Tampilkan postingan dengan label #15HariNgeblogFF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #15HariNgeblogFF. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2012

Kopi Tubruk

Uap yang mengepul dari gelas di hadapanku mulai menghilang. Hampir tiga puluh menit aku menanti di tempat ini, untuk seseorang yang bahkan tak ku ketahui rupanya. Modalku hanyalah sebuah nama, Ridwan, yang tak sengaja terucap dari mulut Ayah saat bertengkar dengan Ibu dua hari yang lalu. Tapi sepertinya sekarang aku tak bisa menyebutnya Ayah lagi, karena nyatanya ia bukan Ayah kandungku.

Kamis, 26 Januari 2012

15 Hari Ngeblog FF?

Huaaaaaaaaaaaaa!!!!!! *gayagayahisterisalaABG* Akhirnya udah 15 hari! T - T Masmo! Mbak Unge! Tanggung jawab! Baru kali ini saya nulisnya tiap hari loh! (Hari ini mosting tiga kali malah kalo ditambah ini) :))
Jadi, patutlah kita-kita yang ikutan proyek ini berterima kasih pada dua admin yang katanya kece ini. *plak*

Menikahlah denganku...

"Kau... menipuku..."
Aku menatap gadis di depanku ini dengan bingung? Menipu? Apa maksudnya?
"Kenapa... Kau pikir hal seperti ini lucu, begitu? Kau pikir mempermainkan perasaan orang lain itu menyenangkan? Kau hebat, Jeremy. Sangat hebat..." lanjutnya lagi dengan nada sinis lalu berusaha untuk melepaskan genggamanku di tangannya dan hendak pergi dari tempat ini, tapi aku semakin mengeratkan genggamanku sehingga ia tak bisa pergi dari sini.
"Sepertinya kau salah paham, Grace..." kataku mencoba tenang.
"Salah paham? Salah paham apa lagi, Jer? Semuanya sudah jelas! Kau meneleponku pagi-pagi dan bicara tentang pernikahan. Lalu akhirnya apa? Ternyata yang menikah bukan kau, tapi saudara kembarmu. Apa-apaan ini?" dengan tatapan tak percaya, Grace mulai menyerangku lagi dengan asumsinya yang sudah jelas keliru. Ya, aku memang meneleponnya pagi ini karena Johan, saudara kembarku, memintaku untuk memberitahu Grace tentang pernikahannya hari ini. Memaksa sebenarnya, karena ia tahu bahwa aku dan Grace sedang saling tidak bicara setelah kejadian Grace yang menolak cintaku. Salahku juga mungkin karena terlalu gugup saat mendengar kata 'Halo...' darinya dan hanya bisa merespon dengan kalimat 'Itu... Pernikahan...'
Ya, sepertinya ini memang salahku.

Sah!


“Jujur dengan perasaan kita lebih baik. Kalau cinta, katakan saja terus terang…”

Grace berlari tergesa-gesa keluar rumahnya. Dengan tidak sabaran ia menyalakan mesin mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi ke sebuah tempat. Masa bodoh dengan rambu lalu lintas sekarang, yang harus ia lakukan adalah secepatnya menyadarkan pria bodoh yang mungkin saat ini sudah memasangkan cincin ke jari gadis lain, tanpa tahu bahwa sebenarnya gadis yang lebih bodoh ini juga mencintainya.

Rabu, 25 Januari 2012

Ini bukan judul terakhir


Jemariku menari dengan lincah di atas piano yang kumainkan. ‘Melodies of the wind’, begitulah lagu ini kami namakan. Kami, aku dan Alena. Judul lagu yang pertama sekaligus terakhir yang sempat kami ciptakan bersama-sama.
Alena adalah gadis yang periang. Pertemuan kami berawal dari orang tua Alena yang memintaku untuk menjadi guru les piano untuk Alena. Pembawaan Alena yang menyenangkan dan suka bercanda membuat kami cepat akrab. Terlalu akrab sampai akhirnya membuatku melakukan sebuah kesalahan. Menjadikannya kekasih.

Selasa, 24 Januari 2012

Kalau Odol lagi Jatuh Cinta


“Dinoooo…!”
Seorang gadis berseragam putih abu-abu, berdiri di depan pintu kamar abangnya dengan muka ditekuk. Dengan kasar ia melempar odol yang sedari tadi digenggamnya erat-erat ke wajah abangnya.
“Kenapa sih, Mimi? Pakai acara lempar-lempar odol segala. Kan sakit…” protes Dino, abangnya, sambil mengusap wajahnya. Namun ternyata Mimi belum berhenti sampai di situ. Secara tiba-tiba ia menarik majalah olah raga yang baru dibaca setengah oleh abangnya.
“Sikat gigi sana! Malu tahu diledek sama teman-teman. Masa punya abang malas sikat gigi?!” teriak Mimi dengan tampang jijik.
Ya, Dino, abangnya ini, memang malas sikat gigi. Terakhir kali ia sikat gigi saja ia sudah lupa. Jelas saja Mimi diledek habis-habisan sama temannya.
“Ayo sikat gigi! Nanti kuman-kumannya bersarang di mulut bla bla bla…” kata Mimi lagi menirukan salah satu iklan yang pernah dilihatnya.
“Males, Mi. Lagian ga ngaruh juga…” jawab abangnya enteng.
“Eh? Kenapa?”
“Kan odolnya lagi jatuh cinta sama kuman-kuman di mulut abang. Jadinya dia ga tega ngebasmi kumannya…”
Dan kali ini bukan odol saja yang mengenai wajah Dino, tapi guling, majalah, dan barang-barang lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.

(Note : FF tergaje yang pernah saya bikin -_- )

Minggu, 22 Januari 2012

Merindukanmu itu seru!

Aku memandang deretan foto yang terdapat dalam folder berjudul 'On Vacation' di laptopku. Wajah-wajah gembira, melongo karena belum siap di foto, kepolosan anak pribumi yang berseru keheranan saat melihat wajah asing yang tak pernah mereka lihat, atau cuma memperlihatkan indahnya laut dan pulau. Sudah setahun lebih ternyata.

Tentangmu yang Selalu Manis


“Ini apa?”
Kau terkejut saat melihat semua koleksi lukisan yang akan kupamerkan di pameran lukisan pertamaku.
“Ehh? Lukisan tentu saja…” aku, gugup secara total mencoba untuk tidak menatapmu dan mulai mengusap-usap hidungku. Kebiasaan yang kulakukan bila aku sedang gugup.
“Lalu kenapa semuanya wajahku?”
Nah loh! Tentu saja ia akan bertanya seperti ini.
“Karena tema pamerannya kan memang seperti itu. Kau belum membacanya ya?” kataku lagi sambil menunjuk brosur pameran yang sudah kuberikan padanya sejak dua hari yang lalu. Sedangkan pameran itu sendiri akan diadakan seminggu lagi.
“Tentu saja aku sudah membacanya. Temanya kan ‘Tentangmu yang Selalu Manis’…” protesmu lalu akhirnya tersenyum mengerti.
Ya, ini semua tentangmu. Tentangmu yang selalu manis. Yang selamanya akan selalu begitu.

Sabtu, 21 Januari 2012

Senyum Untukmu yang Lucu

21 Januari 2012,

Dear... Kamu,

Kalimat apa yang bisa menggambarkan diriku tadi? Troli pengangkut barang? Atau mungkin truk saja sekalian? Karena toh, seperti benda pengangkut di atas aku tak bisa protes saat membawa barang yang kamu biarkan begitu saja di atas mejamu saat kau berlari pulang. Tapi kurasa istilah-istilah di atas tak akan kugunakan karena bagaimanapun aku tulus melakukan ini semua. Kalau menggunakannya malah terkesan mengeluh, ya?

Jumat, 20 Januari 2012

Inilah aku, tanpamu...

Kenapa tak membalas sms?
Aku menatap sebaris sms yang masuk di inboxku. Merasa tak bergairah untuk membalas karena sebuah hal. Ya, karena kamu.

Aku mengarahkan pandanganku ke arah setoples biskuit coklat. Mencoba melupakan kesulitan yang kurasakan tanpamu dengan mengemil. Tapi aku tak bisa. Ya, itu semua karena kamu.

Lalu aku mengalihkan perhatianku pada halaman situs pertemanan yang baru bisa kubuka setelah pulang. Menyesal karena melewatkan beberapa comment dan juga ajakan teman-teman yang sudah terlewat beberapa jam yang lalu. Hal-hal yang terjadi karena aku rasanya tak bisa melakukan apa-apa tanpamu.

Lalu nada dering handphoneku berbunyi. Sebuah suara di seberang sana menggerutu karena aku tak memberi kabar sama sekali seharian ini. Tak membalas sms, tak menelepon, dan alasan lainnya.

Itu karena kamu!
Karena aku tak punya kamu!

Ya... Inilah aku, tanpamu... PULSA.

Rabu, 18 Januari 2012

Aku Benci Kamu Hari Ini


“Aku benci kamu hari ini!”
Sebuah teriakan terdengar di dalam café,membuat perhatian para pengunjung teralih ke meja tempat kejadian tersebut berlangsung. Seorang gadis berseragam SMA berdiri di depan sebuah meja yang diduduki oleh seorang pria yang baru saja akan meneguk kopi yang dipesannya.
“Aku benci kamu hari ini!” gadis itu berteriak lagi. Para pengunjung café semakin tertarik pada konflik tersebut. Dengan penasaran mereka menanti ekspresi si pria terhadap gadis itu. Tapi pria itu tak bergeming. Dengan acuh ia berdiri lalu melewati gadis itu dan menuju kasir.
Sebenarnya apa yang terjadi? Mari mundur ke 15 menit yang lalu.

Sepucuk surat (bukan) dariku

Aku sedang sibuk di dapur ketika Rony datang. Kuabaikan klakson mobil Rony yang berbunyi beberapa kali untuk dibukakan pintu. Toh dia punya kunci sendiri.
"Kok pintunya tak dibukakan?" katanya dengan nada kesal yang dibuat-buat, tapi lagi-lagi aku lebih memilih menekuni masakan yang berada di depanku.
Lalu tiba-tiba Ia memelukku dari belakang. Kurasakan kedua tangannya mendekap erat pinggangku dan hembusan nafasnya yang menyapu rambutku. Sangat menyenangkan rasanya disayangi seperti ini. Rony memang semakin perhatian sejak kami menikah setahun yang lalu.
"Terima kasih, sayang. Suratnya sudah aku baca..." ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Surat?"
"Ya. Ini..." katanya lagi sambil menunjukkan sebuah amplop putih tanpa nama pengirim. Hanya tertulis 'Untuk Rony yang kusayangi...'
"Aku bahagia sekali. Akhirnya kita dikaruniai seorang anak. Tuhan sudah menjawab doa kita."
"I... Itu..."
"Awalnya kukira kau hanya ingin menjahiliku dengan mengirim surat yang hanya bertuliskan 'aku hamil!' tapi tak tahunya di dalam amplop masih ada ini..." katanya lagi sambil menunjukkan sebuah test pack. Positif.
Dan Ronypun meninggalkanku yang berdiri terdiam, terlanjur gembira dengan kenyataan bahwa Ia telah menjadi Ayah walau nyatanya yang mengandung anak itu, wanita itu dan pengirim surat itu... bukan aku.

Senin, 16 Januari 2012

Ada dia di matamu...


“Aku tak bisa membaca matamu, itu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Ingin kukatakan bahwa cinta itu tidak buta, cinta itu tidak menyesatkan, tapi nyatanya aku tersesat…”

Rin menatap status di salah situs pertemanan yang baru saja muncul di layar handphonenya. Sebaris kalimat yang biasa, hanya menulis tentang sebuah nama tempat. Tapi sosok yang menulisnya lah yang tidak biasa. Seorang pria, yang pernah dijulukinya sebagai ‘Si Manis’ tapi akhirnya dibencinya karena perbuatan pria itu.
Berawal dari sebuah perkenalan pada umumnya, tak ada yang istimewa sebenarnya. Sampai akhirnya Rin sadar ada sesuatu yang lebih. Hatinya tak dapat berbohong.
“Be mine?”
Sebaris kalimat yang sempat terucap dari pria itu kembali terngiang. Dan mau tak mau ingatan itu muncul lagi dalam pikirannya, membuat kedua matanya terpejam, lalu mengingat kepingan peristiwa yang dulu sempat ingin dibuangnya jauh-jauh. Tapi nyatanya Ia tak bisa.
“Tapi kenapa?” Rin, menatap lurus ke arah kedua mata pria itu. Tak bisa terbaca.
“Entahlah…” jawab pria itu penuh misteri.
Ya, entahlah. Semua dimulai dengan kata itu. Sebuah harapan, lalu rasa rindu, dan akhirnya sepi.
Rin menatap status itu lagi, dan akhirnya tersenyum. Dan Ia tahu senyum kali ini bukanlah senyuman pahit. Sesuatu yang terjadi antara mereka, bahkan sebenarnya belum dimulai sama sekali, adalah sebuah pelajaran. Cinta, genggaman tangan, bahkan bayangan yang ada di kedua mata pria itu bukanlah miliknya. Karena…
“Karena hanya ada dia di matamu, kan?” Rin berujar pada udara kosong di depannya, dan membiarkan kata-kata itu terbawa oleh angin, lalu akhirnya menghilang.

“… nyatanya aku tersesat. Ya, aku sempat. Tapi apakah kau tahu? Ternyata aku masih bisa menemukan jalanku lagi dan tersenyum. Karena cinta yang sebenarnya telah memanggilku, dan cinta itu bukan kau.”

Jadilah milikku, mau?


"Jadilah milikku, mau?"
Aku menatap pria yang entah sejak kapan berdiri di depanku dengan mata dan bibir yang sama-sama membulat karena kaget. Ia memakai kaus dan celana kain dengan warna yang senada yaitu warna putih, lalu menatapku sambil tersenyum.
"Eh?"
"Jadilah milikku, mau?" katanya lagi kali ini dengan posisi yang berbeda. Berlutut sambil mengulurkan tangan kanannya.
Sebuah pagi di hari libur, setelah mengecek kulkas yang kosong melompong aku memutuskan untuk membeli nasi bungkus di warung dekat rumah. Rasanya ingin cepat pulang saat si bibi penjual makanan memberikan bungkusan plastik itu padaku. Tapi niatku terhalang karena kemunculan pria ini.
"Tidak, terima kasih."
Aku pun mempercepat langkahku agar cepat sampai ke rumah. Nasi bungkus yang kubeli tadi sudah mendesak-desak untuk kumakan. Tapi pria itu tetap tidak mau menyerah. Ia menghalangi jalanku dengan kedua tangannya lalu berteriak, "Jadilah milikku! Mau?!"
"Sudah kubilang tidak mau! Lagipula kau ini siapa sih?"
Suara ambulans terdengar. "Ahh! Itu dia!" beberapa orang berseragam putih turun dari ambulans lalu menyeret pria tadi. Kupandangi tulisan yang tertera di salah satu sisi mobil 'Rumah Sakit Jiwa XXX'. Astaga!
"Maaf ya, mbak. Dia ini memang seperti itu. Gagal menikah terus jadi gila. Untung mbak tidak diapa-apakan. Ya sudah, mbak. Permisi..." kata salah satu perawat lalu bergegas masuk ke dalam ambulans. Meninggalkan aku yang hanya bisa melongo karena hal aneh yang baru saja terjadi.
Dan teriakan pria itu masih terdengar walau pintu ambulans sudah tertutup, "Jadilah milikku... Milikku! Mau?!"

Sabtu, 14 Januari 2012

AKU MAUNYA KAMU TITIK!


Laut yang biru menyambut kami. Ombak yang terbawa sampai ke pantai membasahi kedua kakiku. Sejuk sekali rasanya. Ahh… Aku sangat suka laut.
“Kau bahagia?” tanyanya sambil tersenyum padaku. Tangannya sedari tadi tak mau melepas genggamannya pada tanganku. Jemari kami saling bertaut, layaknya pasangan pada umumnya yang sedang jatuh cinta.
“Tentu saja,” jawabku dan membalas senyumannya. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia. Pergi ke tempat kesukaanku, bersama orang yang kusukai pula. Sempurna!
“Tapi aku tak bisa terus bersamamu. Aku harus pergi.” Ia berkata lirih lalu memandangku sedih. Matanya berkaca-kaca saat mengatakan hal tersebut.
“Kenapa? Aku salah apa?”
“Kamu tak salah apa-apa. Ini sepenuhnya salahku.”
Air mata perlahan menetes di kedua pipiku. Kenapa semuanya harus berakhir secepat ini? Padahal kami baru saja memulai. Aku benar-benar tidak rela.
“Kurasa ini adalah pertemuan terakhir kita,” lanjutnya lagi. Dengan enggan Ia melepas jemari kami yang saling bertaut. “Kamu pasti bisa bahagia dengan pria lain…” katanya lagi sebelum berbalik meninggalkanku.
“Tapi… Tapi… AKU MAUNYA KAMU! TITIK!”
Aku berdiri dan tiba-tiba sadar. Aku ada di kelas, ternyata tadi cuma mimpi. OH-MY-GOD.
“Kenapa kamu teriak-teriak? Mau saya usir?” tegur dosen yang sedang mengajar di mata kuliah ini.
Dan aku hanya tertawa cengengesan lalu menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. “Tidak, Pak.”
“Ya sudah. Duduk!” perintahnya galak. Dan tak perlu hitung sampai tiga aku sudah duduk lagi ke kursiku.
“Aku maunya kamu… Titik…” bisik teman sekelasku yang duduk di belakang lalu tertawa cekikikan.
Hahaha… Rasanya aku ingin sembunyi dalam gua sekarang.

Kamu manis, kataku...


"Hei, boleh duduk di sini?"
Suara seorang pria mengagetkanku. Dengan cepat aku menyeka air mata yang masih menggantung di pelupuk mata lalu mengangkat kepala. Aku mencoba melihat siapa yang menyapa, tapi wajahnya silau terhalang cahaya matahari.
"Boleh..." kataku sambil bergeser untuk memberinya tempat di sebelahku.
"Terima kasih." katanya pendek. Ia lalu duduk di sampingku dalam diam. Kedua tangannya diletakkan di samping tubuhnya dan bertumpu pada bangku yang kami duduki. Ia bukan tipikal orang yang bisa diam sepertinya. Sedari tadi Ia sering mengayunkan kakinya dan mengetuk-ngetukkan jari-jari tangannya pada bangku, menimbulkan kegaduhan yang jujur saja sangat mengganggu.
“Bisa diam sedikit?”
“Hah?” Ia menolehkan kepalanya padaku sambil mencabut headset yang menancap di telinganya. Ahh… pantas saja.
“Tidak, lupakan saja.”
Kami kembali sibuk dengan dunia kami masing-masing. Tapi itu tak berlangsung lama karena pria itu lagi-lagi menimbulkan bunyi berisik saat membuka bungkusan plastik yang dibawanya. Es krim?
"Kamu mau?"
Sejenak aku menatapnya dengan bingung. Siapa orang ini? Tiba-tiba datang lalu meminta untuk duduk di sampingku, dan sekarang malah menawarkan es krim.  Kutolehkan kepalaku ke kanan dan kiri. Bangku di sebelahku kosong, kenapa orang ini memilih duduk di sebelahku?
“Apa aku mengenalmu?” tanyaku curiga.
“Tidak.”
“Lalu? Kenapa kamu bisa bersikap sok akrab seperti ini padaku?”
“Suka saja. Es krim? Tapi makan sisi yang coklat saja. Yang Strawberry punyaku,” katanya lagi sambil menunjuk batas yang menunjukkan jatah es krim ku dan miliknya.
Satu kotak besar es krim, dengan dua rasa dan dua sendok, sungguh sesuatu yang tidak wajar. Tapi aku seakan lupa nasehat Ibu untuk berhati-hati pada orang asing. Entah kenapa tapi aku merasa nyaman di sampingnya. Aku malah menerima tawarannya untuk berbagi headset. Dan kami berdua pun menyendok es krim yang menjadi jatah masing-masing sambil mendengarkan lagu yang mengalun.
“Ternyata begitu…” kataku tiba-tiba.
“Apanya?”
“Jatuh cinta. Seperti lirik lagu yang tadi, jatuh cinta itu biasa saja…” sambungku lagi sambil menyenandungkan salah satu kalimat dari lagu yang tadi kami dengar.
“Ohh, ya. Kalau begitu cepatlah jatuh cinta padaku.”
“Eh?”
Ia tersenyum lebar sampai gusinya terlihat lalu berkata lagi, “Kan jatuh cinta itu biasa saja. Nanti kalau sakit hatimu sudah hilang, kau jatuh cinta padaku saja, ya?” dan aku hanya bisa terbengong-bengong dibuatnya.
“Ya sudah. Aku pulang… jangan lupa untuk jatuh cinta padaku, ya?” katanya sambil bangkit berdiri lalu mengulurkan jari kelingkingnya padaku. “Ya?”
Dan aku tertawa. Entah terhipnotis atau apa, aku menjulurkan jari kelingking dan menjawab, “Ya.”
Lalu Ia pun melambaikan tangannya sambil tertawa lagi dan berlari meninggalkanku. Sayup-sayup aku masih mendengar sorakannya dan mendadak tersenyum. Patah hati lalu jatuh cinta, apakah ini bisa terjadi hanya dalam hitungan jam? Walau semua masih tanda tanya, tapi kurasa itu mungkin saja terjadi, karena kamu manis. Karena kamu manis, kataku.

Kamis, 12 Januari 2012

Dag Dig Dug!


Dua insan berlainan jenis itu terdiam. Hanya dua cangkir kopi yang sejak lima menit yang lalu beradu dengan alasnya. Saling menatap juga seakan ditabukan bagi kedua manusia yang sedang sibuk menahan debarannya masing-masing ini dan memilih meredamnya dalam secangkir kopi. Sebuah kedai kopi yang hanya diisi pengunjung serta pegawai yang berjumlah tak sampai sepuluh orang memberikan suasana yang agak hening bagi mereka berdua. Ya, suasana yang cukup hening sehingga mereka mungkin bisa mendengar debaran jantung mereka sendiri.
"Kau..." si pria memilih untuk mengakhiri kebisuan yang terjadi sejak tiga puluh menit yang lalu.
"Ya?"
Tindakan wanita itu yang menyela kalimatnya membuatnya memilih untuk diam lagi. Dan lagi-lagi dua cangkir kopi di depan mereka lah yang terlihat lebih ‘hidup’.
"Kau tak jadi menikah?"
Akhirnya pertanyaan itu muncul juga. Genggaman pria itu pada cangkir kopi yang baru saja akan diminumnya terlihat menguat. Semuanya harus diutarakan, sebelum acara makan siang ini berubah menjadi makan sore.
"Kalau aku menikah, mana mungkin aku mendaftar ke biro jodoh?"
Kini giliran wanita itu yang terlihat tegang. Rasa marah, rindu dan bingung bercampur dalam tatapan matanya untuk pria itu.
"Jadi apa kesibukanmu sekarang?" tanya pria itu lagi.
"Kurasa kau tak perlu menanyakannya. Kita sama-sama tahu kan profesi pengacara itu seperti apa."
Nada sinis yang muncul dari ucapan wanita itu membuat si pria sadar bahwa rasa benci itu belum memudar. Secara sembunyi-sembunyi Ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dari kantongnya. Kotak yang sampai sekarang belum dibuka oleh sang penerima hadiah karena memang Ia belum menerimanya sama sekali.
"Sudah kuduga kau masih membenciku…" kata si pria tanpa mengalihkan pandangannya dari kotak itu.
"Dan itu wajar."
"Ya, aku tahu."
Dan wanita itu tak dapat lagi menahan dirinya untuk berdiri. Diletakannya beberapa lembaran Rupiah seharga kopi yang dipesannya tadi lalu berjalan meninggalkan pria itu. Tapi langkahnya berhasil dijejeri oleh si pria yang kini sudah menarik tubuh wanita itu dalam pelukannya. Mereka berpelukan cukup lama, melepas semua rasa sakit, rindu, sayang yang dulu sempat terjamah oleh kata penghianatan. Ya, penghianatan yang direkayasa oleh pria itu untuk memberi kejutan sebelum melamar si wanita. Yang akhirnya malah membuat hubungan mereka retak.
Tapi kini semuanya akan mereka mulai dari awal lagi, saat si pria berlutut sambil memberikan sekotak cincin pada wanita itu dan berkata, “Dari awal memang hanya ada kau, tak pernah ada yang lain.”
“Tapi wanita itu?”
“Semuanya bisa kujelaskan.”
Dan sebegitu mudahnya wanita itu memaafkan si pria, memeluk dan berkata “Iya” sambil merasakan degupan jantung mereka yang bersahut-sahutan dalam rongga dada masing-masing. Lalu mereka tersenyum, tak menghiraukan tatapan sakit dari wanita lain yang menatap mereka dari sudut kedai kopi. Wanita yang dulu pernah dimintai tolong untuk menjadi bagian dari sandiwara acara lamaran si pria. Wanita yang entah bodoh atau apa, merancang pertemuan yang terjadi siang ini tanpa diketahui oleh dua orang yang sedang larut dalam dunia mereka sendiri. Wanita yang tak pernah membiarkan pria itu tahu bahwa Ia memendam rasa cinta pada pria itu. Wanita itu, Aku.
Dan ‘Dag dig dug’ yang kurasakan sejak satu jam yang lalu kini berubah menjadi rasa sakit.

Halo, siapa namamu?

Pintu besi itu terbuka lagi.

Jean sedikit memanjangkan lehernya untuk melihat sosok yang keluar dari pintu dan lagi-lagi Ia harus memasang wajah kesal.

"Kenapa?" tanya Silvi yang duduk di sebelah Jean.
"Bukan dia."
"Dia siapa?"

Jean lebih memilih tak menanggapi pertanyaan Silvi yang terakhir. Bukan karena Ia malas menjawab hanya saja Ia memang tidak tahu siapa nama pria yang dinantinya. Yang Ia ketahui dari pria itu hanyalah kenyataan bahwa pria itu menarik dalam usianya yang berkisar di angka tiga puluh dan ada aroma manis roti yang pekat dari tubuhnya setiap kali pria itu lewat. Ya, mereka memang sedang bersantai di sebuah toko roti. Lebih tepatnya Silvi lah yang sedang bersantai. Sedangkan Jean? Tentu saja sibuk menanti pria-beraroma-roti tadi. Sudah minggu kedua sejak Jean mulai memperhatikan pria itu namun sampai sekarang Ia belum bisa mengorek identitasnya. Tak jarang timbul niat untuk nekat berteriak, "Halo, siapa namamu?!" tapi bayangan mobil Ambulance dari Rumah Sakit Jiwa membuatnya ngeri. Namun hari ini Jean sudah bertekad untuk menuntaskan semuanya.

Dan tiba-tiba pintu besi itu terbuka, mengeluarkan pria yang sudah dinantikannya sejak satu setengah jam yang lalu. Pria itu berjalan dengan langkah yang cepat sambil mengangkat sekeranjang roti tawar yang belum dibungkus plastik. Mulutnya tak berhenti mengucap kata permisi pada orang-orang yang berdiri menghalanginya dan tak memperhatikan tatapan sarat emosi yang keluar dari kedua mata Jean.

Itu dia.

Jean menggeser kursinya, berjalan menuju pria itu, dan melebarkan kedua tangan untuk menghadangnya.

"Kau siapa?" tanya pria itu kebingungan.

Salah satu sisi bibir Jean tertarik membentuk sebuah senyuman sinis. Dengan kasar Ia melempar beberapa lembar foto yang sudah kusut.

"Kau tak harus tahu siapa aku. Yang harus kau lakukan hanyalah menghilang dari kehidupan wanita dalam foto ini secepat mungkin..." Jean menatap cukup lama pada pria itu lalu mengalihkan pandangannya pada tanda pengenal di saku pria tersebut. Namanya Pramudia.

Dan Jean tidak menghiraukan Silvi yang memanggil namanya berkali-kali saat Ia berlari keluar dari toko roti. Ia terus berlari dengan mata tertuju pada sosok wanita berwajah keibuan pada foto di dalam dompet yang tersenyum di sebelah ayahnya. Wanita yang sama yang berpose mesra dengan pria bernama Pramudia di foto yang dilemparkannya tadi. Tak menyadari sebuah mobil yang melaju cepat dan menghantam tubuhnya.

Jean memanggil nama itu lagi dan perlahan pandangannya mengabur.
“Ibu...”
Semuanya gelap sekarang.