Kamis, 24 Agustus 2023

Katanya Manusia Punya Dua Sisi

Aku menemukan opini ini di X, 'Manusia punya dua sisi'. Opini yang dikeluarkan setelah banyak orang menentang opini si pemilik akun X yang sebelumnya. Biasa... postingan mengandung garam. Rasanya ingin mengatakan ketidaksetujuan atas hal tersebut, yang kutau manusia punya banyak sisi. Bahkan cara manusia melihat dan menilai sesuatu pun dari berbagai sisi dan dengan segala kemungkinan yang ada.

Tapi aku sadar setiap manusia berhak memiliki opininya masing-masing. Lagipula (aku rasa saat itu) opiniku tidak ada manfaatnya, hanya akan menambah bensin pada bara api. Hanya saja aku perlu tempat untuk mengutarakan isi pikiranku, makanya aku kembali menulis di sini.

Oh ya, akhir-akhir ini berat badanku bertambah. Apakah ini membuatku terlihat membulat? Lalu... berapa banyak sisi yang dimiliki sesuatu yang bulat?

Jumat, 04 Agustus 2023

Malam selanjutnya dimana aku berpikir terlalu banyak

Tapi tidak ada yang bisa aku utarakan. Bahkan saat memutuskan untuk mengetik di sini, dengan harapan agar perasaanku lega, aku tidak bisa mengetik isi pikiranku. Aku berpikir terlalu banyak, termasuk apa yang akan terjadi kalau aku menulis isi pikiranku.

Yang harus aku syukuri adalah hariku tidak seburuk itu. Bahkan saat aku mulai ingin menangis, tangisanku terhenti karena ada notifikasi pesan. Sebuah pesan random dari sahabatku Gaby, bertanya tentang kabar teman sekampus kami yang aku sendiri tidak tau apa kabarnya. Itu seperti cara Tuhan mengingatkanku bahwa aku tidak sendiri... aku punya sahabat kok.

Semuanya tidak baik-baik saja, tapi aku masih sehat dan hidup dalam kenyamanan. Bulan depan aku ulang tahun, Tuhan. Tolong beri kedamaian dan kesehatan dalam keluarga kami...

Sabtu, 03 Juni 2023

Laut: Pilih Jatuh atau Lompat? (Habis baca : The Girl who Fell beneath The Sea)

"Semua pengantin dewa laut terhubung dengannya lewat benang merah takdir,

tapi cinta itu tidak bisa dibeli atau didoakan...

Cinta itu harus diberikan tanpa paksaan."


     Kisah ini tentang Mina, gadis yang memutuskan untuk melompat ke dalam laut menggantikan kekasih kakaknya yang seharusnya menjadi korban selanjutnya. Kenapa aku menyebut kata korban? Karena gadis-gadis itu (iya mereka ada banyak, dipilih berdasar anggapan kalau mereka yang terbaik di antara gadis seumurannya) sepertinya terlihat menjatuhkan diri tapi menurutku tidak. Mereka jatuh, didorong oleh tangan-tangan yang mengantar mereka. Percaya bahwa pengorbanan seorang gadis yang mereka sebut pengantin dewa laut bisa meredakan amarah sang dewa. Lalu bagaimana kalau pengantin yang mereka pilih tertukar?

     Ajaibnya atau sangat disayangkan? Walau bukan jadi yang terpilih, Mina menemukan benang merah takdir di tangannya. Lurus memanjang menuju kediaman dewa laut. Tapi Mina adalah gadis yang percaya pada keyakinannya sendiri, ia sudah menentang apa yang orang lain percayai dengan 'melompat' menggantikan yang 'jatuh'. Tidak, aku tidak bermaksud merendahkan mereka yang jatuh. Yang ingin aku sampaikan adalah betapa baiknya apabila ada satu orang saja yang bisa membuktikan bahwa keyakinan mayoritas orang-orang itu salah, dan tidak ada yang akan jadi korban. Demi membuktikannya, Mina mengikuti benang merah takdir, hanya untuk diputuskan oleh pengawal yang menghadang di kediaman dewa laut.

     Sungguh, cerita sejak Mina melompat hingga ia sampai ke istana dewa laut itu tidak bisa aku cerna dalam pikiran. Bukannya berimajinasi, aku malah pusing, bingung, asing. Apa karena mereka di dalam laut? Maksudnya... mungkin mereka baik-baik saja dalam cerita (ya aku ngga yakin), tapi aku yang membaca mungkin masih bergerak panik karena tenggelam.

     Lantas saat benang merah itu putus, lalu terjalin lagi (awas spoiler!) aku jadi terombang-ambing (hahahahahahah). Tapi yang aku ingat, dalam cerita ini kata 'benang merah' disertai oleh 'takdir'. Aku tidak ingat siapa yang bilang ini dalam cerita tapi katanya takdir itu jangan dikejar, biarkan takdir yang mengejarmu. Dan ternyata (awas spoiler!) takdir itu tidak ke mana-mana. Andai saja kekacauan tidak terjadi dan ular laut tidak muncul di saat yang tidak tepat yah sepertinya Mina bisa sadar lebih cepat akan takdir itu.

     Kemudian ada halaman yang membuat aku menangis tersedu-sedu. Ya, cerita tentang keluarga sering membuatku menangis. Mina juga menangis. Bagian ini membuatku berpikir, "Apa mereka yang pergi lebih dahulu melihat kita dari surga?" atau memilih menanti di dunia arwah agar bisa pergi bersama ke surga... Semoga kita semua menuju surga...

     Setelah penjelasan panjang di atas, aku bersyukur menyelesaikan buku ini dan tidak berhenti sampai bagian Mina melompat dalam air. :"D Karena artinya aku seperti hanya tenggelam mengikuti Mina dan tidak berbuat apa-apa. Aku ingin memberi nilai 3,7 untuk buku ini. Sayangnya aku tidak tau apa itu mungkin di aplikasi goodreads. Tapi nilai 4 juga... Ngga pas. Jadi ratingku di sini adalah 3 dari 5.

Senin, 17 April 2023

Update Challenge Menabung 2023

Aku bersyukur karena aku bisa merampungkan challenge menabung untuk triwulan pertama di 2023 (bahkan April juga sudah). Semua itu karena lindungan Tuhan dan keluarga sehingga kesehatan pikiran dan tubuh aku terjaga dan bisa nabung sampe sejauh ini. Aku sangat bangga!


Walau ternyata celengan emosiku akhirnya ga jalan (wkwkwkk) tapi setidaknya ada perubahan di cara budgeting bulanan aku (ke arah yang lebih baik ya). Emang kayaknya aku lebih bisa budgeting di blu aja, jangan pegang tunai nanti dipake ke yang ga penting😅 Oiya, budgeting di blu juga ada fitur auto-debit harian/mingguan/bulanan. Untuk sekarang, caraku nyimpen duit adalah taroh dulu setengah dari jumlah yang ingin dicapai terus sisanya tinggal pake auto-debit harian/mingguan. Aku memilih cara ini biar nantinya masih ada sisa duit di rekening kalau-kalau ada kebutuhan tak terduga.


Emang sekarang ada berbagai aplikasi bank digital dengan bunga yang lebih tinggi dan fitur lebih lengkap, tapi saat ini aku udah merasa puas dengan aplikasi blu ini. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih teratur budgeting-nya ya.



Senin, 06 Maret 2023

Celengan Emosi

Tulisan ini ditulis setelah menonton drama Netflix, "Love to Hate You". Ya memang engga nyambung sama judul postingan dan apa yang bakal aku lakukan setelahnya terinspirasi dari kebiasaan teman dari pemeran utama wanita, Naeun, yang selalu menabung tiap kali dia ngerasa marah atau emosi. Jadi pelampiasan amarahnya itu ya menabung. Sungguh bermanfaat sekali ya :"D Makanya aku meniru kebiasaan ini, belum berani naro nominal banyak-banyak. Takutnya malah marah-marah terus apa sengaja marah-marah (?) biar tabungannya jadi banyak (sungguh hal yang aneh untuk dicemaskan tapi bisa aja kejadian).


Dimulai dari Rp. 10.000 soalnya pagi-pagi udah marah-marah. :") Semoga engga banyak marah-marahnya biar engga kena denda.

Senin, 27 Februari 2023

Apa yang kamu lakukan saat sedang tidak baik-baik saja? (Sedang baca : jika kita tak pernah baik-baik saja)

Orang-orang di sekitarku bilang aku tidak menikmati hidupku, hidupku hanya berputar dalam satu poros yang sama.

Aku tidak ingin percaya, tapi seperti lagu yang kusukai dan kudengar terus-menerus, aku jadi hafal. Dan aku jadi ragu; apa benar aku benar-benar baik-baik saja? Dan hari ini pun berubah jadi hari yang tidak baik-baik saja.

Di hari aku sedang tidak baik-baik saja, suara orang-orang yang tertawa di luar sana sambil menonton serial tv dengan volume kencang membuat hatiku makin sakit. Suara chat yang masuk dan dering ponsel pun kubiarkan saja.

Aku benci orang-orang yang memuji-muji di masa terang, lalu hilang setelah menyerap habis cahaya yang ada. Yang bahkan jelas tau cahaya itu sudah redup, tapi masih memaksa mengais-ngais di celah, siapa tau ada sisa-sisa yang belum dia ambil.

Jadinya, kuhibur diriku dengan membuka plastik yang membungkus buku berjudul "jika kita tak pernah baik-baik saja". Kupasang musik, menaikkan volumenya sampai tak ada lagi yang bisa kudengar selain suara musik dan suara dalam pikiranku sendiri.

Begitu membingungkan saat aku ingin sendiri tapi tak benar-benar ingin sendiri, aku sering memilih musik sebagai teman. Dan juga buku.

Ini bukan buku karangan Alvi Syahrin yang pertama aku baca, karenanya aku tersenyum membaca sapaan si penulis buku yang tak pernah lupa melibatkan Tuhan dalam tulisannya. Katanya semua ini : aku yang tidak baik-baik saja, siapapun yang juga merasa begitu, semuanya adalah kehendak Tuhan semata. Semuanya ada alasannya.

Ajaibnya, sekarang aku merasa lebih baik. Apa karena musik yang aku dengar? Atau karena buku yang aku baca? Apa... Tuhan ada di sekitarku?

Pada akhirnya aku sadar, saat aku tidak baik-baik saja, mau aku merenung, tidur, atau melakukan sesuatu seperti mendengar musik dan membaca buku, juga jangan lupa berdoa, asalkan semua hal itu akhirnya membuat aku merasa lebih baik, yaaa... bagus jika keadaanku jadi lebih baik karena semua hal itu. Asal aku tidak terus larut dalam ketidak baik-baik saja itu.

Sulit dijelaskan, tapi asal aku mengerti apa yang aku tulis, aku akan kembali lagi ke tulisan ini saat aku merasa tidak baik-baik saja.

Rabu, 22 Februari 2023

Aku dan Malaikat (Habis baca: Dunia Cecilia)

Walau kutulis judulnya seperti itu, aku belum pernah bertemu malaikat. Takutnya, malaikat pertama yang aku temui adalah malaikat maut. Aku ingin mengetik kalau aku hanya bercanda, tapi aku saja tidak bisa tertawa saat membaca ulang kalimat itu. Lagipula tidak ada yang tau (kecuali Tuhan dan malaikat) kapan aku bertemu malaikat.

Haaaa.....



Buku ini kubeli karena judulnya ada nama Cecilia, nama baptisku. Sejak kecil aku diberi tahu bahwa nama baptisku mewakili nama malaikat pelindungku. Malaikat pelindung akan membisikkan hal-hal baik di telinga kita; waktu kecil kata-katanya terdengar keras namun makin dewasa suara itu makin lemah dan kemudian hilang.

Sementara dalam buku diceritakan bahwa malaikat melihat manusia seperti sesuatu yang ada dalam cermin. Hal ini membuatku berpikir, bukannya bayangan di cermin hanya bisa terlihat saat ada cahaya? Karena cermin adalah benda yang memantulkan cahaya. Aku, dalam diriku ada cahaya. Begitupun disebutkan di dalam buku, bunyinya :

"Kau juga meminjam cahaya Tuhan, Cecilia. Kau juga adalah cermin Tuhan."

Ini juga membuatku berpikir, Tuhan selalu digambarkan sebagai terang. Seberapa terangkah Tuhan sampai ia bisa meminjamkan cahaya-Nya kepada milyaran manusia? Rasanya tidak pantas kalau membiarkan cahaya itu redup, padahal sudah dipinjamkan secara cuma-cuma.

"Apa benar, kadang-kadang kamu begitu buruk sangka, sampai hatimu jadi gelap gulita?"

...

Sudah lama sejak buku ini diam dalam daftar buku yang ingin aku beli. Karena sekarang membeli buku sudah lebih mudah dengan adanya toko buku online, jadi aku suka membeli buku-buku sedikit demi sedikit. Syukurlah suatu hari Rakata -aplikasi untuk membaca buku yang diproduksi (??? benar ya diproduksi) dari penerbit Mizan- memberi diskon untuk buku digital dan Dunia Cecilia jadi salah satu buku yang masuk daftar diskon! Terima kasih, Rakata!

Dunia Cecilia adalah kisah bernuansa Natal, tentang seorang anak bernama Cecilia yang tengah sakit keras dan pertemuannya dengan malaikat bernama Ariel. Ariel berjanji ia akan menceritakan tentang surga, sebagai gantinya Cecilia harus gantian bercerita tentang manusia. Jadilah mereka bertualang di dunia sekitar Cecilia, di ruangan dalam rumah, berselancar di luar dengan kereta luncur terbaru, hal-hal yang mungkin saja sulit dilakukan Cecilia saat ini dan mungkin juga takkan sempat ia lakukan jika harus menunggu sampai ia sehat. Pada akhirnya, membaca dialog Cecilia dan Ariel jadi hiburan tersendiri bagiku.

Secara keseluruhan aku memberi buku ini nilai 4/5, aku tau akhir cerita kisah ini yang sedih adalah hal yang realistis tapi aku sedih karena harus menerima kenyataan itu. Tapi ini masuk ke dalam daftar buku yang akan kubaca sekali lagi karena ada banyak hal yang bisa aku kutip dan ingat. Yang paling aku suka adalah kalimat ini :

"Terlahir sama artinya dengan dianugerahi seluruh dunia ini."

Dunia tempat aku berada saat ini adalah anugerah yang diberikan Tuhan bahkan sejak aku lahir. Karena ini hadiah, aku akan menghargai itu, berusaha menghilangkan buruk sangka dalam hati, dan menggunakan cahaya yang dipinjamkan Tuhan.

Terima kasih, Tuhan... Aku menemukan buku yang bagus. :)