Senin, 27 Februari 2023

Apa yang kamu lakukan saat sedang tidak baik-baik saja? (Sedang baca : jika kita tak pernah baik-baik saja)

Orang-orang di sekitarku bilang aku tidak menikmati hidupku, hidupku hanya berputar dalam satu poros yang sama.

Aku tidak ingin percaya, tapi seperti lagu yang kusukai dan kudengar terus-menerus, aku jadi hafal. Dan aku jadi ragu; apa benar aku benar-benar baik-baik saja? Dan hari ini pun berubah jadi hari yang tidak baik-baik saja.

Di hari aku sedang tidak baik-baik saja, suara orang-orang yang tertawa di luar sana sambil menonton serial tv dengan volume kencang membuat hatiku makin sakit. Suara chat yang masuk dan dering ponsel pun kubiarkan saja.

Aku benci orang-orang yang memuji-muji di masa terang, lalu hilang setelah menyerap habis cahaya yang ada. Yang bahkan jelas tau cahaya itu sudah redup, tapi masih memaksa mengais-ngais di celah, siapa tau ada sisa-sisa yang belum dia ambil.

Jadinya, kuhibur diriku dengan membuka plastik yang membungkus buku berjudul "jika kita tak pernah baik-baik saja". Kupasang musik, menaikkan volumenya sampai tak ada lagi yang bisa kudengar selain suara musik dan suara dalam pikiranku sendiri.

Begitu membingungkan saat aku ingin sendiri tapi tak benar-benar ingin sendiri, aku sering memilih musik sebagai teman. Dan juga buku.

Ini bukan buku karangan Alvi Syahrin yang pertama aku baca, karenanya aku tersenyum membaca sapaan si penulis buku yang tak pernah lupa melibatkan Tuhan dalam tulisannya. Katanya semua ini : aku yang tidak baik-baik saja, siapapun yang juga merasa begitu, semuanya adalah kehendak Tuhan semata. Semuanya ada alasannya.

Ajaibnya, sekarang aku merasa lebih baik. Apa karena musik yang aku dengar? Atau karena buku yang aku baca? Apa... Tuhan ada di sekitarku?

Pada akhirnya aku sadar, saat aku tidak baik-baik saja, mau aku merenung, tidur, atau melakukan sesuatu seperti mendengar musik dan membaca buku, juga jangan lupa berdoa, asalkan semua hal itu akhirnya membuat aku merasa lebih baik, yaaa... bagus jika keadaanku jadi lebih baik karena semua hal itu. Asal aku tidak terus larut dalam ketidak baik-baik saja itu.

Sulit dijelaskan, tapi asal aku mengerti apa yang aku tulis, aku akan kembali lagi ke tulisan ini saat aku merasa tidak baik-baik saja.

Rabu, 22 Februari 2023

Aku dan Malaikat (Habis baca: Dunia Cecilia)

Walau kutulis judulnya seperti itu, aku belum pernah bertemu malaikat. Takutnya, malaikat pertama yang aku temui adalah malaikat maut. Aku ingin mengetik kalau aku hanya bercanda, tapi aku saja tidak bisa tertawa saat membaca ulang kalimat itu. Lagipula tidak ada yang tau (kecuali Tuhan dan malaikat) kapan aku bertemu malaikat.

Haaaa.....



Buku ini kubeli karena judulnya ada nama Cecilia, nama baptisku. Sejak kecil aku diberi tahu bahwa nama baptisku mewakili nama malaikat pelindungku. Malaikat pelindung akan membisikkan hal-hal baik di telinga kita; waktu kecil kata-katanya terdengar keras namun makin dewasa suara itu makin lemah dan kemudian hilang.

Sementara dalam buku diceritakan bahwa malaikat melihat manusia seperti sesuatu yang ada dalam cermin. Hal ini membuatku berpikir, bukannya bayangan di cermin hanya bisa terlihat saat ada cahaya? Karena cermin adalah benda yang memantulkan cahaya. Aku, dalam diriku ada cahaya. Begitupun disebutkan di dalam buku, bunyinya :

"Kau juga meminjam cahaya Tuhan, Cecilia. Kau juga adalah cermin Tuhan."

Ini juga membuatku berpikir, Tuhan selalu digambarkan sebagai terang. Seberapa terangkah Tuhan sampai ia bisa meminjamkan cahaya-Nya kepada milyaran manusia? Rasanya tidak pantas kalau membiarkan cahaya itu redup, padahal sudah dipinjamkan secara cuma-cuma.

"Apa benar, kadang-kadang kamu begitu buruk sangka, sampai hatimu jadi gelap gulita?"

...

Sudah lama sejak buku ini diam dalam daftar buku yang ingin aku beli. Karena sekarang membeli buku sudah lebih mudah dengan adanya toko buku online, jadi aku suka membeli buku-buku sedikit demi sedikit. Syukurlah suatu hari Rakata -aplikasi untuk membaca buku yang diproduksi (??? benar ya diproduksi) dari penerbit Mizan- memberi diskon untuk buku digital dan Dunia Cecilia jadi salah satu buku yang masuk daftar diskon! Terima kasih, Rakata!

Dunia Cecilia adalah kisah bernuansa Natal, tentang seorang anak bernama Cecilia yang tengah sakit keras dan pertemuannya dengan malaikat bernama Ariel. Ariel berjanji ia akan menceritakan tentang surga, sebagai gantinya Cecilia harus gantian bercerita tentang manusia. Jadilah mereka bertualang di dunia sekitar Cecilia, di ruangan dalam rumah, berselancar di luar dengan kereta luncur terbaru, hal-hal yang mungkin saja sulit dilakukan Cecilia saat ini dan mungkin juga takkan sempat ia lakukan jika harus menunggu sampai ia sehat. Pada akhirnya, membaca dialog Cecilia dan Ariel jadi hiburan tersendiri bagiku.

Secara keseluruhan aku memberi buku ini nilai 4/5, aku tau akhir cerita kisah ini yang sedih adalah hal yang realistis tapi aku sedih karena harus menerima kenyataan itu. Tapi ini masuk ke dalam daftar buku yang akan kubaca sekali lagi karena ada banyak hal yang bisa aku kutip dan ingat. Yang paling aku suka adalah kalimat ini :

"Terlahir sama artinya dengan dianugerahi seluruh dunia ini."

Dunia tempat aku berada saat ini adalah anugerah yang diberikan Tuhan bahkan sejak aku lahir. Karena ini hadiah, aku akan menghargai itu, berusaha menghilangkan buruk sangka dalam hati, dan menggunakan cahaya yang dipinjamkan Tuhan.

Terima kasih, Tuhan... Aku menemukan buku yang bagus. :)



Senin, 20 Februari 2023

Kata-kata

 Malam ini saat aku lanjut membaca sebuah komik berjudul "Holy Idol" ada sebuah kalimat yang membuatku merenung dan memutuskan untuk menulis di sini.

"Di dunia ini, walau kita berbicara dalam bahasa yang sama, masih ada kata-kata yang tidak bisa kumengerti. Ini begitu sulit..."

Adalah wajar jika tidak tahu kata-kata terbaru atau kata yang jarang digunakan dalam hidup sehari-hari. Hanya saja saat  berada dalam keadaan tersebut, tidak mengerti dan merasa terasing, aku merasa kesulitan. Kadangkala malah apa makna yang ingin disampaikan dalam kata-kata juga bisa salah diartikan. Kenapa hal yang bisa menyatukan juga bisa jadi pemisah? Kata-kata.

Kata-kata, aku hanya ingin berkata-kata. Tidak apa-apakah kalau seseorang hanya ingin bicara omong kosong bukan untuk dikatakan pada orang lain? Kata-kata yang mengalir begitu saja, kata-kata yang muncul di kepala tanpa ada jeda, kata-kata yang aku ketik tanpa perlu menekan tombol hapus di keyboard... kata-kata yang tidak perlu aku pikirkan akan sampai ke mana. Kata-kata yang tidak perlu dijelaskan apa maknanya.

Senin, 09 Januari 2023

the loneliest girl in the universe : gadis yang sendirian dalam semesta yang begitu besar (review buku, ujungnya spoiler)

Aku hanya ingin menebak kenapa judul buku ini ditulis seluruhnya dengan huruf kecil; karena dalam semesta yang begitu besar bahkan kita manusia (dan huruf yang aku ketik ini juga) begitu kecil.

Buku ini aku beli, tentu saja, saat aku merasa kesepian. Tapi hanya kubiarkan saja di rak, padahal plastik pembungkusnya sudah kubuka. Kubaca bagian prolognya saja, pikirku, 'Oh, ini cerita tentang gadis yang berpetualang dengan kapal antariksa...'

Ternyata aku harus kecewa, kukira buku ini bisa mewakili bagian dari diriku. Kukembalikan buku itu di rak untuk diam di sana entah berapa lama. Kadang aku amati lembar depannya, benar-benar lupa akan prolog buku itu, lalu mulai mengasihani diriku dan kesepianku.

Hah, melankolis sekali.

Saat perjumpaan kami yang kedua kali, aku melihat bahwa halamannya sudah menguning dan diisi dengan titik-titik coklat yang sering kulihat pada buku tua. Mungkin buku ini, seperti tokoh utama dalam cerita yaitu Romy Silvers, sudah menunggu cukup lama ya di antara tumpukan buku? Jadi bagaimana aku harus menulis tentang isi buku ini?

"Sejak awal, perjalanan ini dilakukan  bukan karena mudah, melainkan karena penting." - Romy Silvers, (Gadis paling kesepian di alam semesta, hal. 99.)

Cerita ini dimulai 6817 hari (sekitar 18 tahun lebih) sejak peluncuran The Infinity pada tahun 2048. Romy Silvers, komandan pesawat antariksa tersebut masih remaja berumur 16 tahun, tapi tidak sama seperti remaja lainnya, ia hidup sendirian dalam pesawat antariksa. Tujuan pesawat ini yaitu menuju exoplanet HT 3485 c yang berpotensi sebagai Bumi kedua (Bumi II). Lima tahun lalu, awak pesawat tersebut terdiri dari 3 orang yaitu Romy dan orangtuanya, sampai akhirnya sebuah kejadian menyebabkan kedua orangtua Romy meninggal.

Lalu apakah Romy Silvers putus asa? Tentu saja. Ia baru 11 tahun saat orangtuanya meninggal dan ia harus mengambil alih posisi komandan. Tapi Romy kecil sudah diajari bagaimana memakai tangki oksigen di kondisi darurat bukannya lari meminta tolong pada orangtua. Apa di usia 16 tahun aku bisa selamat dari tabrakan asteroid? Hah... aku bukan Romy Silvers. Syukurlah tokoh utamanya Romy (padahal kasihan).

Bagaimana ia melalui hari-hari tersebut sampai di masa kini sebagai Romy yang berusia 16 tahun diceritakan setelahnya, bahkan penjelasan penting baru muncul ketika hanya tersisa beberapa helai kertas saja sebelum buku itu habis kubaca. :"D

Apa saat kalian remaja, kalian suka membaca fan fiksi? Ya.... saat ini istilahnya bergeser menjadi AU (Alternate Universe) tapi sebenarnya aku tidak tahu kenapa jadi begitu... ya, gitulah. Jadi apa kalian suka fan fiksi? Aku suka, dulu, sekarang tidak lagi (udah ga remaja, makanya tadi aku nanyeaa). Romy juga remaja yang suka membaca dan menulis fan fiksi. Berangkat dari kesukaannya akan serial Loch & Ness (hah... kalo dibaca lagi kenapa mirip Loneliness), ia suka menulis fan fiksi AU tentang tokoh utamanya yaitu Jayden dan Lyra. Saking sukanya Romy dengan tokoh Jayden, sebagai seorang gadis remaja ya dia sangat mengidolakan Jayden ini. Sosok idaman dia lahh... Lalu suatu hari, dalam kesendiriannya itu, seorang pria bernama Komandan J Shoreditch, pemimpin pesawat antariksa The Eternity yang dikirimkan untuk menyusul The Infinity, diperkenalkan di halaman 30.

Bab setelahnya berganti dari hitungan hari yang berlalu sejak peluncuran The Infinity menjadi hitungan mundur sampai The Eternity tiba di samping The Infinity untuk mengudara bersama. Awalnya, aku menganggap ini romantis. Jangan salahkan aku ya, aku hanya terbawa dengan e-mail antara Romy dan J; The Infinity dan The Eternity. Coba bayangkan ada seorang gadis yang tidak pernah menyentuh bumi, kemudian suatu hari muncul manusia yang kebetulan adalah lawan jenis yang mengaku bahwa umurnya tidak beda jauh dengan gadis tersebut. Belum lagi si lawan jenis ini menggambarkan dirinya seperti tokoh pria yang sangat dipuja sang gadis.

Apa bisa aku tidak ikutan berdebar karenanya? Hahhhhh. Aku bodoh, iya.

Aku ikut bahagia akan adanya potensi bahwa hubungan romantis akan terjadi antara Romy dan J. Lalu, aku mulai menghitung jarak. Jarak yang dibutuhkan bagi Romy dan J sampai e-mail mereka bisa terkirim dan diterima di dalam hari yang sama. Perlu diketahui bahwa awalnya e-mail yang masuk dari bumi dan juga The Eternity kepada The Infinity berasal dari 2 tahun sebelumnya. Jadi J mengirim pesan kepada Romy di masa depan, dan sebaliknya. Seiring cerita berjalan, waktu yang dibutuhkan untuk saling berkirim e-mail semakin singkat. Aku melonjak kegirangan saat akhirnya tanggal pada e-mail berubah menjadi tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Belum lagi akhirnya Romy bisa berkomunikasi secara real time (jeda beberapa detik) lewat telpon antar pesawat antariksa dengan J. Aku semakin girang, tidak siap akan rasa takut yang dialami Romy di halaman berikutnya.

Halaman berikutnya kubaca dengan tergesa-gesa, seperti Romy yang melarikan diri. Bab di halaman tersebut juga berganti menjadi hitungan jam setelah The Eternity menyusul The Infinity. Aku tidak menginginkan pertemuan yang seperti ini, mungkin Romy lebih tidak ingin. Hal yang aku pelajari setelah membaca buku ini yakni : Walau kamu berharap seorang penolong datang menghampirimu suatu saat, pada akhirnya kamu hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri terlebih dahulu. Jadi persiapkan dirimu. Karena bencana bisa saja datang dan berpura-pura sebagai berkat saat kamu tidak waspada.

Membaca buku ini membuat perasaanku naik-turun. Naik, gembira, saat kabar tentang The Eternity, Komandan J, muncul. Aku merasa ada harapan bahwa Romy tidak akan sendiri lagi, ia juga bisa merasakan jatuh cinta, dan aku bersemangat menunggu hari dimana Romy dan J akan bertemu. Tapi aku tidak mengira bahwa perasaan itu akan turun; rasa takut, curiga, tidak percaya muncul saat hari itu tiba. Kisah Romy dan J (hahhh Romy... Romeo, J... Juliet, hah, mindblown), mengingatkanku pada kalimat yang pernah aku baca. Ada orang-orang yang pernah menanyakan kira-kira seperti ini, "Bagamana jadinya jika kamu adalah pria/wanita terakhir di muka bumi bersama lawan jenis lain? Apa kamu akan memilih dia sebagai pasanganmu?" Memikirkan hal ini setelah membaca cerita tadi membuatku ingin berkata, 'tidak.' Memang siapa yang benar-benar bisa meyakinkanku bahwa benar hanya kami yang tersisa di alam semesta yang besar ini, hah?

Pada akhirnya aku lega bisa selesai membaca buku ini. Akhir cerita ini bisa dibilang cukup memuaskan dengan open ending, jadinya aku bisa membayangkan sendiri akhir yang aku inginkan. Tapi seperti kalimat pertama yang aku kutip dari buku ini, bukannya yang penting bukan akhirnya namun perjalanannya? Itu tidak mudah, perjalanan.

Masih banyak yang ingin aku tulis. Saat aku membaca tulisan ini tepat setelah postingan ini kumasukkan ke blog, aku melihat judul blog milikku sendiri; My Own Galaxy. Aku merasa sendirian dalam galaksi yang aku buat ini, tapi aku bersyukur karena di bumi tempat aku hidup sebenarnya yang terjadi tidak seperti itu. Aku harap, Romy-pun bisa mencapai Bumi II dan hidup di sana. Aku harap Romy tidak sendirian lagi.

Catatan: Nomenklatur exoplanet ini menarik sekali! Ada banyak exoplanet di luar tata surya yang sudah ditemukan, tapi aku ga nemu nama Planet di buku ini. :"D

Jumat, 06 Januari 2023

2023 : Challenge nabung yuk!

Padahal di tahun 2021, aku janji mau rajin nulis di blog. Bah... Janji tinggallah janji. 👀

Jadi, berhubung tabungan aku di tahun 2022 sudah rampung, jadi aku mau mulai nabung lagi tapi dengan nominal lebih besar. Iya kan... Udah 100% PNS🙆 masa tabungannya ga naik? Makanya aku nyari metode nabung lain yang lebih bervariasi aja. Kebetulan temenku Cindong pernah nyaranin metode isi-isi duit setiap hari gitu ala-ala pinterest. Rencananya, tahun ini aku mau nabung sebesar 25 juta. 

Dalam setahun ada 365 hari, jadi setiap hari aku harus nabung sekitar 69.000 atau 483.000 setiap minggu. Artinya, di bulan Januari aku harus menabung sebanyak 2.139.000.

Kira-kira bisa terkumpul tidak yaaa... Aminin aja sambil dijalani, ya?

Ayo nabung!

Bzzbzbztzgzt

Tapi setelah aku itung lagi, itungan kayak gini ribet :((( Jadi aku bagi aja per-hari ada yang 50.000, ada 100.000 selama 365 hari.


Dan jadilah seperti itu rencana tabungan 2023 versi aku. :"D

Ayo nabuuung!

Minggu, 30 Januari 2022

Aku ingin makan seblak.

Akhir-akhir ini seblak jadi makanan yang aku sukai. Alasannya karena selain harganya murah dan enak, ada kesenangan sendiri bagiku saat makan seblak yang kaya bumbu dan pedas. Di ujung hari yang melelahkan dan membuat stres, aku sering menemukan diriku yang ingin makan seblak. Seperti Dejavu. Tapi aku terus mengingatkan diri agar tidak sering makan itu karena takut terkena kolesterol akibat konsumsi minyak berlebih... Terlalu banyak makan yang tidak sehat, aku takut terserang penyakit.

Oke lalu tulisan ini maksudnya apa? Apa aku cuma mau curhat ingin makan seblak? Ada benarnya sih... walau tujuan awalku sebenarnya ingin menulis tentang buku yang baru saja selesai aku baca. Judulnya, "I want to Die but I want to Eat Tteokpokki."

 


"Aku ingin mati, tapi aku ingin makan Tteokpokki," dari judul tersebut aku melihat dua kata yang berlawanan yaitu 'mati' dan 'makan'. Aku tidak percaya zombie, jadi menurutku orang yang sudah mati tidak bisa makan lagi. Yah... Aku belum pernah mati sih, jadi jangan terlalu percaya dengan apa yang aku tulis (wkwkwwkk). Tapi pernahkah kamu berpikir ingin mati? Di masa sekarang saat pandemi masih terjadi dan ada saja manusia yang mati setiap hari, membuatku tidak bisa dengan mudah mengungkapkan bahwa aku ingin mati walau hanya di media sosial. Bahkan berkata jujur saja menakutkan, orang-orang di balik keyboard bisa dengan mudah menyerangku dengan kata-kata yang mereka pikir benar... Hah, tapi pernahkah aku berpikir ingin mati?

Tentu pernah, tapi sekarang aku tidak lagi berpikiran ingin mati karena suatu hari aku juga akan mati. Lalu, apakah aku harus hidup dengan berpikir bahwa suatu saat aku akan mati?

Kenapa dari tadi aku hanya memusatkan pikiran pada kata 'mati' padahal aku masih bisa lanjut 'makan'.

Jujur (oke ini jujur) saat aku membaca judul buku ini, aku merasa bahwa ini adalah judul yang konyol. Bukannya Tteokpokki bisa mudah didapat di Korea Selatan sana? Oke lagi-lagi jangan percaya apa yang aku katakan, soalnya aku belum pernah ke Korea Selatan (wkwkwkwwkk). Tapi aku menyesal setelah memiliki pikiran seperti itu karena layaknya masuk ke kolam berisi air, aku hanya berada di bagian dangkalnya saja. Jika aku masuk ke bagian lebih dalam dan berpikir lebih baik, aku sadar bahwa (lagi-lagi kata) mati bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Karena meremehkan kematian sama halnya dengan meremehkan kehidupan.

Jadi, aku memutuskan untuk menghargai judul buku ini dan isi di dalamnya.

Mulai dari cover, aku sangat suka warna ungu yang menjadi warna utama buku ini. Warna yang cantik. Lalu ada seorang perempuan yang rebahan menyamping yang bikin aku kepikiran, 'apa dia lagi overthinking?' Oh, mungkin dia lagi mikir mau mati tapi masih pengen makan Tteokpokki... Hah, ngawur. Tapi ada kalimat tanya di bawah gambar si perempuan yang rebahan tadi, hal yang baru aku perhatikan bahkan setelah selesai membaca buku ini.

"Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?"

Tuh kan... Bukan aku saja yang berpikir kalau judul buku ini konyol. Bahkan penulisnya saja begitu🥲 Eh tapi ga apa-apa, kan dia mengkritik diri sendiri (???). Aku nggak merhatiin tulisan ini soalnya (mulai deh alasan) aku keburu seneng ngeliat buku ini di-review sama dokter kesukaan aku, dr. Jiemi Ardian, Sp. KJ. Aku pikir, 'Wahhhh... dokter Jiemi udah baca buku ini! Aku harus baca!' Alasan yang simple ya kan? Semoga hal-hal sederhana seperti ini bisa mengarahkan aku ke hal-hal baik lainnya.

Buku ini ditulis oleh Baek Sehee dan diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Haru. Hal lain yang aku suka dari buku ini yaitu halamannya yang tidak selalu menggunakan kertas putih, tapi selang-seling dengan warna merah. Apa itu mewakili warna Tteokpokki yang pedas? Di cover bagian belakang aku juga bisa menemukan gambar piring berisi sesuatu berwarna merah, mungkin itu Tteokpokki.

Isi buku ini sebagian besar menuliskan tentang proses konsultasi antara si penulis dengan psikiater yang ia datangi secara rutin. Awalnya penulis mencatat apa yang ia dengar dari psikiater setelah sesi konsultasi, namun ia beralih dengan cara merekam sehingga bisa dikatakan bahwa apa yang ditulis dalam buku ini memuat percakapan yang lengkap antar si penulis dan psikiater. Hal ini membuat aku sebagai pembaca bisa mendapat sedikit ilmu tentang kelainan mental apa yang dialami penulis, apa penyebabnya, dan bagaimana mengatasinya. Kadang aku merasa pernah mengalami kondisi yang sama, tapi lebih banyak aku merasa kayak, "Kok si penulis bisa mikir gitu sih?" Tapi karena aku tahu bahwa penyakit hanya bisa didiagnosa dan disembuhkan oleh ahlinya, maka aku tidak ingin mendiagnosa diri sendiri dari tulisan yang aku baca. Kalimat dari si Psikiater di halaman 152 menurut aku sesuai dengan pernyataanku ini.

"Itu karena anda baru saja mendengar penjelasan tentang hal itu maka anda merasa sepertinya hal itu cocok dengan gejala yang anda rasakan. Itu adalah salah satu jenis delusi."

Karena buku ini belum selesai dan aku belum membaca bagian keduanya, aku juga tidak tahu bagaimana harusnya aku menyelesaikan tulisan ini. Tapi yang aku dapatkan dari buku ini yaitu... bahwa sesuatu yang sederhana seperti makan Tteokpokki bisa jadi alasan penting untuk terus hidup. Tentu aku punya alasan untuk hidup selain ingin makan seblak, dan aku bersyukur karena aku punya banyak alasan. Aku ingin hidup lebih lama bersama keluarga, aku ingin bekerja bersama teman-temanku, aku ingin bertemu lagi dengan teman-teman lamaku setelah pandemi usai, aku ingin menemukan teman hidup, aku ingin membaca lebih banyak buku, aku ingin pergi ke tempat baru! Edinburgh! Aku tidak tahu alasan apa yang dimiliki orang lain, tapi aku harap kamu bisa berbahagia menjalani hidup.

"Tidak apa, orang yang tidak memiliki bayangan tidak bisa memahami cahaya."

Akhirnya, kalimat di bagian penutup buku ini adalah kalimat yang benar-benar menyentuhku. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan, tapi aku paham dengan kalimat di atas. Dan ajaibnya, aku merasa lebih baik. Buku ini, bukan hanya untuk penulis (halaman 190, paragraf terakhir), tapi juga untuk aku; berisi harapan. Dan seperti apa yang aku baca dari artikel Greater Good ;

“If you lose hope, somehow you lose the vitality that keeps moving, you lose that courage to be, that quality that helps you go on in spite of it all.”―Dr. Martin Luther King Jr.

("Jika Anda kehilangan harapan, entah bagaimana Anda kehilangan vitalitas untuk terus bergerak, Anda kehilangan keberanian, kualitas yang membantu Anda melanjutkan terlepas dari itu semua." Dr. Martin Luther King Jr.)

selama harapan masih ada, maka aku masih bisa melanjutkan hidup. Dan harapan tidak cukup tanpa keberanian.


Sabtu, 15 Januari 2022

Daftar Buku-buku (belom fix)

A

Adakah Orang Sepertiku

Ada Nama yang Abadi di Hati tapi tak bisa Dinikahi

A Gentle Reminder

Aku bukannya Menyerah hanya sedang Lelah

Aku hendak Pindah Rumah

Alasan untuk tetap Hidup

Apa yang Kita Pikirkan ketika Kita Sendirian

Atomic Habits

B

Baca Buku ini saat Engkau Gagal

Baca Buku ini saat Engkau ingin Berubah

Baca Buku ini saat Engkau Lelah

Baca Buku ini saat Engkau Patah Hati

Bejana Pikiran

Berani Bahagia

Botchan

C

D

Dallergut Toko Penjual Mimpi

Dare! A Book for Those who Dare to Change Their Lives

Dear Friends with Love

Duduk dulu

E

Ekspektasi Secukupnya Berusaha Sebanyaknya

F

Failure

G

Garis Waktu

Gratitude

Going Offline

H

Heaven on Earth

I

Insecurity is My Middle Name

I see you like a flower

I want to Die but I want to Eat Tteokpokki

I want to Die but I want to Eat Tteokpokki 2

J

Jangan Membuat Masalah Kecil jadi Besar

Jika Kita tak pernah baik-baik saja

Jika Kita tak pernah jadi apa-apa

Jika Kita tak pernah Jatuh Cinta

Jingga Jenaka

Jiwa Putih

K

Karena Puisi itu Indah

Kim Jiyeong Lahir Tahun 1982

Kupikir Segalanya akan Beres saat Aku Dewasa

L

Laut Bercerita

Loading Jodoh!

Love for Imperfect Things

Love Letters for The Future You

Love Spelled in Poetry

M

Maaf Tuhan, Aku hampir Menyerah

Manusia yang tidak Kedaluwarsa

Melepas Ranting Hati

Melihat Api Bekerja

Mengapa Luka tidak Memaafkan Pisau

Menghardik Gerimis

Mi saja yang Instan, Usaha jangan!

My Inner Sky

N

Never get Angry again

O

Orang-orang Rangkas Bitung

P

Perihal Cinta Kita Semua Pemula

Pick Me Up

Please Look after Mom

Q

R

S

Saman's Blood Note

Sebelum Sendiri

Sebuah Usaha Memeluk Kedamaian

Segala-galanya Ambyar

Selalu Ada Pesan untuk saling Menguatkan

Self-Acceptance

Siapa yang Datang ke Pemakamanku saat Aku Mati nanti?

Sunyi adalah Minuman Keras

T

Tak mungkin Membuat Semua Orang Senang

Tentang Semua yang ada di Bumi

The Little Book of Life Hacks

The Loneliest Girl in The Universe

The Magic Library

The Midnight Library

The Night Serpent

The Strength in Our Scars

Tidak Ada New York Hari Ini

To Heal is to Accept

Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

U

Unfu*k Yourself

Untuk Matamu

V

W

Waktu untuk tidak Menikah

What's so wrong about your life

XYZ