Jean? Tentu saja sibuk menanti
pria-beraroma-roti tadi. Sudah minggu kedua sejak Jean mulai memperhatikan pria
itu namun sampai sekarang Ia belum bisa mengorek identitasnya. Tak jarang
timbul niat untuk nekat berteriak, "Halo, siapa namamu?!" tapi
bayangan mobil Ambulance dari Rumah Sakit Jiwa membuatnya ngeri. Namun hari ini
Jean sudah bertekad untuk menuntaskan semuanya.
Dan tiba-tiba pintu besi itu terbuka, mengeluarkan pria yang
sudah dinantikannya sejak satu setengah jam yang lalu. Pria itu berjalan dengan
langkah yang cepat sambil mengangkat sekeranjang roti tawar yang belum
dibungkus plastik. Mulutnya tak berhenti mengucap kata permisi pada orang-orang
yang berdiri menghalanginya dan tak memperhatikan tatapan sarat emosi yang
keluar dari kedua mata Jean.
Itu dia.
Jean menggeser kursinya, berjalan menuju pria itu, dan
melebarkan kedua tangan untuk menghadangnya.
"Kau siapa?" tanya pria itu kebingungan.
Salah satu sisi bibir Jean tertarik membentuk sebuah
senyuman sinis. Dengan kasar Ia melempar beberapa lembar foto yang sudah kusut.
"Kau tak harus tahu siapa aku. Yang harus kau lakukan
hanyalah menghilang dari kehidupan wanita dalam foto ini secepat
mungkin..." Jean menatap cukup lama pada pria itu lalu mengalihkan
pandangannya pada tanda pengenal di saku pria tersebut. Namanya Pramudia.
Dan Jean tidak menghiraukan Silvi yang memanggil namanya
berkali-kali saat Ia berlari keluar dari toko roti. Ia terus berlari dengan
mata tertuju pada sosok wanita berwajah keibuan pada foto di dalam dompet yang
tersenyum di sebelah ayahnya. Wanita yang sama yang berpose mesra dengan pria
bernama Pramudia di foto yang dilemparkannya tadi. Tak menyadari sebuah mobil
yang melaju cepat dan menghantam tubuhnya.
Jean memanggil nama itu lagi dan perlahan pandangannya
mengabur.
“Ibu...”
Semuanya gelap sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)